Kembali semangat menulisku menyala, setelah
sekian lama... lucu juga sebenarnya ketika aku mengatakan bahwa aku suka
menulis tapi jarang menulis. Itu sama saja kau mengatakan kau bisa menggandakan
uang namun kau tetap miskin! Hehehe..
Berangkat dari sepenggal kata diatas aku
membangun semangat untuk menulis lagi dan kali ini berusaha menjadikan menulis
sebagai ‘candu’.. hey, bukan hanya teori marxis saja yang bisa mengatakan agama
adalah candu.. akan aku buat menulis adalah candu bagiku, untuk terus berkarya,
menuangkan ide, bercerita, atau apapun saja. Yaa. Tulis saja! Menulis itu
menyenangkan (katanya). :D
Sebenarnya juga, aku mendapatkan kalimat
itu bukan semata-mata kata per kata itu tiba-tiba jatuh dari langit atau pada malam sunyi nan kelam seorang kakek
tua berbaju putih mendatangi kamar kosku yang nyaman. Baiklah, aku akui aku
mendapatkan kalimat itu (lebih tepatnya mengutip, meniru, atau kau sebut
apalah...) dari seorang yang aku (hanya) mengenalnya dan dan dia tak
mengenalku, bahkan kami bertemu hanya sekali, itupun tanpa kita bercakap
sekatapun satu sama lain, bahkan mungkin dia tidak sadar akan keberadaanku,
bahwa ada makhluk yang bernama ashfa disini. Hahaha.. pertemuan macam apa pula
ini? >_<
Baiklah, aku akan bercerita.. dan kini
bahkan tulisanku menjadi terpengaruh oleh gaya kepenulisannya yang menurutku
ajaib bin cara berfikirnya yang aneh, sebutlah ia ‘tak terbatas’ dan memang
begitulah dia menyebut dirinya. Bermula pada Lembaga dakwah kampus yang selama
ini aku juga berkecimpung disana mengadakan seminar tentang pemikiran Islam
kontemporer yang salah satunya si tak terbatas menjadi pematerinya, aku memang
sangat tertarik untuk mengikuti seminar itu, karena memang ada ustadz faforitku
yang akan jauh-jauh dari Jawa Timur datang ke Jogja unuk mengisi seminar ini,
namun dengan kehendak Allah beliau tidak hadir. Dengan ngotot ikut mata kuliah di kelas lain dan bolos di matakuliah yang lainnya aku berangkat seminar di teatrikal perpus kampusku, diiringi rintik hujan.
Kalau saja salah seorang temanku
tidak menitipkan salam untuk tak terbatas, mungkin saja aku tidak akan tergelitik dan sedikit lebih mengenal si tak
terbatas ini. Kembali
pada si tak terbatas, bermula dari aku membaca facebooknya lalu merambah pada
web yang dia kelola hingga aku membaca blognya sampai jam 3 pagi, dan bermula
dari itu pula semangat menulis ini menyala lagi, dari gaya tulisannya yang
sesuka hati namun syarat manfaat, jujur juga khayal, yang karena memang usianya tak
terlampau jauh dengan usiaku. mungkin karena faktor itu pula, aku langsung merasa 'gue banget' dan klop dengan tulisannya, terutama pada pemikiran Islam, dan dunia khayalnya yang nyeleneh...
Lalu kenapa pula aku menuliskan panjang
lebar tentangnya? Jangan berfikir macam-macam dulu, anggap saja aku hanya
seorang pembaca yang ingin seperti penulis hebat lain. Dan sebagai rasa
trimakasih karena melalui dia pula semangat ini oleh Allah dimunculkan kembali.
Hahaha.. aku berterima kasih kepada si tak
terbatas ini untuk inspirasi dan berbagi kesenangan. Meski ia tidak tahu dan
mungkin tidak akan pernah membacanya. Ya, aku memulai lagi, namun kali ini aku
akan lebih bertanggung jawab dan konsisten atas pilihanku.. Allah terimakasih
untuk hidupku yang penuh warna dan rencanaMu yang tak terduga..
Tulis
saja! menulis itu (memang) menyenangkan... katanya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar