Selasa, 02 Januari 2018

Nak, Pulanglah...

Sudah sembilan tahun sejak aku meninggalkan rumah, namun rumah selalu menjadi tempat ternyaman untukku kembali. Menjadi seorang pernatau memang tidak mudah, hidup mandiri, menyelesaikan kerumitan hidup ditanah orang lain, beradaptasi kembali dengan keragaman yang tak kita jumpai pada tanah yang kita pijaki sebelumnya. Namun yang lebih berat dari itu semua adalah kamu tak menjadi orang perama dan selalu berada pada setiap moment orang-orang kamu cintai. Kamu tak bisa menggenggam tangan ibumu ketika ia sendiri, memeluknya ketika hatinya terluka, kamu tak bisa memijat ayahmu ketika ia mulai merasakan ngilu pada bahu yang selama ini memikul tanggung jawabmu, dan kamu tak menyaksikan bagaimana raut-raut wajah itu mulai berubah dimakan lelah dan usia, hingga kamu tiba-tiba sadar bahwa mereka sudah tak muda. Ya, kamu tak selalu jadi yang pertama dan disisi orang-orang yang kamu cintai, entah karena terhalang zona-zona waktu, samudra, atau kesibukan yang seolah tak pernah habis.

Bagi kamu yang juga perantau, pernah nggak terfikir: pantang pulang sebelum menjadi orang, atau pulang malu tak pulang rindu? Atau pernah terfikir, lamanya waktu perjalanan bisa digunakan untuk kegiatan yang kamu anggap dapat menunjang karirmu kedepannya, ongkos yang digunakan untuk pulang dapat digunakan untuk hal lain? Tak salah memang jika kita berfikir demikian, karena setiap kita punya keadaan dan prioritasnya masing-masing. Obrolanku dengan seorang adek tingkatku mengingatkan kembali bahwa kita sebagai seorang perantau juga mengantongi harapan besar dari orang tua dan diri sendiri. Tak heran jika kita memiliki fikiran tersebut, toh yang kita lakukan jika kita tidak pulang juga untuk membahagiakan orang tua kita kedepannya. Namun, sering yang kita lupakan adalah kita tak pernah tau kapan waktu kita akan habis di sapa takdir, dan saat ini tak akan pernah sama dengan esok, lusa dan seterusnya.

Jika kamu menunggu pulang sampai kamu sukses, tapi usia orang tuamu yang semakin renta tak pernah menunggumu. Jika mereka berkata tak apa jika kamu sibuk dan tak bisa pulang. Jangan kamu telan mentah begitu saja, tanyakan pada orang tua manapun. Tak ada orang tua yang tak ingin anak-anaknya berada disampingnya, menyaksikan kamu tumbuh, melindungimu dan terus merawatmu. Tapi demi dirimu, demi masa depanmu, dan demi kebahagiaanmu mereka rela melepasmu pergi.
Kenapa aku dapat berbicara demikian? Itulah yang ibuku rasakan ketika aku dulu meninggalkan rumah untuk belajar di pesantren. Dan setelah aku lulus ibuku mengatakan hal itu. Ketahuilah, bahwa ketika kamu berat meninggalkan orang tuamu, merekala yang lebih berat ditinggal oleh dirimu, jika kamu sakit merekalah orang pertama yang merasakan sakit setelahmu. 

Aku selalu berkata kepada teman-temanku jika kamu punya kesempatan dan tak ada amanah atau yang menghalangimu untuk pulang, pulanglah! Lagi-lagi, waktu akan terus berputar dan tak akan menunggumu, dan kita tak pernah tau kapan waktu kita akan benar-benar berpisah dengan orang-orang yang kita sayangi. Kesuksesanmu bukan hanya hasil dari usahamu saja, tapi ingatlah mereka yang berusaha lebih keras agar kamu dapat meraihnya. Pintamu bukan dari hasil doamu saja, tapi ada mereka yang bersujud mendoakanmu setiap waktu. 
Dibalik air zamzam yang mengalir karena dentuman kaki Ismail kecil, ada Hajar yang telah berlari di tengah terik matahari dari shafa ke marwa untuk mencari setetes air.
Dibalik selamatnya Musa As atas kekejaman firaun, ada Ibunda Musa yang merelakan berpisah dari anaknya dan selalu berdoa atas keselamatannya.

Pulanglah, membantu ibumu mencuci piring, membantu ayahmu atas pekerjaannya, atau hanya sekedar berbicara dengan mereka, mendengarkan cerita-cerita yang mungkin menurut kita tidak seru dan sudah tak sesuai dengan zaman kita, semua begitu berarti untuk mereka, hingga mereka yakin bahwa dihari tua mereka kelak ada anak-anak yang akan berada disamping mereka, dan mencintai mereka...
    

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا
Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.
RidhoNya, bersama Ridho Orangtuamu... :" )

1 komentar: