Senin, 16 Maret 2015

Tulis saja! menulis itu menyenangkan, katanya...



Kembali semangat menulisku menyala, setelah sekian lama... lucu juga sebenarnya ketika aku mengatakan bahwa aku suka menulis tapi jarang menulis. Itu sama saja kau mengatakan kau bisa menggandakan uang namun kau tetap miskin! Hehehe..
Berangkat dari sepenggal kata diatas aku membangun semangat untuk menulis lagi dan kali ini berusaha menjadikan menulis sebagai ‘candu’.. hey, bukan hanya teori marxis saja yang bisa mengatakan agama adalah candu.. akan aku buat menulis adalah candu bagiku, untuk terus berkarya, menuangkan ide, bercerita, atau apapun saja. Yaa. Tulis saja! Menulis itu menyenangkan (katanya). :D
Sebenarnya juga, aku mendapatkan kalimat itu bukan semata-mata kata per kata itu tiba-tiba jatuh dari langit  atau pada malam sunyi nan kelam seorang kakek tua berbaju putih mendatangi kamar kosku yang nyaman. Baiklah, aku akui aku mendapatkan kalimat itu (lebih tepatnya mengutip, meniru, atau kau sebut apalah...) dari seorang yang aku (hanya) mengenalnya dan dan dia tak mengenalku, bahkan kami bertemu hanya sekali, itupun tanpa kita bercakap sekatapun satu sama lain, bahkan mungkin dia tidak sadar akan keberadaanku, bahwa ada makhluk yang bernama ashfa disini. Hahaha.. pertemuan macam apa pula ini? >_<
Baiklah, aku akan bercerita.. dan kini bahkan tulisanku menjadi terpengaruh oleh gaya kepenulisannya yang menurutku ajaib bin cara berfikirnya yang aneh, sebutlah ia ‘tak terbatas’ dan memang begitulah dia menyebut dirinya. Bermula pada Lembaga dakwah kampus yang selama ini aku juga berkecimpung disana mengadakan seminar tentang pemikiran Islam kontemporer yang salah satunya si tak terbatas menjadi pematerinya, aku memang sangat tertarik untuk mengikuti seminar itu, karena memang ada ustadz faforitku yang akan jauh-jauh dari Jawa Timur datang ke Jogja unuk mengisi seminar ini, namun dengan kehendak Allah beliau tidak hadir. Dengan ngotot ikut mata kuliah di kelas lain dan bolos di matakuliah yang lainnya aku berangkat seminar di teatrikal perpus kampusku, diiringi rintik hujan.
Kalau saja salah seorang temanku tidak menitipkan salam untuk tak terbatas, mungkin saja aku tidak akan  tergelitik dan sedikit lebih mengenal si tak terbatas ini. Kembali pada si tak terbatas, bermula dari aku membaca facebooknya lalu merambah pada web yang dia kelola hingga aku membaca blognya sampai jam 3 pagi, dan bermula dari itu pula semangat menulis ini menyala lagi, dari gaya tulisannya yang sesuka hati namun syarat manfaat, jujur juga khayal, yang karena memang usianya tak terlampau jauh dengan usiaku. mungkin karena faktor itu pula, aku langsung merasa 'gue banget' dan klop dengan tulisannya, terutama pada pemikiran Islam, dan dunia khayalnya yang nyeleneh...
Lalu kenapa pula aku menuliskan panjang lebar tentangnya? Jangan berfikir macam-macam dulu, anggap saja aku hanya seorang pembaca yang ingin seperti penulis hebat lain. Dan sebagai rasa trimakasih karena melalui dia pula semangat ini oleh Allah dimunculkan kembali.
Hahaha.. aku berterima kasih kepada si tak terbatas ini untuk inspirasi dan berbagi kesenangan. Meski ia tidak tahu dan mungkin tidak akan pernah membacanya. Ya, aku memulai lagi, namun kali ini aku akan lebih bertanggung jawab dan konsisten atas pilihanku.. Allah terimakasih untuk hidupku yang penuh warna dan rencanaMu yang tak terduga..
Tulis saja! menulis itu (memang) menyenangkan... katanya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar