Kita hidup pada era globalisasi, sehingga kita bisa mendapatkan informasi dengan cepat dan mudah. Tak dapat dipungkiri juga, bahwa manusia pada zaman ini hidup pada dua dunia nyata dan maya. Dua dunia ini lah yang seperti pisau tajam, tergantung ditangan siapa pisau itu digunakan. Jika berada ditangan pembunuh maka pisau ini bisa menjadi alat yang sangat berbahaya untuk membunuh orang lain. Sebaliknya jika berada ditangan yang tepat pisau ini bisa menjadi alat yang memberikan banyak manfaat tidak hanya bagi penggunanya, namun juga untuk orang lain.
Saat ini, hampir semua orang memiliki sosial media. Bahkan, tak jarang kita dapati seorang bayi yang sejak dia lahir sudah punya akun social media, foto dan namanya sudah beredar disana, meski yang mengoperasikan akun tsb adalah orang tuanya. Dalam social media dunia yang dibangun adalah dunia ideal menurut si empunya, dunia yang kadang tak sesuai dengan kenyataannya. Saat ini, social media tidak hanya sebagai sarana untuk berkomunikasi, tetapi juga sebagai ajang pamer dan menyebarkan pemikiran dan kepentingannya. Banyak sekali akun akun yang berisi propaganda, penyebar berita hoax, gosip, dan juga joke yang tidak senonoh. Sayangnya, akun-akun yang berisi muatan hiburan yang bila ditimbang manfaatnya tidak lebih banyak dari keburukan yang didapatkan malah lebih banyak followers atau pengikutnya. Secara tidak lansung ini menjadi cerminan bagi kita bahwa beginilah mentalitas masyarakat yang ada. masyarakat yang mudah dipropaganda, masyarakat yang haus akan hiburan yang ternyata hiburan tersebut tak memberikan manfaat bagi dirinya, selain hanya tertawa atau berita terpanas dan terhits saat ini. Hingga aktivitas-aktivitas yang dianggap "Hits" pun mulai viral dan banyak yang mengikuti, mungkin kita tidak asing lagi dengan ice buket challenge, foto nyium ketikak pacar, mannequin challenge dan lain sebagainya. Yang bila kita fikirkan lagi, apa manfaatnya?
Lagi-lagi, bila kita tidak bijak dalam penggunaan sosial media akan berujung pada kebodohan dan keburukan yang lebih besar. Tidak semua hal harus kita share dan bagikan ke khalayak ramai. Beberapa waktu yang lalu saya mendapati salah seorag publik figure yang marah-marah dan berkata kasar karena mobilnya diderek paksa oleh dishub karena parkir sembarangan. Dan mungkin sebelumnya sempat viral juga publik figure yang menistakan agama, dengan perkataanya yang sering dinilai kasar. Mungkin dia bisa berkata "suka-suka gue akun-akun gue" tapi tidakkah dia berfikir lebih matang dan panjang, apa yang akan terjadi bila saya melakukan ini? Apakah saya sebagai publik figure yang dijadikan cermin dan contoh bagi orang lain pantas melakukan ini?
Lantas bagaimana seharusnya kita menggunakan sosial media? semua tergantung bagaimana individu tersebut menggunakannya. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dalam social media yang bisa memberikan manfaat bagi kita. Contoh hal terkecil, social media bisa sebagai tempat kita mengarsipkan foto-foto dan kejadian yang kita alami. bahkan kita bisa menyalurkan hobi menulis, bernyanyi, fotografi dan juga sebagai sarana kita menebar dan mengajak pada kebaikan. social media dan smartphone adalah alat, kitalah penggunanya. Pertnyaanya, apakah kita yang menggunakan alat atau malah diperalat?
Saat ini, hampir semua orang memiliki sosial media. Bahkan, tak jarang kita dapati seorang bayi yang sejak dia lahir sudah punya akun social media, foto dan namanya sudah beredar disana, meski yang mengoperasikan akun tsb adalah orang tuanya. Dalam social media dunia yang dibangun adalah dunia ideal menurut si empunya, dunia yang kadang tak sesuai dengan kenyataannya. Saat ini, social media tidak hanya sebagai sarana untuk berkomunikasi, tetapi juga sebagai ajang pamer dan menyebarkan pemikiran dan kepentingannya. Banyak sekali akun akun yang berisi propaganda, penyebar berita hoax, gosip, dan juga joke yang tidak senonoh. Sayangnya, akun-akun yang berisi muatan hiburan yang bila ditimbang manfaatnya tidak lebih banyak dari keburukan yang didapatkan malah lebih banyak followers atau pengikutnya. Secara tidak lansung ini menjadi cerminan bagi kita bahwa beginilah mentalitas masyarakat yang ada. masyarakat yang mudah dipropaganda, masyarakat yang haus akan hiburan yang ternyata hiburan tersebut tak memberikan manfaat bagi dirinya, selain hanya tertawa atau berita terpanas dan terhits saat ini. Hingga aktivitas-aktivitas yang dianggap "Hits" pun mulai viral dan banyak yang mengikuti, mungkin kita tidak asing lagi dengan ice buket challenge, foto nyium ketikak pacar, mannequin challenge dan lain sebagainya. Yang bila kita fikirkan lagi, apa manfaatnya?
Lagi-lagi, bila kita tidak bijak dalam penggunaan sosial media akan berujung pada kebodohan dan keburukan yang lebih besar. Tidak semua hal harus kita share dan bagikan ke khalayak ramai. Beberapa waktu yang lalu saya mendapati salah seorag publik figure yang marah-marah dan berkata kasar karena mobilnya diderek paksa oleh dishub karena parkir sembarangan. Dan mungkin sebelumnya sempat viral juga publik figure yang menistakan agama, dengan perkataanya yang sering dinilai kasar. Mungkin dia bisa berkata "suka-suka gue akun-akun gue" tapi tidakkah dia berfikir lebih matang dan panjang, apa yang akan terjadi bila saya melakukan ini? Apakah saya sebagai publik figure yang dijadikan cermin dan contoh bagi orang lain pantas melakukan ini?
Lantas bagaimana seharusnya kita menggunakan sosial media? semua tergantung bagaimana individu tersebut menggunakannya. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dalam social media yang bisa memberikan manfaat bagi kita. Contoh hal terkecil, social media bisa sebagai tempat kita mengarsipkan foto-foto dan kejadian yang kita alami. bahkan kita bisa menyalurkan hobi menulis, bernyanyi, fotografi dan juga sebagai sarana kita menebar dan mengajak pada kebaikan. social media dan smartphone adalah alat, kitalah penggunanya. Pertnyaanya, apakah kita yang menggunakan alat atau malah diperalat?