
Judulnya serem ya? Buat kamu yang jomblo, single, jojoba, singlelillah entah apalagi sebutannya.. Katanya, menjawab ini lebih susah daripada menjawab soal ujian. Hal lumrah sih di Indonesia ketika pertanyaan-pertanyaan seperti itu dilontarkan pada kita yang berada pada usia 20an. Ah, hidup emang banyak pertanyaan, dan sebenernya setiap pertanyaan yang datang ke diri kita nggak semuanya harus kita jawab dan kita juga belum tenntu menemukan jawabannya, bukan?
2Minggu lalu setelah selesai pengajian tinggallah aku dan seorang temenku, dia mengawali percakapan kami dengan "Emang kamu nggak pengen nikah fa? Kok aku ngelihat kamu santai banget padahal kamu udah 23 tahun?" Aku bengong, sejujurnya kami berdua memang tidak begitu deket, dan tidak menangka dia akan menanyakan hal beginian. Akhirnya kita ngobrol sebentar, ternyata dia memang sudah sering dintanya hal demikian dan minta orang tuanya untuk segera menikah, bahkan sudah dikenalkan dengan seorang yang menurut orang tuanya baik dan memang temanku ini bukan penganut madzhab pacaran. Sehingga dia mulai gelisah dan mulai jengah dengan pertanyaan-pertanyaan tesebut yang berbau pernikahan. Social Pressure seperti inilah yang membuat seorang tergesa-gesa menikah, bukan bersegera menikah. Emang siapa sih yang mewajibkan wanita usia 25 tahun harus sudah menikah? Padahal setiap orang mempunyai keadaan dan waktunya masing-masing.
Menurutku, besegera dan teburu-buru itu beda, sangat berbeda. Jika bersegera ada kata siap disana, ada persiapan yang sudah diusahakan sebelumnya, maka dari itu ia ingin segera meraih apa yang telah di usahakan. Berbeda dengan terburu-buru, terburu-buru terjadi karena ada faktor ekstenal yang menjadikannya melakukan itu. Kamu terburu-buru ke kampus karena kamu terlambat bangun, misalnya.
Begitu pula dengan segera menikah, pada dasarnya bersegera itu bukan berpatokan pada lambat dan cepatnya waktu menuju pernikahan, tetapi lebih pada bagaimana kamu mempersiapkan pernikahan itu sendiri, karena menikah adalah perjalanan yang sebisa mungkin harus dijaga dan dipertahankan hingga kamu mati, Mempersiapkan ddan membangun peradaban baru kedepannya. So, kita butuh ilmu dan bekal yang matang untuk menuju pada jenjang tersebut. namun seringkali kita malah disibukkan dengan pertanyaan "siapa" bukan "bagaimana".
Kita disibukkan, dengan "siapa" yang akan menikah dengan kita, sehingga tanpa sadar yang kita persiapkan adalah bagaimana dia yang kita sukai juga menyukai kita, menggalau memikirkan dia yang kita harapkan menjadi pasangan kita, khawatir apakah nantinya kita akan bersamanya atau tidak. Kita sering lupa dengan "bagaimana" persiapan dan cara kita menujunya, apakah sudah benar atau belum, sudahkah sesuai dengan cara-cara yang Allah ridhoi atau tidak? Bukankah penikahan itu baik dan menyempurnakan separuh agama kita, kedepannya pun kita menginginkan sebuah kebaikan disana? Maka sudah seharus dimulai dengan sesuatu yang baik juga.
Menurutku, besegera dan teburu-buru itu beda, sangat berbeda. Jika bersegera ada kata siap disana, ada persiapan yang sudah diusahakan sebelumnya, maka dari itu ia ingin segera meraih apa yang telah di usahakan. Berbeda dengan terburu-buru, terburu-buru terjadi karena ada faktor ekstenal yang menjadikannya melakukan itu. Kamu terburu-buru ke kampus karena kamu terlambat bangun, misalnya.
Begitu pula dengan segera menikah, pada dasarnya bersegera itu bukan berpatokan pada lambat dan cepatnya waktu menuju pernikahan, tetapi lebih pada bagaimana kamu mempersiapkan pernikahan itu sendiri, karena menikah adalah perjalanan yang sebisa mungkin harus dijaga dan dipertahankan hingga kamu mati, Mempersiapkan ddan membangun peradaban baru kedepannya. So, kita butuh ilmu dan bekal yang matang untuk menuju pada jenjang tersebut. namun seringkali kita malah disibukkan dengan pertanyaan "siapa" bukan "bagaimana".
Kita disibukkan, dengan "siapa" yang akan menikah dengan kita, sehingga tanpa sadar yang kita persiapkan adalah bagaimana dia yang kita sukai juga menyukai kita, menggalau memikirkan dia yang kita harapkan menjadi pasangan kita, khawatir apakah nantinya kita akan bersamanya atau tidak. Kita sering lupa dengan "bagaimana" persiapan dan cara kita menujunya, apakah sudah benar atau belum, sudahkah sesuai dengan cara-cara yang Allah ridhoi atau tidak? Bukankah penikahan itu baik dan menyempurnakan separuh agama kita, kedepannya pun kita menginginkan sebuah kebaikan disana? Maka sudah seharus dimulai dengan sesuatu yang baik juga.
Jodoh itu nggak akan kemana kalau kata pepatah, garam dilaut asam digunung aja bisa ketemu di sayur asem. Jadi kamu yang bisa berfikir, berusaha, berjalan kesana kemari dan tertawa (nyanyi lagu akad >,<) masa tidak dipertemukan jodohnya? Lagi-lagi yang perlu kita fikirkan adalah "bagaimana". Persiapkan mulai dari sekarang, karena hal-hal tebaik silih berganti menghampiri kita, namun ketika kita belum siap maka akan terlewat begitu saja, karena hal baik tidak akan menunggu kita siap atau belum siap. Maka dari itu, jika kita mempesiapkan diri dari sekarang ketika yang baik itu datang kita bersegera bukan terburu-buru karenanya. Jika kamu ingin yang baik maka jadilah yang baik! Seperti kata Sapardi Djoko Damono.
“Sajak kecil tentang cinta
Mencintai angin harus menjadi siut...
Mencintai air harus menjadi ricik...
Mencintai gunung harus menjadi terjal...
Mencintai api harus menjadi jilat...
Mencintai cakrawala harus menebas jarak...
MencintaiMu harus menjadi aku”