Minggu, 17 Juni 2018

Lebaran dan Pertanyaan Kapan


Bagaimana lebarannya? Sudahkah ditanya “kapan nikah?” “kapan lulus?” “kerja dimana?” dan serentetan pertanyaan serupa lainnya? Diusia saya yang memasuki fase quarter life crisis saya juga ditanya tentang pertanyaan serupa. Adakah yang senasib dengan saya juga? Hehehe

Saya juga menemukan beberapa pembahasan tentang pertanyaan “kapan” atau sering disebut pertanyaan basa-basi di linimasa, kebanyakan membahas tentang tidak perlunya kita mempertanyakannya hal-hal demikian untuk menjaga perasaan seseorang yang sedang berkomunikasi dengan kita. Dengan gencarnya pembahasan tesebut di lini masa, menurut saya kadang kita menjadi berlebihan dalam menyikapi pertanyaan ‘basa-basi’ ini.

Jadi begini, kedua orang tua saya dulunya adalah tetangga dan sudah sejak lama tinggal di desa yang kami tempati saat ini, jadi bisa dibilang jodoh lima langkah dari rumah. Begitu pula dengan saudara bapak-ibu saya yang lain banyak yang menikah dengan tetangga, atau tetangga desa, yang jarak tempuhnya tidak jauh.
Untuk kasus saya, petanyaan “Udah lulus belum?” “Kerja dimana sekarang?” sampai “Jadinya, calonmu yang mana fa?” (Padahal nggak pernah ngenalin atau bawa ‘calon’).

Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan itu saya anggap sebagai hal yang lumrah dan wajar. Mengapa? Karena saya menyadari bahwa saya hidup dilingkungan desa yang mungkin keluarga saya  mereka tidak banyak refrensi tentang bagaimana etika pegaulan, etika berkomunikasi yang disepakati. Jadi, saya anggap yang mereka ucapkan dan tanyakan adalah murni rasa perhatian mereka untuk menyambung silaturrahmi antara bulik-paklik, budhe-pakdhe kepada keponakan mereka. Itu di keluaga ndeso ala keluaga saya.. Mungkin beda lagi kalau di kota. Ya, tentu saja setiap orang memiliki tipe keluarga yang berbeda-beda pula.

Namun yang perlu digaris bawahi, kita sering lupa bahwa tekadang kita tidak bisa mengcontrol pertanyaan orang lain terhadap kita, pun kita tidak dapat mengeneralisir sikap dan pandangan hidup seseorang. Jika hanya karena pertanyaan basi-basi itu malah menjadikan mood kita buruk, atau malah menjadikan persaudaraan kita renggang, menjadi malas untuk bertemu, merasa bahwa kita paling baik dalam besikap, maka kitalah yang harus menilik kembali diri kita dan mencurigainya.

Bukankah kunci dari sebuah komunikasi yang baik adalah sikap saling memahami? Jika kita memang tahu hal tersebut sensitif untuk ditanyakan, maka tak perlu ditanyakan. Begitu pula kita sebagai seorang yang ditanya, kita juga harus memiliki hati yang luas dan sikap khusnudzon ketika menerima pertanyaan. Bahkan sebaik apapun kata yang kita terima jika hati dan fikiran kita sempit maka segala hal akan terasa sebagai hal yang buruk.

Bisa jadi, sebenarnya yang membuat pertanyaan-pertanyaan itu adalah hal yang basa-basi dan tidak menyenangkan karena diri dan otak kita sudah ter setting demikian. Jadi bawaannya menyebalkan melulu. Orang lain dapat memberikan input buruk apapun kepada diri kita, namun kita lah yang  menentukan apakah akan menjadi output yang sama buruknya atau malah sebaliknya. Begitu pula, kita tetap bisa memilih untuk tetap berbahagia meski suasana mendung menyelimuti kita.

Sayang sekali jika moment lebaran yang seharusnya berbahagia, moment untuk bisa bersilaturrahmi dan berkumpul dengan keluarga jadi tidak menyenangkan hanya karena pertanyaan “kapan”. Eh, bisa jadi lho dari pertanyaan ‘kapan’ malah mempertemukan dengan jodohnya atau  didekatkan jawaban atau solusi atas pertanyaannya. Siapa tahu kan? :)

Selamat Idul Fitri semua, Mohon maaf lahir batin, bagi yang tak dapat saya temui dikehidupan nyata. Semoga kedepannya kita menjadi hamba yang semakin bertaqwa, dan pribadi yang lebih baik dan bijaksana! :)