Selasa, 25 Juli 2017

Capaian Orang Lain Bukan Berarti Kegagalan Kita

Ansos dari dunia maya dan dunia nyata. Saya pernah melakukan itu. So, apa yang kamu lakuin Fa? Nothing, cause doing nothing is actually doing a thing. hehehe.. Yeah I just lot of thinking, bahasa kerennya merenung. Dan sebenarnya, ketika saya hanya banyak berfikir saja tanpa bertindak itu juga bukan suatu hal seharusnya karena sebagus apapun suatu gagasan tidak akan menjadi bagus jika tidak dilakukan, katanya.
Lalu bagaimana orang seperti saya, bisa menjadi anti sosial? Entahlah mungkin ini beberapa dari sekian sebab yang menurut saya patut dijadikan alasan, dan juga menjadi bahan perenungan saya. 

Instagram. Ada apa dengan account sosial media yang sedang di gandrungi sekarang ini? Bukannya saya menyalahkan instagamnya, bukan! Tapi lebih bagaimana saya menyikapinya. Berawal dari kejengahan saya dengan posting-postingan yang saling adu domba, yang ketika itu ramai membahas paslon, you know what I mean lah.. Jengah sekali, berita yang ada di tagline hanya berkaitan dengan itu-itu saja, penuh cai maki dan saling serang. Saya pernah membaca sebuah artikel yang menyatakan bahwa ketika otak kita hanya di penuhi hal-hal negatif maka lambat laun otak kita juga akan mengarah pada hal yang negatif pula. Jadi, saya tidak mau memenuhi kepala saya hanya dengan masalah-masalah yang saya pun bingung bagaimana menyelesaikannya dan tak punya kapasitas untuk membicarakannya.
Kedua,nyadar nggak sih.. Ketika kita scroll intagram atau media sosial apapun kita tanpa sadar menjadi lupa waktu. Beberapa menit kita atau malah berjam-jam dari waktu kita terbuang sia-sia hanya dengan duduk dan memandang layar handphone kita untuk sekedar memenuhi rasa keingintahuan kita yang belum tentu bermanfaat juga. Rugi! Rugi!
Ketiga, ketika saya melihat update teman-teman yang berisi achievement mereka. I'm feeling down.. Muncul lah pikiran-pikiran. "Waah, mereka udah ini udah itu, kok aku stuck disini aja ya, kok aku masih gagal aja ya, dan sebagainya". Ya! Sesempit itu pikiran saya ketika itu. Hingga akhirnya saya sadar and mulai berikir I have to stop. Oke, let's say kalau sosial media memang akun untuk pamer, dan tanpa sadar sosial media juga udah jadi semacam CV kita yang menggambarkan diri kita, meski tidak sepenuhnya benar adanya. kenapa tidak sepenuhnya benar? Karena media sosial adalah dunia ideal yang diciptakan oleh si empunya. Tidak mungkin kan kita post hal yang tidak terlihat "keren" atau menjatuhkan diri kita sendiri?

Sebenarnya kita hidup untuk membuktikan apa? membuktikan kepada siapa?  Toh tak semua orang peduli, dan pencapaian yang kita dapat, pasti juga ada pencapaian orang lain yang lebih tinggi lagi, begitu seterusnya. Lantas apa yang harus kita sedihkan? Toh tidak semua orang perlu tau siapa kita? Toh setiap orang berbeda, mengapa harus sama? 

Finally, dari sini saya jadi belajar banyak hal. Salah satunya, bahwa pencapaian orang lain bukan berarti kegagalan untuk kita. Bagaimana bisa kita dibandingkan satu sama lain sedang kita punya jalan, cara, dan keadaan masing-masing. Punya saat tepat dan terbaiknya masing-masing. Mana bisa saya dibandingkan dengan anak yang lahir dan tumbuh besar di Amerika tentang penguasaan bahasa inggis, misalnya. Dia sejak balita juga sudah bisa berbahasa inggris, sedang saya kenal bahasa inggris saja baru SD. Mana mungkin akan sepadan dalam waktu yang bersamaan?

Bersyukur atas apapun yang ada pada diri kita saat ini, karena itu lah yang terbaik menurut Tuhan untuk kita. Nikmati saja alur dan likunya sambil terus berusaha sebaik-baiknya, hingga waktu terbaik itu datang kepada kita. Sehingga menunggu waktu terbaik itu tak terbuang sia-sia. Dan tak mungkin ada reaksi bila tanpa aksi, bukan?




~23.20  

Senin, 17 Juli 2017

Sarapan Cerita Asrama

Rasanya pembahasan kapan nikah tak ada habisnya bila dibahas, seperti pagi ini asrama "hidup" setelah halaqoh subuh. Ya, apalagi kalau bukan membahas tentang nikah? bermula dari pembahasan anak-anak binaan kita, pendidikan anak, hingga proses menjemput jodoh. Sering kali, saya lebih sering membahas dan berfikir tentang bagaimana pendidikan anak ketimbang bagaimana dan "siapa" jodoh kita kelak. Padahal semua itu satu paket. hehehe.. Sesuai dengan postingan di instagram yang pernah saya baca, bahwa salah satu hak calon anak-anak kita adalah mencarikan ibu/ayah yang sholih/ah. Ya, tentu saja bagaiamana mungkin seorang kucing akan melahirkan singa?
Saya bukannya tidak memikirkan hal itu, akan tetapi saya meyakini kelak yang akan menemani dan mendampingi saya, Allah sudah mempersiapkannya. Kita hanya perlu berikhtiyar memperbaiki diri dan menjemputnya. Allah berjanji orang yang baik akan mendapatkan yang baik pula. Sedangkan mendidik anak dan membina keluarga tentu membutuhkan ilmu yang tiada habisnya, apalagi jika tujuan kita adalah surga dan ridhoNya.

Kami yang menjadi pembina asrama anak-anak SMA tentu saja kami kadang merasa kewalahan atas tingkah polah mereka. Sedang kami masih belum berkeluarga, pada akhirnya kami la yang belajar dari mereka, belajar dari orang tuanya, belajar dari kejadian-kejadian yang dialami. Ah, kami juga belajar untuk menjadi bijak dan teladan di mata mereka.
Setiap pelaggaran atas peraturan yang ada, kami selalu berikir "Anak ini sebenernya kenapa?" "Apa kita salah dalam membimbignya?". Ternyata jika di runtut tak hanya sampai situ saja. Masalah ada yang berlatabar belakang karena keluarganya, dan menurut kami inilah yang paling banyak kami jumpai.
Pernah kami menemukan anak yang Ia di hadapan kita selalu berkata manis, penurut, namun ternyata dia bermasalah besar di sisi lainnya. Orang tuanya mendidik agar anak-anaknya mendapattkan apapun yang diinginkan. Anak tersebut menceritakan bahwa orang tuanya rela membayar agar anaknya menang dalam suatu kejuaran. Lantas, patut kah kita menyalahkan orang tua dan anaknya? Mungkin bisa, tapi untuk apa? Toh itu sudah berlalu.
Pendidikan merupakan segala hal yang terjadi pada kehidupan kita. Siapapun adalah guru. Jadi, kesalahan yang dilakukan anak-anak kita bisa jadi buah atas tindakan kita juga. Dan banyak kisah lain yang lebih membuat kami tercengang tak percaya.

Teman saya bilang ketika dia mengikuti kajian parenting, pemateri mengatakan "Jika anak-anak kita nakal, keluarga kita penuh dengan masalah. Coba ingat kembali apa yang telah orang tua lakukan dulu. Jangan-jangan ketika menjemput jodoh ada hal-hal yang tak sesuai dengan aturanNya." Ah ya, bukankah apa yang kita tanam itu yang akan kita petik.




*Ayo semangat calon emak-emak smart nan sholihah, bukan emak-emak yang eting ke kanan belok ke kiri. ><

Minggu, 16 Juli 2017

Nostalgia pada Pertemuan

Aku tak tahu,
Bagaimana memulai tapi sudah menjadi akhir?
Bermuara namun juga menepi
Kau tau, ah ya.. Kau tak tahu.
Setiap lorong yang ku temui adalah kamu
Mengapa meyapamu di sudut bayang itu begitu tabu?

Aku tak tahu,
Jarak antara mimpi ku dan milikmu bertemu
Berharap bahwa itu bukan semu, hingga detik ini.
Lagi-lagi kau tak tahu.
Bahwa setiap kata tanpa tatap muka itu ku rindu
Setiap aksaramu tlah mengajakku kesini, pada bait ini.

Aku tak tahu,
Bagaimana mungkin itu kamu?
Kau tak tahu,
Bahwa itu aku.