Sabtu, 12 Mei 2018

Ma, Izinkan Aku Memanggilnya Bunda



            Tin....Tiinn... terdengar suara klakson mobil memasuki plataran rumah, disusul suara langkah kaki yang tegesa-gesa menyambut siapa yang tiba.
”Ah, papa sudah pulang” Batin ku. Buru-buru ku ambil barang-barangku yang akan bawa untuk latihan. Krreeeek.. pintu kamarku terbuka, sebuah kepala disertai senyum khas Alisa adikku muncul dibalik pintu.
“Kak Sandra, ayo keluar... Papa udah pulang...” Kata bocah kelas 9 SMP itu.
“Ya, nanti.” Jawabku singkat.
“Kak Sandra mau berangkat latihan Tae Kwon Do? Nggak libur dulu kak? Bukannya kemarin lusa kakak baru selesai kejuaraan dan di izinkan istirahat?” Tanyanya lagi melihat aku memasukkan Dobog Tae Kwon Do ku ke dalam ranselku.
“Kapan kak sandra punya waktu untuk keluarga? Sekalinya papa dirumah kak sandra selalu sok sibuk sendiri.” Sambungnya. Aku tak menjawab, akhirnya Alisa keluar kamarku tanpa berkata apa-apa lagi. “Ah, anak kecil tau apa kamu.” Batinku.

            Bagi anak-anak SMA seusiaku mungkin sabtu minggu adalah hari yang menyenanggkan dan ditunggu, tapi tidak bagiku aku benci weekend! Hari dimana aku mencari segudang alasan untuk tak dirumah dari kegiatan luar sekolah hingga kerja part time. Hari dimana papa pulang ke rumah dan aku tak ingin beremu dengannya. Mungkin aku bukan anak yang berbakti, tapi aku tak sanggup menatap mama yang sangat aku cintai pura-pura tersenyum padahal aku tahu dia tersakiti.

Bagaimana tak tersakiti sedangkan mama tahu bahwa suami yang ia kasihi memiliki wanita lain selain dirinya, dan dari 7 hari hanya disisakan dua hari untuk kami, sabtu dan minggu. Inilah alasan aku tak menyukai sabtu minggu, dan tak menyukai papaku. Bagaimana aku bisa tahu kasus peselingkuhan papaku? Waktu itu aku mendengar papa berbincang ditelephone dengan seseorang yang papa panggil sayang. Entah bagaimana setelah itu seolah segala sesuatu membeitahuku dari asisten rumah tangga, ibu-ibu komplek, hingga tukang sayur yang keliling komplek rumahku. 

Mamaku, wanita yang sangat aku cintai. Aku pernah begitu marah, menganggap mama begitu lemah. Hingga pernah dari mulutku terlontar “Ma, kenapa mama nggak minta cerai aja sama papa?” Tanyaku menggebu, jawaban mama hanya isak tangis dan aku marah, lalu pergi meninggalkan mama sendiri. Sejak itu aku tak mau mengusik mama tentang ini, aku tak mau menyakitinya lagi. Aku memilih untuk menghindar dan tak mau tahu. Lalu aku memahami, mungkin alasan mama tak memilih bercerai adalah masa depanku dan adikku. Setidaknya itulah yang aku tangkap dari petuahnya untukku agar menjadi wanita sukses dan mandiri. Mama yang hidupnya sebagai ibu rumah tangga biasa yang mengurusi seluruh keperluan kami, seorang wanita jawa yang telah yatim piatu sejak muda, dan baginya papalah tumpuan hidup kami.
****
Senin pagi kali ini ada yang berbeda, dimeja makan papa masih menggenakan pakaian kasual tak mengenakan setelan kemejanya untuk bekerja. Sepenasaran apapun, aku diam saja karena komunikasiku selama ini dengan papa hanya menjawab pertanyaan papa dan berbicara seperlunya. Hari ini papa mengantarku ke sekolah bukan pak poniran yang mengantarku seperti biasa. Selama perjalanan papa berbicara banyak hal, tentu saja aku hanya diam menjawab seperlunya. Aku tak pernah sedekat ini dengan papa, hanya berdua. Hingga sampai disekolahku papa bahkan ikut turun dari mobil, untuk sekedar sopan santun, aku besalaman dengan papa.
“Sandra, setiap orang tua pasti ingin dekat dengan anak-anaknya, begitu pula papa.” Kata papa sebelum aku pergi.
“Kalau papa sayang sama kami, papa nggak akan meninggalkan kami untuk orang lain, dan hanya menyisakan dua hari untuk kami.” Jawabku ketus, meluncur begitu saja dari mulutku.

            Dalam kelas aku masih memikirkan kata-kata ku pada papa tadi, ada perasaan lega yang becampur aduk. Lamunanku pecah, tiba-tiba ada yang menepuk punggungku.
“Hei san, lu dianterin siapa tadi, itu bukan supir lo kan?” Kata Jessi, anak gaul dan super heboh dikelasku.
“Bokap Gue.” Jawabku singkat, datar. Aku memang bukan anak yang pandai bergaul, dibully semasa SD membuatku berfikir dua kali untuk berteman dekat dan bercerita dengan siapapun. Jika kamu ceritakan sedih dan aibmu maka semesta akan membicarakanmu, itu yang aku tahu.
“OMG! Serius? Bokap lu punya dua istri dong? Itu bokap temen gue juga!! Astagaa....” Kata Jessi Heboh.

            Meski langit sudah menguning kota ini tetap riuh, suara klakson di iringi sumpah serapah mewarnai kemacetan jalanan kota ini, gurat-gurat lelah, suara keluh pekerja yang ingin segera pulang ke rumah memenuhi bus yang ku tumpangi semakin memperburuk suasana hatiku saat ini. Percakapanku tadi pagi dengan jessi masih aku ingat. Di benakku penuh dengan kekhawatiran, bagaimana nanti jika jessi membicarakan kepada teman-teman yang lain? Bagaimana reaksi teman-teman yang lain jika tahu? Apakah akan terulang lagi bisikan iba dibelakangku atau olok-olokan tentang keluargaku? Lalu, bayang-bayang keluarga yang hancur karena Pelakor (perebut lelaki orang) yang tersebar di sosial media turut berputar dikepalaku.  Tuhan... Aku hanya ingin hidupku tenang.
           
“Sandra, segera makan dan ganti baju setelah itu ikut mama pergi.” Kata mama, sesampainya aku di rumah.
“Ma, kenapa mama nggak cerai aja sih sama papa? Mama tahu kan papa punya istri muda atau mama pura-pura nggak tahu? Apa perlu Sandra cari dan bawa wanita yang sudah merusak keluarga kita ke rumah ini biar mama nggak pura-pura lagi?” Kataku dengan nada tinggi.
“Sandra cukup!! Mama nggak mau dengar apapun, setelah ini ikut mama pergi.” Kata mama dengan mata berkaca-kaca, dan pergi meninggalkanku.

Seketika itu aku benar-benar menyesal tak mengontrol perkataanku karena suasana hatiku yang kacau sejak disekolah tadi. Aku benar-benar lemah jika melihat mama menangis, aku tahu bagaimana mama berjuang untuk kami anak-anaknya. Aku hanya bisa tertunduk lemas di kamarku. Pintu kamarku di ketuk, Alisa muncul dari balik pintu, dia duduk di sampingku dan menatapku.
“Kak, selalu ada alasan disetiap kejadian. Entah apapun alasan mama papa, tugas kita sebagai anak hanya berbakti dan berbuat baik kepada mereka. Dari pada kakak hanya berasumsi dan terus menghindar menuruti kemarahan kakak, kenapa tidak kakak tanyakan langsung ke mama papa?” Kata Alisa, seolah ia telah tahu segalanya, dan entah mengapa aku merasa saat ini ia malah lebih dewasa dari ku.
****
             Mobil kami memecah gelap jalanan kota, dalam mobilpun hanya terdengar suara radio yang memutar lagu-lagu pop terkini. Tak ada percakapan apapun antara aku, mama dan Alisa, kami tenggelam dengan pikiran kami masing-masing. Mama membawa kami ke sebuah rumah sakit dipinggiran kota. Aku bertanya-tanya, siapa yang sakit? Mengapa mama membawa kami ke rumah sakit ini? Namun aku hanya bercakap pada diriku sendiri, aku hanya diam tak mengutarakan.

            Ketika kami masuk di salah satu bangsal rumah sakit, betapa terkejutnya aku. Papa tlah duduk disamping ranjang dan seorang wanita terbaring lemah disana, wanita itu terlihat usianya lebih tua dari mama itu tergurat jelas diwajah dannya, di samping papa ada seorang gadis yang mungkin seusiaku. Kami seolah disambut, ada apa ini? Mereka semua tersenyum pada kami.  

“Ini sarah dan alisa ya? Terimakasih telah menjenguk bunda...” Kata wanita itu ramah. Alisa sudah menyalami tangan wanita itu. Aku diam terpaku, mencoba mencerna keadaan yang terjadi saat ini.
 “Sandra, ini tante Rita istri pertama papa, dan itu Sarah.” Kata mama, sambil memegang pundakku. Aku masih tak bisa berkata-kata.
“Jangan panggil tante ah, panggil bunda.. Sandra, maaf ya papa jadi jarang ke rumah sandra karena bunda sering sakit jadi harus merawat bunda. Sini nak....kemari....” Jawab wanita itu masih dengan senyum mengembang di wajahnya. Ku tatap wajah mama, ada rasa penyesalan dan air mata yang tertahan di sudut matanya.

            Ya Allah, Ampuni kami.. Seolah ada belati berkarat yang sengaja ditancapkan tepat diulu hati, sakit dan kecewa pada orang yang ku cintai. Pandanganku mulai kabur oleh air mata, suaraku tercekat tak mampu berkata-kata.
“Maafkan mama nak...” kata mama lirih, menahan isak tangisnya.
Aku masih terpaku, berdialog dengan diri sendiri. Jadi yang selama ini aku sebut perebut lelaki orang adalah mamaku sendiri! Mama lah yang telah merebut papa dari keluarga ini, lalu bagaimana bisa mereka tetap bahagia dan menerima kami? Aku yang selama ini seolah melindungi mama, ternyata aku lah yang menyakiti mama tanpa mempersilahkan mama menjelaskan, dan marah pada papa tanpa alasan.

Terngiang perkataan Alisa dirumah tadi, Bahwa segala sesuatu pasti memiliki penjelasan, dan kita tak bisa memberikan penilaian utuh hanya pada apa yang kita lihat saja. Orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, dan tugas kita sebagai anak hanya berbakti kepada orang tua jika itu tak melanggar aturanNya.

Aku mencoba berdamai pada diri, aku siap menerima alasan apapun yang akan dikatakan mama dan papa nanti, aku tak mau terjebak ego dan asumsiku sendiri. Aku menguatkan diri, jika memang keluarga ku begini dan kami dapat berbahagia dengan keadaan ini aku akan belajar untuk menerima dan turut berbahagia seperti mereka. Bisakah? Aku akan mencoba.
“Bun.. Bunda....” Kata ku akhirnya. Ku langkahkan kakiku pada wanita yang tersenyum lebar dan terbaring lemah di samping papa.