Kamis, 23 November 2017

Jeda (Jogja - Kupang)


Kadang kita memerlukan jeda untuk beranjak pada perjalanan selanjutnya. Seperti halnya ketika kita menulis kita memerlukan spasi untuk menggabungkan kata perkata hingga menjadi sebuah paragraf cerita. Sejujurnya, perjalananku INAVIS ke Kupang kemarin aku anggap sebagai spasi atas rutinitasku di Jogja. Dan tentu saja, karena ini sebuah jeda aku membawa kata sebelumnya yang masih menggantung dan memerlukan kata selanjutnya untuk melengkapinya menjadi sebuah cerita. Kata yang ku bawa dalam perjalananku ke Kupang adalah tanya, ragu, khawatir, dan pasrah.

Tanya, ada banyak tanyaku tentang diriku sendiri. Bagaimana kehidupanku di masa depan nanti? Apakah aku akan tetap berjalan sesuai dengan mimpiku? Ragu, pada mimpiku yang tak kunjung nampak meskipun seujung kuku. Masih kah harus aku lanjutkan, atau kah jalani saja yang ada sekarang. Khawatir, kelak ketika aku sudah memasuki dunia kerja atau dunia yang mereka sebut dunia sesungguhnya, aku tetap pada diriku yang terus ingin berbgi dan menebar kemanfaatan kemanapun aku pergi, sedang di sisi lain bagaimana akan berbagi sedangkan tuntutan diri sendiri dan lingkungan yang minta dipenuhi. Ah, aku tak mau menjadi manusia yang hanya berfikir untuk diri sendiri. Dan aku pasrah, hingga aku kadang tak tahu ini pasrah dan berserah atas kehendakNya atau malah menyerah? 

Di perjalanan ini aku memang tak menemukan jawaban, tapi aku di pertemukan dengan mereka yang akan melengkapi kisahku selanjutnya. Bahkan aku malah menemukan petanyaan kembali dan kegalauan. Aku teringat bagaimana seorang temanku bercerita tentang dirinya lalu mengutip kata dari salah satu buku yang pernah dia baca.
"Kita dapat mewujudkan mimpi kita kapanpun, tapi kita punya tenaga yang lebih hingga sampai usia kita 30 tahun." Ya! kita selalu punya kesempatan, selalu! Temanku ini, bahkan sedang mengeja mimpi yang sempat ia tunda. Ia sudah bekerja di kementrian keuangan, lulusan STAN. Padahal mimpinya menjadi diplomat. Lalu mengapa dia memilih STAN? karena ia ingin mewujudkan mimpi orang tuanya terlebih dahulu. Dan kini ia tak berhenti untuk mengejar mimpinya, dia ambil kuliah lagi Hubungan International, padahal jika dilihat seolah ia hanya perlu menikmati hidup dan mengembangkan karirnya. Lihat, dengan waktu sibuknya dia tetap dapat bergabung bersama kami menjadi relawan ditanah timor.

Begitu pula dengan salah seorang temanku yang lain, ia mendapati jiwa dan mimpinya menjadi guru dan mengabdi. Meski berkuliah dibidang bimbingan konseling namun ia harus bekerja sebagai staf HRD di sebuah perusahaan yang meski dirasa masih satu jalur dengan studinya, tapi tetap saja ia tak nyaman dengan yang ia kerjakan sekarang. Bisa dikatakan ia juga mengambil jeda dari kehidupannya. Dia bilang, "Setelah ini kita harus lebih bersemangat dan bersyukur lagi fafa. Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan? Seperti saat ini, kita diberi nikmat yang belum tentu semua orang bisa merasakannya."

Perjalanan memang bukan tentang foto yang indah yang akan kau unggah, bukan tempat mana yang akan kau jelajahi, atau siapa yang akan kau temui. Tapi tentang pembelajaran, tentang kembali bersama diri yang baru. Bersama diri dengan pemahaman baru, kegalauan baru, dan tentu semangat yang baru. Aku memang tak menemukan jawaban atas pertanyaan, dan kekhawtiranku. Tapi aku menemukan jawaban atas perjalanan dan kehidupan teman-temanku yang bisa ku jadikan contoh untuk memacu diri lebih baik lagi. Dan aku tahu, aku tak harus seperti mereka karena kita punya jalan dan liku yang berbeda.

Allah, terimakasih atas segala kesempatan hingga aku bisa belajar. Terimakasih Engkau hadirkan mereka yang datang dan pergi dalam hidup ini. Dan jadikan aku sebaik-baik manusia dimuka bumi ini, manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.. :) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar