Minggu, 29 Maret 2015

UntukMu dan untukmu

Rindu ini untukmu...
Untukmu yang selalu menyebut namaku dalm setiap do’amu...
Untukmu yang cinta itu kau sandarkan padaNya...
Untukmu yang rindu itu kau pendam untuk bahagiaku...
Untukku yang setiap tetes keringatnya adalah nyawaku...
Untukmu yang menerimaku atas kekuranganku...
Untukmu yang nyawa dan hidupnya kau gadaikan untukku...
Untukmu yang air matanya selalu menetes untuk setiap kesedihanku...
Untukmu yang dulu tangannya merengkuhku dalam setiap buaian kasih sayang...
Untukmu yang ucapnya adalah jalan hdupku...
Untukmu yang RidhoNya berada bersamamu...
Untukmu yang hingga kini tak mampu ku balas setiap bulir cintamu yang terus menghujaniku...

Robbi, ku titipkan meraka padamu, dengan penjagaanMu, dengan perlindunganmu, dan dengan cintMu...
Allahumagfirli wa liwalidayya warhamhumakama robayani shoghiro...

Ujung Rindu..

Jogja, 29 Maret 2015

Selasa, 17 Maret 2015

Pemberian Terbaik



Membahagiakan orang tua, menjadi orang yang sukses adalah cita-cita bagi setiap anak. Bagaimana tidak? tanpa orang tua kau tidak akan menjadi apa-apa nak, karena dari orang tualah syarat dan sebab kau lahir di dunia ini.
Setiap dari kita pasti pernah membayangkan bahwa kelak kita akan memberikan yang terbaik untuk untuk orang tua kita, membahagiakan mereka, membalas jasa-jasa mereka dihari tua. Namun, apakah kau sudah menetapkan kebahagian dan pemberiaan terbaik apa yang akan engkau berikan untuk membalas mereka?
Ketahuilah, apapun yang engkau usahakan untuk mereka hakikatnya tak akan pernah mampu untuk membayar pengorbanan mereka untuk kita. Ketika kita masih sekolah atau kuliah kita berusaha terbaik agar mendapatkan nilai terbaik, prediakt terbaik, dan kita selalu mengatakan “ini untuk orang tua saya”, orang tua kita pasti sangat berbangga, namun hakikatnya predikat terbaik itu hanya kita yang menyandangnya, dan gelar apapun hanya kita yang akan menyandangnya. Tapi lihat orang tua kita tanpa mendapat apapun mereka tetap tersenyum untuk kita.
Ketika kita telah bekerja dan berkeluarga sehingga kita mampu memberikan uang dan barang yang mungkin orang tua kita butuhkan,namun sebenarnya tentu kita pula yang paling banyak menghabiskan hasil kerja kita untuk diri kita dan keluarga kita sendiri, dan orang tua kita hanya turut berbahagia atas kebahagiaan kita bersama keluarga baru kita, tanpa meminta lebih mereka berbahagia untuk kita.
Lalu pemberiaan berharga apa yang akan kita berikan?
Baktimu, amal sholihmu pada merekalah pemberian terbaik itu!!
Rosullah SAW bersabda:

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Karena pada dasarnya semua yang dibumi musimkan bergulir dan tahun kan berganti dan semua makhluk akan mati.. dan menjadi anak sholihlah pemberiaan dan bakti itu tak akan terputus.

 
Aku menulis ini karena cerita minggu pagi itu.. ya, minggu pagi yang damai tanpa tugas, tanpa kegaiatan diluar kampus, hanya ada cucian yang masih menungguku untuk dicuci. What a beautiful day! “Its not Sunday but my day!!” Hehehe begitulah teriakku pada diri, bagaimana tidak setelah hampi satu pekan full oleh presentasi, tugas dan kepanitiaan acara fakultas dan UKM, hari minggu ini aku siapkan untuk diriku. Aku mulai dengan tidur lagi setelah subuh, pembalasan dendam untuk begadang yang tiada berujung. Hihihi
“Jegreeek..” pintu kamar kosku terbuka, dan muncullah satu wajah dibaliknya..
“Ashfa, ayo bangun... anterin aku nambal ban yuuk...” Kata bayang kakak kossku di depan pintu kamarku yang terbuka.
Aduuh ini kakak orang lagi bobo cantik malah diajak nambal ban, hari minggu gini mana ada bengke yang buka?! Gerutuku.
“ashfa mau nyuci kak...” jawabku malas dengan menenggelamkan wajahku dibantal.
Singkat cerita, dengan rayuan gombal sampai tarik-tarik baju ala india akhirnya aku mau menemani kakak kosku yang sering aku repotkan ini ke tukang tambal ban. Hihihi
Tepat sesuai dugaan hari minggu bengkel yang kami datani ak ada yang buka, hingga akhirnya kami bertemu tukang tambal ban pnggir  jalan yang baru buka.
Tukang tambal ban itu telah renta, bahkan aku sempat berfikir bahwa bapak itu sudah tidak mampu memompa ban karena usianya, dibantu dengan cucu perempuan atau entah siapanya yang berpenampilan tomboy, bapak itu mulai menelusuri ban yang bocor.
Dengan sisa tenaga setelah muter-muter nyari tambal ban, aku duduk di kursi yang ada. Segera ku buka gorengan dan kue sus yang telah ku beli jalan, karena perut belum diisi dan ternyata hari mulai siang.
“Fa, kasihan ya bapak itu sudah tua masih bekerja..” kata kakak kosku.
“Anak-anaknya dimana ya kak..” jawabku singkat, masih sibuk dengan makanan dimulutku.
“Ya Allah fa, buat apa anak sukses kalau akhirnya tak ada yang merawat orang tuanya kala senja, padahal ketika itulah bakti anak yang sesungguhnya...”
Lalu dismabungnya lagi dengan pengalamannya ketika magang di RS (karena memang kakak ini jurusan kebidanan),ia bercerita tentang kakek-kakek yang tidak dirawat anaknya dan ditinggal dirumah sakit sendirian, hingga kita bercerita tentang orang tua kita masing-masing. Dan mata kitapun berkaca-kaca, ditengah haru biru curhat dan cerita. Ternyata tambal ban telah selesi.
“Kak, katanya kasihan sama bapaknya?” kataku setelah naik motor.
“Ya, emang kasihan kan fa.. emang kenapa?” jawabnya singkat.
“Kalau kasihan kenapa kakak bayar tambal bannya kenapa gak dikasih lebihan?”
“Hehehe... bayaran sesuai pekerjaannya.” Jawab kakak dengan tanpa dosa.
“Dasar anak kos, pengiritan sana sini...” >_< #@*&^%
Intinya, berbaktilah kau kepada orang tuamu naak, surga dan duniamu ada di sana... :D

 


Senin, 16 Maret 2015

Tulis saja! menulis itu menyenangkan, katanya...



Kembali semangat menulisku menyala, setelah sekian lama... lucu juga sebenarnya ketika aku mengatakan bahwa aku suka menulis tapi jarang menulis. Itu sama saja kau mengatakan kau bisa menggandakan uang namun kau tetap miskin! Hehehe..
Berangkat dari sepenggal kata diatas aku membangun semangat untuk menulis lagi dan kali ini berusaha menjadikan menulis sebagai ‘candu’.. hey, bukan hanya teori marxis saja yang bisa mengatakan agama adalah candu.. akan aku buat menulis adalah candu bagiku, untuk terus berkarya, menuangkan ide, bercerita, atau apapun saja. Yaa. Tulis saja! Menulis itu menyenangkan (katanya). :D
Sebenarnya juga, aku mendapatkan kalimat itu bukan semata-mata kata per kata itu tiba-tiba jatuh dari langit  atau pada malam sunyi nan kelam seorang kakek tua berbaju putih mendatangi kamar kosku yang nyaman. Baiklah, aku akui aku mendapatkan kalimat itu (lebih tepatnya mengutip, meniru, atau kau sebut apalah...) dari seorang yang aku (hanya) mengenalnya dan dan dia tak mengenalku, bahkan kami bertemu hanya sekali, itupun tanpa kita bercakap sekatapun satu sama lain, bahkan mungkin dia tidak sadar akan keberadaanku, bahwa ada makhluk yang bernama ashfa disini. Hahaha.. pertemuan macam apa pula ini? >_<
Baiklah, aku akan bercerita.. dan kini bahkan tulisanku menjadi terpengaruh oleh gaya kepenulisannya yang menurutku ajaib bin cara berfikirnya yang aneh, sebutlah ia ‘tak terbatas’ dan memang begitulah dia menyebut dirinya. Bermula pada Lembaga dakwah kampus yang selama ini aku juga berkecimpung disana mengadakan seminar tentang pemikiran Islam kontemporer yang salah satunya si tak terbatas menjadi pematerinya, aku memang sangat tertarik untuk mengikuti seminar itu, karena memang ada ustadz faforitku yang akan jauh-jauh dari Jawa Timur datang ke Jogja unuk mengisi seminar ini, namun dengan kehendak Allah beliau tidak hadir. Dengan ngotot ikut mata kuliah di kelas lain dan bolos di matakuliah yang lainnya aku berangkat seminar di teatrikal perpus kampusku, diiringi rintik hujan.
Kalau saja salah seorang temanku tidak menitipkan salam untuk tak terbatas, mungkin saja aku tidak akan  tergelitik dan sedikit lebih mengenal si tak terbatas ini. Kembali pada si tak terbatas, bermula dari aku membaca facebooknya lalu merambah pada web yang dia kelola hingga aku membaca blognya sampai jam 3 pagi, dan bermula dari itu pula semangat menulis ini menyala lagi, dari gaya tulisannya yang sesuka hati namun syarat manfaat, jujur juga khayal, yang karena memang usianya tak terlampau jauh dengan usiaku. mungkin karena faktor itu pula, aku langsung merasa 'gue banget' dan klop dengan tulisannya, terutama pada pemikiran Islam, dan dunia khayalnya yang nyeleneh...
Lalu kenapa pula aku menuliskan panjang lebar tentangnya? Jangan berfikir macam-macam dulu, anggap saja aku hanya seorang pembaca yang ingin seperti penulis hebat lain. Dan sebagai rasa trimakasih karena melalui dia pula semangat ini oleh Allah dimunculkan kembali.
Hahaha.. aku berterima kasih kepada si tak terbatas ini untuk inspirasi dan berbagi kesenangan. Meski ia tidak tahu dan mungkin tidak akan pernah membacanya. Ya, aku memulai lagi, namun kali ini aku akan lebih bertanggung jawab dan konsisten atas pilihanku.. Allah terimakasih untuk hidupku yang penuh warna dan rencanaMu yang tak terduga..
Tulis saja! menulis itu (memang) menyenangkan... katanya...