Sabtu, 23 September 2017

Quarter Life Crisis

Memasuki usia seperempat abad, banyak hal yang sepertinya sepele tapi bisa jadi renugan panjang. Hingga banyak hal yang mulai di khawatirkan, mulai banyak hal yang jadi bahan pertimbangan. Pada akhinya mulai ragu untuk melangkah, merasa stuck. padahal sebenernya nggak juga. Achievement yang di capai juga ada dan target yang ingin diraih juga beberapa sudah terpenuhi. Namun entah bagaimana rasanya ada yang kurang, kosong. Malah jatuhnya merasa nggak punya pilihan hidup selain yang di ditentukan oleh lingkungan, males kalau ditanya rencana masa depan.
Idul Adha kemarin setelah ikut ENJ, ada kesempatan buat pulang ke rumah. Akhinya dirumah yang begitu nyamannya munculah fikiran-fikiran itu kembali. Hingga akhirnya aku curhat sama temen yang emang dia sering jadi kuping buat dengerin sampah-sampahku, jawabin pertanyaan-pertanyaan ku yang nggak mutu.

Dan, jawaban dia atas segala curhatan dan kegalauanku cuma simple.
"Minta petunjuk sama yang di atas"
Pengen jitak dia rasanya! Sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama. Dari kegalauan ini, akhirnya iseng googling, dan ternyata itu adalah hal normal yang di rasakan oleh manusia yang sedang dan akan mencapai usia 25 tahun. Yup! Fase itu dikenal dengan fase krisis seperempat abad. (Silahkan googling sendiri ya kalau mau tau tentang quarter life crisis ini).

Memang simple sekali jawaban temanku tadi, tapi ada benarnya juga. Dari sekian rentetan kejadian yang aku alami, dan menginstrospeksi diri. Aku mungkin terlalu melihat orang lain, membandingkan pencapaian oang lain dan diriku sendiri, sehingga selalu merasa kurang terhadap diriku. Padahal, orang lain mungkin juga merasakan  apa yang aku alami, tapi mungkin lebih pandai untuk mengatur bagaimana menyikaapinya. Ah, bukankah sangat wajar jika kita mengkhawatikan sebuah ketidak pastian?
Jadi, seperti kata temanku tadi... Minta petunjuk sama yang diatas (Allah). Pada siapa lagi kita meminta jawaban atas segala ketidak pastian kalau bukan kepada Ia yang mengatur seluruh kehidupan kita? Ya minta dulu sama Allah, dekati Allah. Perbaiki hubungan kita denganNya, mulai lagi memperbaiki sholat kita, tilawah kita, dan terus mengisstiqomahkan ibadah sunnah yang sudah kita jalankan.
selanjutnya? Fokus saja pada apa yang ingin kita raih, lakukan apa yang bisa kita lakukan saat ini.
Tentu saja ini bukan jawaban final atas fase ini, kita harus terus belajar dan belajar, karena ini hanyalah sebuah fase, jika kita mampu bijaksana dalam melewatinya tentu kita akan semakin siap menghadapi fase selanjutnya bukan?


-10.32pm  

Minggu, 03 September 2017

Ekspedisi Nusantara Jaya : Kangean bikin Kangen

16 Agustus-26 Agustus 2017. Saya berkesempatan dan terpilih menjadi salah satu delegasi kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta unuk menjadi peserta kegiatan Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 yang diadakan oleh Kemenko Bidang Maritim Republik Indonesia di pulau kangen. Berawal keinginan saya untuk menjadi bagian barisan pemuda yang ingin berkonstribusi dalam kemajuan dan pembangunan negeri saya mengikuti seleksi acara ini.
Ekspedisi ini, mengeksplore dan turut berkonstribusi untuk majukan  pulau-pulau 3T di Indonesia melalui pogam-pogram yang dirrancang oleh peserta ENJ. Perjalanan kami menggunakan kapal Sabuk Nusantara 27 selama 2 malam 3 hari, saya yang sebelumnya belum pernah mengendarai kapal, perjalanan ini menempa pribadi saya. Ketika itu gelombang laut begitu besar, sehingga banyak dari rombongan kami yang sakit, temasuk saya yang mual karena ini pengalaman pertama saya. Namun disinilah diri kami ditempa untuk saling peduli dan membantu satu sama lain meski kondisi diri juga memerlukan bantuan. Kami juga berkesempatan untuk berkunjung di pulau sapeken meski hanya sebentar, kami mendapatkan keluarga baru disana.

Perjalanan yang terasa lama dan melelahkan terbayar sudah, ketika kami kesokan harinya pada 17 Agustus 2017 merasakan khidmadnya mengikuti upacara bendera dan merayakan hari kemerdekan Republik Indonesia disalah satu pulau tertinggal Indonesia. Bersama jajaan pemerintah daerah, guu dan siswa SD, SMP, dan SMA. Bertemu dengan masyarakat yang minim menggunakan bahasa Indonesia, namun kami seolah melebur dan disatukan dengan lagu Indonesia Raya.

Kami disana melakukan program pada sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan. Saya berada pada divisi pendidikan sesuai bidang yang saya geluti saat ini. Kami dari tim pendidikan berbagi kepada anak-anak tentang penanaman rasa cinta tanah air melalui pengenalan Indonesia, Penanaman nilai-nilai moral dan kebiasaan baik untuk menjaga Lingkungan. Memberikan sosialisasi perguruan tinggi kepada siswa Sekolah Mengengah Atas. Juga pengelolaan rumah baca dan menumbuhkan minat baca pada warga.


Awalnya, saya berfikir saya ingin bekonstribusi dan berbagi namun saya lah yang banyak belajar dan mendapatkan lebih dari yang saya bagi. Saya tidak meyangka bagaimana dogeng yang saya ceritakan kepada anak-anak bisa begitu diingat oleh mereka dan diceritakan kepada orang tua mereka juga. Lagu-lagu sederhana yang kami ajarkan jadi dilantunkan di sekolah dan memudahkan mereka belajar, menurut guru kelas mereka. Informasi perguruan tinggi yang selama ini kami anggap biasa saja, ternyata menjadi infomasi yang berarti bagi mereka.  Bahkan dari pelafalan kata Endonesia menjadi Indonesia. Saya belajar banyak dari masyarakat yang awalnya, saya rasa tidak ramah karena menggunakan bahasa daerah yang tidak saya pahami dengan nada yang keras, ternyata begitu ramah, selalu menolong kami, dan menjadi keluarga kami dan tetap berkirim kabar hingga saat ini. 
Dari sini saya bahwa keramahan, persaudaraan dan rasa bhineka tunggal ika masih tetap ada di masyarakat Indonesia meski terkadang seolah mulai tergerus oleh zaman. Terkagum dengan Indahnya alam dan kekayaan bumi Indonesia. Tentu tak lupa, saya bersyukur dipertemukan dengan team yang hebat, yang disana saya banyak belajar dengan anda tawa dan berbagai masalah yang datang kita tetap bertahan dan lalui. Bertemu dengan masyarakat dan keluarga baru yang membuat saya yakin bahwa dimanapun bumi Indonesia yang kau pijaki dan siapapun yang kamu temuai adalah keluargamu. ENJ! Bersama Membangun Negeri!