Sabtu, 02 Mei 2020

Membenci Memaafkan

Kita tak bisa menghindari interaksi, kita tak mungkin hidup sendiri. Dalam sebuah interaksi berbagai hal bisa terjadi, sering kali hal-hal tak menyenangkan terjadi; tindakan miskin empati, kata-kata melukai hati, juga tatapan tak menghargai. Tindakan-tindakan yang terkadang begitu tak terduga, hingga kita tak sampai memahami mengapa kita yang harus mengalami. Marah, kecewa, dan membenci.

Kita merasa kebencian terhadap Ia yang melukai adalah hukuman setimpal atas ketidak mampuan atau ketidak mauan kita membalas. Kita membohongi diri bahwa kita baik-baik saja, melupakan sakit. Seolah tak ada yang terjadi. 
Apakah iya, membenci adalah penawar dan hak diri yang telah disakiti? Kebencian selalu menjebak kita untuk mengulang kesedihan, memgorek kembali kesalahan-kesalahan. Sedang ia yang dibenci tertawa tanpa beban, berlenggang tanpa dosa. 
Memaafkan, menjadi begitu naif bila dijadikan sebuah pilihan untuk menghilangkan kesakitan-kesakitan. Namun memaafkan menjadi jalan untuk berdamai dengan diri untuk benar-benar pulih dari membenci.

Semua akan ada waktunya. Ia yang menimpakan sakit, pedih, marah, kecewa, akan bergulir merasakan juga sebagai sebuah akibat apa yang telah ditanam.
Dan waktu juga akan menyembuhkan segala luka, bila kita benar-benar mau menyembuhkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar