Sabtu, 21 Oktober 2017

Kapan Nikah?


Judulnya serem ya? Buat kamu yang jomblo, single, jojoba, singlelillah entah apalagi sebutannya.. Katanya, menjawab ini lebih susah daripada menjawab soal ujian. Hal lumrah sih di Indonesia ketika pertanyaan-pertanyaan seperti itu dilontarkan pada kita yang berada pada usia 20an. Ah, hidup emang banyak pertanyaan, dan sebenernya setiap pertanyaan yang datang ke diri kita nggak semuanya harus kita jawab dan kita juga belum tenntu menemukan jawabannya, bukan?

2Minggu lalu setelah selesai pengajian tinggallah aku dan seorang temenku, dia mengawali percakapan kami dengan "Emang kamu nggak pengen nikah fa? Kok aku ngelihat kamu santai banget padahal kamu udah 23 tahun?" Aku bengong, sejujurnya kami berdua memang tidak begitu deket, dan tidak menangka dia akan menanyakan hal beginian. Akhirnya kita ngobrol sebentar, ternyata dia memang sudah sering dintanya hal demikian dan minta orang tuanya untuk segera menikah, bahkan sudah dikenalkan dengan seorang yang menurut orang tuanya baik dan memang temanku ini bukan penganut madzhab pacaran. Sehingga dia mulai gelisah dan mulai jengah dengan pertanyaan-pertanyaan tesebut yang berbau pernikahan. Social Pressure seperti inilah yang membuat seorang tergesa-gesa menikah, bukan bersegera menikah. Emang siapa sih yang mewajibkan wanita usia 25 tahun harus sudah menikah? Padahal setiap orang mempunyai keadaan dan waktunya masing-masing.

Menurutku, besegera dan teburu-buru itu beda, sangat berbeda. Jika bersegera ada kata siap disana, ada persiapan yang sudah diusahakan sebelumnya, maka dari itu ia ingin segera meraih apa yang telah di usahakan. Berbeda dengan terburu-buru, terburu-buru terjadi karena ada faktor ekstenal yang menjadikannya melakukan itu. Kamu terburu-buru ke kampus karena kamu terlambat bangun, misalnya.
Begitu pula dengan segera menikah, pada dasarnya bersegera itu bukan berpatokan pada lambat dan cepatnya waktu menuju pernikahan, tetapi lebih pada bagaimana kamu mempersiapkan pernikahan itu sendiri, karena menikah adalah perjalanan yang sebisa mungkin harus dijaga dan dipertahankan hingga kamu mati, Mempersiapkan ddan membangun peradaban baru kedepannya. So, kita butuh ilmu dan bekal yang matang untuk menuju pada jenjang tersebut. namun seringkali kita malah disibukkan dengan pertanyaan "siapa" bukan "bagaimana".

Kita disibukkan, dengan "siapa" yang akan menikah dengan kita, sehingga tanpa sadar yang kita persiapkan adalah bagaimana dia yang kita sukai juga menyukai kita, menggalau memikirkan dia yang kita harapkan menjadi pasangan kita, khawatir apakah nantinya kita akan bersamanya atau tidak. Kita sering lupa dengan "bagaimana" persiapan dan cara kita menujunya, apakah sudah benar atau belum, sudahkah sesuai dengan cara-cara yang Allah ridhoi atau tidak? Bukankah penikahan itu baik dan menyempurnakan separuh agama kita, kedepannya pun kita menginginkan sebuah kebaikan disana? Maka sudah seharus dimulai dengan sesuatu yang baik juga.   

Jodoh itu nggak akan kemana kalau kata pepatah, garam dilaut asam digunung aja bisa ketemu di sayur asem. Jadi kamu yang bisa berfikir, berusaha, berjalan kesana kemari dan tertawa (nyanyi lagu akad >,<) masa tidak dipertemukan jodohnya? Lagi-lagi yang perlu kita fikirkan adalah "bagaimana". Persiapkan mulai dari sekarang, karena hal-hal tebaik silih berganti menghampiri kita, namun ketika kita belum siap maka akan terlewat begitu saja, karena hal baik tidak akan menunggu kita siap atau belum siap. Maka dari itu, jika kita mempesiapkan diri dari sekarang ketika yang baik itu datang kita bersegera bukan terburu-buru karenanya. Jika kamu ingin yang baik maka jadilah yang baik! Seperti kata Sapardi Djoko Damono.

Sajak kecil tentang cinta

Mencintai angin harus menjadi siut...
Mencintai air harus menjadi ricik...
Mencintai gunung harus menjadi terjal...
Mencintai api harus menjadi jilat...
Mencintai cakrawala harus menebas jarak...

MencintaiMu harus menjadi aku”

Selasa, 17 Oktober 2017

Kamu Pikir, Kamu Keren?

Bagi kamu mahasiswa pasti pernah mendengar istilah mahasiswa Kupu-Kupu (Kuliah Pulang, Kuliah Pulang) atau Mahasiswa Kura-Kura (Kuliah Rapat-Kuliah Rapat). Dan mahasiswa kura-kura inilah yang sering disebut aktivis kampus dengan seabrek aktivitasnya. Dulu, ketika awal-awal memasuki dunia perkuliahan banyak sekali seminar-seminar tentang motivasi diri, meningkat potensi diri, dll. Hingga timbulah mindset bahwa mahasiswa harus berorganisasi  yang hanya kuliah pulang tidak mengikuti organisasi atau mahasiswa yang bekutat hanya dengan kulaih atau study oriented bukan mahasiswa ideal. Dulu, ketika aku masih semester awal-awal aku juga berfikir demikian.

Namun seiring berjalannya waktu, bertemu banyak orang, mendengarkan kisah mereka. aku mulai menyadari bahwa setiap kita punya peran. Bisa jadi, kita yang mengaku sebagai seorang aktivis kampus konsribusi kita tidak lebih besar dibanding mereka yang terlihat kuliah-pulang atau yang bekuat pada buku-buku dan junal perkuliahan. Bisa jadi, mereka yang harus bergegas pulang ke rumah, membantu atau merawat orang tuanya, mereka yang aktif menghidupkan pemuda dan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, atau mereka yang seselesainya kuliah mereka harus bekerja demi manjutkan kuliahnya. Dan mereka yang terlihat hanya berkutat dengan buku dan studynya bisa jadi mereka lah yang ilmunya lebih bermanfaat untuk masyarakat, dengan penelitian dan keilmuan mereka. Jangan-jangan malah kita yang seolah ibuk mengurusi oganisasi hanya untuk mencari nilai, atau bahkan eksistensi diri? Jangan-jangan skripsi kita yang katanya aktivis kampus hanya sebatas prasyarat untuk meraih gelar dan memakai toga?
Maka, bersyukurlah kamu yang Allah berikan kesempatan untuk mencicipi nikmatnya beroganisasi karena tak semua orang mau dan memiliki kesempatan itu. Namun, jangan merasa kamu lebih baik dan lebih tau. Bisa jadi, kesibukan yang kita elu-elukan itu hanya semu...
Jadi, kamu pikir kamu keren?
Setiap dari kita mempunyai peran masing-masing pada kehidupan kita, bagaimanapun keadaannya itulah hal terbaik yang Allah berikan kepada kita, tak perlu membandingkan diri dengan siapapun, tak perlu megukur diri dengan pencapaian yang orang lain raih, tak perlu tunjukan dan buktikan apapun kepada siapapun. Cukup lakukan yang terbaik, lakukan dengan sungguh-sungguh sepenuh hati, beri manfaat kepada diri dan sekelilingmu meski tak ada yang peduli, meski tak diketahui. Bukankah ada Ia yang Maha mengetahui?
Jadi, kamu pikir kamu keren? Katakan Ya! kamu keren dengan caramu sendiri... 

Jumat, 06 Oktober 2017

Menjual Rindu

Ku paksakan masuk dengan gusar
Aku tau ini sudah penuh sesak dan aku akan memikulmu berat,
Percuma jika aku lari dari jejak-jejak kita
karena ku akan temui mu dimana-mana,
Di lorong-lorong dimana kakiku terseok berpijak,
diriuh percakapan pembeli yang menikmati panas kopinya..
Bahkan diremang lampu warung yang mulai buka di ujung senja..


Aku juga ingin seperti pedagang,
Aku ingin menjual rinduku dengan tuntas...
Rindu yang tak tau apakah kau juga mau membelinya meski ku beri cuma-cuma..
Tawaran itu tak berlaku bila itu bukan kamu, karena ini memang untukmu...
Tak bisakah kau tuntaskan basa-basi tawar menawarmu itu?
Aku tak mau membawanya semakin berat dan berganti beku...
Hingga kau akhirnya setuju untuk membaginya dengaku..
Namun sayangnya, meski senja dan malam bersatu kita tak kunjung saling bertemu..

Siapa Aku Untukmu?


Banyak cerita yang ingin ku slesaikan dengamu,
Merajukmu berbagi kepingan puzzle padaku,
Hingga muncul tanya, "untuk apa?"

Untuk apa, jika pada akhirnya yang akan ku temui hanya bisu?
Untuk apa, jika aku hanya akan menjadi pilihan terakhirmu?
Hingga aku tau, "siapa aku untukmu?"

-23.17