Senin, 17 Juli 2017

Sarapan Cerita Asrama

Rasanya pembahasan kapan nikah tak ada habisnya bila dibahas, seperti pagi ini asrama "hidup" setelah halaqoh subuh. Ya, apalagi kalau bukan membahas tentang nikah? bermula dari pembahasan anak-anak binaan kita, pendidikan anak, hingga proses menjemput jodoh. Sering kali, saya lebih sering membahas dan berfikir tentang bagaimana pendidikan anak ketimbang bagaimana dan "siapa" jodoh kita kelak. Padahal semua itu satu paket. hehehe.. Sesuai dengan postingan di instagram yang pernah saya baca, bahwa salah satu hak calon anak-anak kita adalah mencarikan ibu/ayah yang sholih/ah. Ya, tentu saja bagaiamana mungkin seorang kucing akan melahirkan singa?
Saya bukannya tidak memikirkan hal itu, akan tetapi saya meyakini kelak yang akan menemani dan mendampingi saya, Allah sudah mempersiapkannya. Kita hanya perlu berikhtiyar memperbaiki diri dan menjemputnya. Allah berjanji orang yang baik akan mendapatkan yang baik pula. Sedangkan mendidik anak dan membina keluarga tentu membutuhkan ilmu yang tiada habisnya, apalagi jika tujuan kita adalah surga dan ridhoNya.

Kami yang menjadi pembina asrama anak-anak SMA tentu saja kami kadang merasa kewalahan atas tingkah polah mereka. Sedang kami masih belum berkeluarga, pada akhirnya kami la yang belajar dari mereka, belajar dari orang tuanya, belajar dari kejadian-kejadian yang dialami. Ah, kami juga belajar untuk menjadi bijak dan teladan di mata mereka.
Setiap pelaggaran atas peraturan yang ada, kami selalu berikir "Anak ini sebenernya kenapa?" "Apa kita salah dalam membimbignya?". Ternyata jika di runtut tak hanya sampai situ saja. Masalah ada yang berlatabar belakang karena keluarganya, dan menurut kami inilah yang paling banyak kami jumpai.
Pernah kami menemukan anak yang Ia di hadapan kita selalu berkata manis, penurut, namun ternyata dia bermasalah besar di sisi lainnya. Orang tuanya mendidik agar anak-anaknya mendapattkan apapun yang diinginkan. Anak tersebut menceritakan bahwa orang tuanya rela membayar agar anaknya menang dalam suatu kejuaran. Lantas, patut kah kita menyalahkan orang tua dan anaknya? Mungkin bisa, tapi untuk apa? Toh itu sudah berlalu.
Pendidikan merupakan segala hal yang terjadi pada kehidupan kita. Siapapun adalah guru. Jadi, kesalahan yang dilakukan anak-anak kita bisa jadi buah atas tindakan kita juga. Dan banyak kisah lain yang lebih membuat kami tercengang tak percaya.

Teman saya bilang ketika dia mengikuti kajian parenting, pemateri mengatakan "Jika anak-anak kita nakal, keluarga kita penuh dengan masalah. Coba ingat kembali apa yang telah orang tua lakukan dulu. Jangan-jangan ketika menjemput jodoh ada hal-hal yang tak sesuai dengan aturanNya." Ah ya, bukankah apa yang kita tanam itu yang akan kita petik.




*Ayo semangat calon emak-emak smart nan sholihah, bukan emak-emak yang eting ke kanan belok ke kiri. ><

Tidak ada komentar:

Posting Komentar