Ansos dari dunia maya dan dunia nyata. Saya pernah melakukan itu. So, apa yang kamu lakuin Fa? Nothing, cause doing nothing is actually doing a thing. hehehe.. Yeah I just lot of thinking, bahasa kerennya merenung. Dan sebenarnya, ketika saya hanya banyak berfikir saja tanpa bertindak itu juga bukan suatu hal seharusnya karena sebagus apapun suatu gagasan tidak akan menjadi bagus jika tidak dilakukan, katanya.
Lalu bagaimana orang seperti saya, bisa menjadi anti sosial? Entahlah mungkin ini beberapa dari sekian sebab yang menurut saya patut dijadikan alasan, dan juga menjadi bahan perenungan saya.
Instagram. Ada apa dengan account sosial media yang sedang di gandrungi sekarang ini? Bukannya saya menyalahkan instagamnya, bukan! Tapi lebih bagaimana saya menyikapinya. Berawal dari kejengahan saya dengan posting-postingan yang saling adu domba, yang ketika itu ramai membahas paslon, you know what I mean lah.. Jengah sekali, berita yang ada di tagline hanya berkaitan dengan itu-itu saja, penuh cai maki dan saling serang. Saya pernah membaca sebuah artikel yang menyatakan bahwa ketika otak kita hanya di penuhi hal-hal negatif maka lambat laun otak kita juga akan mengarah pada hal yang negatif pula. Jadi, saya tidak mau memenuhi kepala saya hanya dengan masalah-masalah yang saya pun bingung bagaimana menyelesaikannya dan tak punya kapasitas untuk membicarakannya.
Kedua,nyadar nggak sih.. Ketika kita scroll intagram atau media sosial apapun kita tanpa sadar menjadi lupa waktu. Beberapa menit kita atau malah berjam-jam dari waktu kita terbuang sia-sia hanya dengan duduk dan memandang layar handphone kita untuk sekedar memenuhi rasa keingintahuan kita yang belum tentu bermanfaat juga. Rugi! Rugi!
Ketiga, ketika saya melihat update teman-teman yang berisi achievement mereka. I'm feeling down.. Muncul lah pikiran-pikiran. "Waah, mereka udah ini udah itu, kok aku stuck disini aja ya, kok aku masih gagal aja ya, dan sebagainya". Ya! Sesempit itu pikiran saya ketika itu. Hingga akhirnya saya sadar and mulai berikir I have to stop. Oke, let's say kalau sosial media memang akun untuk pamer, dan tanpa sadar sosial media juga udah jadi semacam CV kita yang menggambarkan diri kita, meski tidak sepenuhnya benar adanya. kenapa tidak sepenuhnya benar? Karena media sosial adalah dunia ideal yang diciptakan oleh si empunya. Tidak mungkin kan kita post hal yang tidak terlihat "keren" atau menjatuhkan diri kita sendiri?
Sebenarnya kita hidup untuk membuktikan apa? membuktikan kepada siapa? Toh tak semua orang peduli, dan pencapaian yang kita dapat, pasti juga ada pencapaian orang lain yang lebih tinggi lagi, begitu seterusnya. Lantas apa yang harus kita sedihkan? Toh tidak semua orang perlu tau siapa kita? Toh setiap orang berbeda, mengapa harus sama?
Kedua,nyadar nggak sih.. Ketika kita scroll intagram atau media sosial apapun kita tanpa sadar menjadi lupa waktu. Beberapa menit kita atau malah berjam-jam dari waktu kita terbuang sia-sia hanya dengan duduk dan memandang layar handphone kita untuk sekedar memenuhi rasa keingintahuan kita yang belum tentu bermanfaat juga. Rugi! Rugi!
Ketiga, ketika saya melihat update teman-teman yang berisi achievement mereka. I'm feeling down.. Muncul lah pikiran-pikiran. "Waah, mereka udah ini udah itu, kok aku stuck disini aja ya, kok aku masih gagal aja ya, dan sebagainya". Ya! Sesempit itu pikiran saya ketika itu. Hingga akhirnya saya sadar and mulai berikir I have to stop. Oke, let's say kalau sosial media memang akun untuk pamer, dan tanpa sadar sosial media juga udah jadi semacam CV kita yang menggambarkan diri kita, meski tidak sepenuhnya benar adanya. kenapa tidak sepenuhnya benar? Karena media sosial adalah dunia ideal yang diciptakan oleh si empunya. Tidak mungkin kan kita post hal yang tidak terlihat "keren" atau menjatuhkan diri kita sendiri?
Sebenarnya kita hidup untuk membuktikan apa? membuktikan kepada siapa? Toh tak semua orang peduli, dan pencapaian yang kita dapat, pasti juga ada pencapaian orang lain yang lebih tinggi lagi, begitu seterusnya. Lantas apa yang harus kita sedihkan? Toh tidak semua orang perlu tau siapa kita? Toh setiap orang berbeda, mengapa harus sama?
Finally, dari sini saya jadi belajar banyak hal. Salah satunya, bahwa pencapaian orang lain bukan berarti kegagalan untuk kita. Bagaimana bisa kita dibandingkan satu sama lain sedang kita punya jalan, cara, dan keadaan masing-masing. Punya saat tepat dan terbaiknya masing-masing. Mana bisa saya dibandingkan dengan anak yang lahir dan tumbuh besar di Amerika tentang penguasaan bahasa inggis, misalnya. Dia sejak balita juga sudah bisa berbahasa inggris, sedang saya kenal bahasa inggris saja baru SD. Mana mungkin akan sepadan dalam waktu yang bersamaan?
Bersyukur atas apapun yang ada pada diri kita saat ini, karena itu lah yang terbaik menurut Tuhan untuk kita. Nikmati saja alur dan likunya sambil terus berusaha sebaik-baiknya, hingga waktu terbaik itu datang kepada kita. Sehingga menunggu waktu terbaik itu tak terbuang sia-sia. Dan tak mungkin ada reaksi bila tanpa aksi, bukan?
~23.20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar