Sabtu, 12 September 2020

Bagaimana Rasanya Setelah Menikah?

      


          Pertanyaan yang tertera di judul adalah pertanyaan yang dulu sering aku lontarkan kepada teman-teman yang telah lebih dulu menggenapkan separuh agamanya. Kini, gantian aku ditanyai hal serupa, ternyata tak serumit yang dulu aku bayangkan, tapi juga tidak sederhana untuk menjawab pertanyaan itu, dan alhamdulillah di 7 bulan usia pernikahan aku mencoba untuk menuliskannya. Jangan berharap jika tulisan ini menjadi jawaban yang uwu seperti jawaban pasangan baru menikah di kancah dunia persosial mediaan ya, jawaban ini mungkin terlalu realistis? Hahaha.

        Pertanyaan pasca menikah ini aku tanyakan juga ke suami, ingin melihat perspektif dari dia sebagai seorang suami dan laki-laki. Ternyata jawaban kami intinya sama bahwa selain bertambahnya tanggung jawab, di fase apapun dalam hidup kita jangan merasa cukup untuk terus belajar dan membangun hidup berkesadaran.

    Ya, belajar. Rasanya meski sudah mengikuti kelas pra nikah dan parenting ketika dihadapkan langsung dengan pernikahan ternyata masih banyak hal yang belum diketahui, ternyata praktik tentang menjadi seorang istri tak semudah yang kita pelajari. Tak apa, memang kadang begitu,  praktik tak semudah teori kan? Namun dengan momen penting seperti pra dan pasca kuliah - bekerja - taaruf hingga menikah - dan momen penting lainnya membuat aku belajar banyak hal termasuk pada cara pandang.

    Ada yang bilang menikah adalah taaruf seumur hidup, dan begitulah harusnya pernikahan, dia bertumbuh bukan hanya mengalir. Meski aku dan suami telah berteman sejak SMP tapi ternyata banyak hal yang harus aku pelajari dari dia, begitu pula dengan keluarganya. Maka pemakluman dan pengertian harus dibangun di awal, hal ini juga lho yang jadi cerita lucu di awal pernikahan.

    Selanjutnya aku juga belajar untuk lebih berkesadaran, lagi-lagi bahwa kita sudah berkomitmen untuk berjalan bersama, maka banyak pula hal yang harus kita lakukan atas dasar kesadaran bukan lagi atas keinginan atau mood. Karena kita tak sendiri lagi, maka banyak hal yang harus dibagi, jika dulu ketika single banyak keputusan yang bisa kita ambil sendiri beserta konsekuensinya, maka jika sudah menikah harus didiskusikan apalagi jika itu keputusan-keputusan besar dan berdampak pada jangka panjang. Ribet? Awalnya iya, apalagi bagiku yang terbiasa “Kalau bisa sendiri untuk apa merepotkan orang lain?”. Maka menjadi ‘sadar’ dan mau belajar adalah kuncinya.

    Momen diawal pernikahan biasanya memang begitu membahagiakan, bukankah hal baru selalu menarik? Mengenang saat pertama kali bertemu, proses menuju hari pernikahan, hal-hal baru yang harus kita adaptasikan, atau hal-hal yang tak kita ketahui sebelumnya dari pasangan hingga menjadi ‘surprise’ dan menjadi sebuah kesyukuran karena Allah telah menakdirkan dia dalam hidup kita. Jika kebahagiaan banyak, sedih juga pasti ada, ngambek berantemnya juga ada. Namanya juga manusia, beda jenis lagi. Kadang sejenis aja juga ada masa nggak akurnya. Jadi jangan banyangkan kayak di drama-drama romance yaa.. cowok nggak selalu romantis, dan cewek nggak selalu manis. Hahaha

    Alhamdulillah ala kulli haal, akan selalu ada jalan bagi mereka yang senantiasa berusaha. Dari ini semua aku semakin menyadari dan memaknai tentang khauf (khawatir, takut) - Roja’ (harapan), ikhtiar - tawakal benar-benar harus di sandarkan kepadaNya, dan bukan hanya sekedar ‘tampilan luar’ nya saja, tapi  juga isi hingga akarnya. 

    Bahwa menjadi bahagia, kuat, bukan tanggung jawab orang lain, tapi diri kita sendiri. Diri kita yang senantiasa mau belajar dan berkesadaran. Maka, entah pada fase apapun kamu saat ini, nikmati. Sayang sekali jika fase-fase yang ada terlewat begitu saja atau bahkan disesali, dan jangan lupa dipersiapkan semampu yang bisa kita lakukan. :)         

 

Sabtu, 02 Mei 2020

Membenci Memaafkan

Kita tak bisa menghindari interaksi, kita tak mungkin hidup sendiri. Dalam sebuah interaksi berbagai hal bisa terjadi, sering kali hal-hal tak menyenangkan terjadi; tindakan miskin empati, kata-kata melukai hati, juga tatapan tak menghargai. Tindakan-tindakan yang terkadang begitu tak terduga, hingga kita tak sampai memahami mengapa kita yang harus mengalami. Marah, kecewa, dan membenci.

Kita merasa kebencian terhadap Ia yang melukai adalah hukuman setimpal atas ketidak mampuan atau ketidak mauan kita membalas. Kita membohongi diri bahwa kita baik-baik saja, melupakan sakit. Seolah tak ada yang terjadi. 
Apakah iya, membenci adalah penawar dan hak diri yang telah disakiti? Kebencian selalu menjebak kita untuk mengulang kesedihan, memgorek kembali kesalahan-kesalahan. Sedang ia yang dibenci tertawa tanpa beban, berlenggang tanpa dosa. 
Memaafkan, menjadi begitu naif bila dijadikan sebuah pilihan untuk menghilangkan kesakitan-kesakitan. Namun memaafkan menjadi jalan untuk berdamai dengan diri untuk benar-benar pulih dari membenci.

Semua akan ada waktunya. Ia yang menimpakan sakit, pedih, marah, kecewa, akan bergulir merasakan juga sebagai sebuah akibat apa yang telah ditanam.
Dan waktu juga akan menyembuhkan segala luka, bila kita benar-benar mau menyembuhkannya.