Membahagiakan
orang tua, menjadi orang yang sukses adalah cita-cita bagi setiap anak.
Bagaimana tidak? tanpa orang tua kau tidak akan menjadi apa-apa nak, karena
dari orang tualah syarat dan sebab kau lahir di dunia ini.
Setiap
dari kita pasti pernah membayangkan bahwa kelak kita akan memberikan yang
terbaik untuk untuk orang tua kita, membahagiakan mereka, membalas jasa-jasa
mereka dihari tua. Namun, apakah kau sudah menetapkan kebahagian dan pemberiaan
terbaik apa yang akan engkau berikan untuk membalas mereka?
Ketahuilah,
apapun yang engkau usahakan untuk mereka hakikatnya tak akan pernah mampu untuk
membayar pengorbanan mereka untuk kita. Ketika kita masih sekolah atau kuliah
kita berusaha terbaik agar mendapatkan nilai terbaik, prediakt terbaik, dan
kita selalu mengatakan “ini untuk orang tua saya”, orang tua kita pasti sangat
berbangga, namun hakikatnya predikat terbaik itu hanya kita yang menyandangnya,
dan gelar apapun hanya kita yang akan menyandangnya. Tapi lihat orang tua kita
tanpa mendapat apapun mereka tetap tersenyum untuk kita.
Ketika kita
telah bekerja dan berkeluarga sehingga kita mampu memberikan uang dan barang
yang mungkin orang tua kita butuhkan,namun sebenarnya tentu kita pula yang paling
banyak menghabiskan hasil kerja kita untuk diri kita dan keluarga kita sendiri,
dan orang tua kita hanya turut berbahagia atas kebahagiaan kita bersama
keluarga baru kita, tanpa meminta lebih mereka berbahagia untuk kita.
Lalu pemberiaan berharga apa yang akan kita
berikan?
Baktimu,
amal sholihmu pada merekalah pemberian terbaik itu!!
Rosullah SAW bersabda:
“Jika seseorang meninggal dunia,
maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah,
ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no.
1631)
Karena pada dasarnya semua yang dibumi musimkan
bergulir dan tahun kan berganti dan semua makhluk akan mati.. dan menjadi anak
sholihlah pemberiaan dan bakti itu tak akan terputus.
Aku
menulis ini karena cerita minggu pagi itu.. ya, minggu pagi yang damai tanpa
tugas, tanpa kegaiatan diluar kampus, hanya ada cucian yang masih menungguku
untuk dicuci. What a beautiful day! “Its not Sunday but my day!!” Hehehe begitulah
teriakku pada diri, bagaimana tidak setelah hampi satu pekan full oleh
presentasi, tugas dan kepanitiaan acara fakultas dan UKM, hari minggu ini aku
siapkan untuk diriku. Aku mulai dengan tidur lagi setelah subuh, pembalasan
dendam untuk begadang yang tiada berujung. Hihihi
“Jegreeek..”
pintu kamar kosku terbuka, dan muncullah satu wajah dibaliknya..
“Ashfa,
ayo bangun... anterin aku nambal ban yuuk...” Kata bayang kakak kossku di depan
pintu kamarku yang terbuka.
Aduuh ini kakak orang lagi bobo cantik malah diajak
nambal ban, hari minggu gini mana ada bengke yang buka?! Gerutuku.
“ashfa
mau nyuci kak...” jawabku malas dengan menenggelamkan wajahku dibantal.
Singkat cerita,
dengan rayuan gombal sampai tarik-tarik baju ala india akhirnya aku mau
menemani kakak kosku yang sering aku repotkan ini ke tukang tambal ban. Hihihi
Tepat sesuai
dugaan hari minggu bengkel yang kami datani ak ada yang buka, hingga akhirnya
kami bertemu tukang tambal ban pnggir jalan
yang baru buka.
Tukang tambal
ban itu telah renta, bahkan aku sempat berfikir bahwa bapak itu sudah tidak
mampu memompa ban karena usianya, dibantu dengan cucu perempuan atau entah
siapanya yang berpenampilan tomboy, bapak itu mulai menelusuri ban yang bocor.
Dengan
sisa tenaga setelah muter-muter nyari tambal ban, aku duduk di kursi yang ada. Segera
ku buka gorengan dan kue sus yang telah ku beli jalan, karena perut belum diisi
dan ternyata hari mulai siang.
“Fa,
kasihan ya bapak itu sudah tua masih bekerja..” kata kakak kosku.
“Anak-anaknya
dimana ya kak..” jawabku singkat, masih sibuk dengan makanan dimulutku.
“Ya
Allah fa, buat apa anak sukses kalau akhirnya tak ada yang merawat orang tuanya
kala senja, padahal ketika itulah bakti anak yang sesungguhnya...”
Lalu
dismabungnya lagi dengan pengalamannya ketika magang di RS (karena memang kakak
ini jurusan kebidanan),ia bercerita tentang kakek-kakek yang tidak dirawat
anaknya dan ditinggal dirumah sakit sendirian, hingga kita bercerita tentang
orang tua kita masing-masing. Dan mata kitapun berkaca-kaca, ditengah haru biru
curhat dan cerita. Ternyata tambal ban telah selesi.
“Kak,
katanya kasihan sama bapaknya?” kataku setelah naik motor.
“Ya,
emang kasihan kan fa.. emang kenapa?” jawabnya singkat.
“Kalau
kasihan kenapa kakak bayar tambal bannya kenapa gak dikasih lebihan?”
“Hehehe...
bayaran sesuai pekerjaannya.” Jawab kakak dengan tanpa dosa.
“Dasar anak
kos, pengiritan sana sini...” >_< #@*&^%
Intinya, berbaktilah kau kepada orang tuamu
naak, surga dan duniamu ada di sana... :D