Senin, 26 Februari 2018

Kenapa pakai Make Up?



"Tungguin dong, aku pakai eye liner dulu. Nggak pede nih keluar nggak pakai eye liner." Kata salah seorang teman yang ketika itu kami akan bergegas pergi karena ada acara mendadak yang harus segera kami hadiri.

Skincare dan make up seperti menjadi hal yang wajar dan sebuah kebutuhan bagi wanita diera ini, informasi tentang segala macam produk kecantikan dapat diakses dengan mudah. Lihat saja, banyaknya beauty vlogger dan make up tutorial di youtube dan instagram. Video-video bertebaran tentang sebelum dan sesudah menggunakan make up. Rasanya, saat ini anak-anak sekolah yang setaraf SMA pun sudah mampu untuk bermake up sendiri dan dalam kehidupan sehari-hari menjadi hal yang lumrah menggunakan full make up. Tak salah memang dan tentu segala sesuatu memiliki manfaat dan madzaratnya masing-masing tegantung bagaiamana kita menyikapinya. Bagi saya yang baru mengenal dunia make up, mulai tetarik untuk serius merawat diri malah terheran-heran dan bergidik ngeri dengan fenomena ini. Mengapa demikian? Saya mengalami kejadian-kejadian yang membuat saya kembali merenung. Dari teman saya yang tidak pede keluar rumah tanpa menggunakan eye liner, sampai teman saya yang menghubungkan antara jerawat dimuka, kulit hitam yang tepapar matahari dengan jodoh.

Sepenting itu kah sehingga kita harus memakai produk kecantikan? Sepenting itu kah kita harus memperhatikan penampilan kita sehingga kita harus mengalokasikan menit kita atau berjam-jam kita untuk berdandan? Tak senyaman itukah kita dengan diri kita sendiri sehingga kita harus selalu memoles diri dengan foundation dan make up tebal?
Bukankah menurut Gie, wanita yang hanya disibukkan oleh gincu adalah wania yang mudah di tindas?
Rasanya, kita perlu merenungkan kembali tentang apa-apa yang kita lakukan. Bagaimana menilai dan menghargai diri kita tanpa selalu memperhatikan bungkus. (Aku pernah menuliskan tentang ini. klik disini ) 

Dan tulisan kali ini, akan saya akhiri dengan cerita saya dengan teman saya empat hari yang lalu. Sebagai bahan perenungan untuk diri bahwa segala sesuatu patut kita syukuri. Banyak hal besar yang seharusnya kita fikirkan, bukan malah bersibuk memikirkan kekurangan diri.
"Eh, mukaku mendingan kan ya jerawatnya?" Kata teman saya ketika perjalanan pulang menuju asrama.
"Iya, mendingngan. Aku juga lagi jeawatan nih di jidat." Jawab saya, disertai keluh.
Entah bagaimana seolah Allah ingin menegur kami, dalam hitungan detik pandangan kami langsung sama-sama tertuju pada seorang bapak-bapak yang (-mohon maaf) hampir diseluruh mukanya dipenuhi daging tumbuh. Refleks aku langsung beristigar. Igfirlana ya Allah..