Minggu, 04 Juni 2017

Ramadhan 9 : Peran

Hari ini di tengah riuhnya buka bersama komunitas, seperti biasa. Aku menarik diri sejenak mengamati sekitar. Kebiasaanku yang tak hilang.
Betapa bahagianya wajah-wajah itu. Penuh canda tawa dan keceriaan, sorak-sorak canda menggelegar seolah tempat ini milik sendiri, hingga tak terlewat foto sana-sini. 
Ditengah itu semua, kita sering luput pada mereka yang menyajikan makanan, memasaknya di dapur atau yang menjaga kasir. Mereka sibuk meladeni kita sedang kita berengkrama dengan mereka yang kita cinta.

Rasanya jahat juga yaa kita tertawa-tawa mereka bekerja. Tapi itu kan tugas mereka fa? Mereka juga pasti pernah dilayani juga kan. Makan seperti kita? 
Ya memang benar, lihat kita punya peran sendiri-sendiri dalam kehidupan kita. Ada mereka yang mengorbankan waktu berpeluh keringat melayani sedang kita tertawa. Ada pak parkir yang menjaga kendaraan kita sedang kita khusyuk beribadah tarawih. Ada pak supir, pilot, nahkoda yang berbuka ditengah perjalanan,sedang kita asyik menikmati perjalanan yang ada.

Membayangkan jika di dunia ini tak ada orang seperti mereka. Bukan apa-apa kita tak pernah tau bagaimana kehidupan menghimpit mereka sehingga mungkin mereka beribadah tak bisa seleluasa kita.
Dan kita juga tak pantas menghakimi diri kita,bahwa kita lebih baik darinya..
Karena bisa jadi Allah lebih ridho terhadap mereka yang bekerja keras untuk keluarganya, dibanding kita yang berkali-kali menghitung ibadah kita dan mungkin tanpa peduli terhadap mereka.

Setiap manusia punya peran masing-masing dalam kehidupannya. Jika kamu menatap ke atas maka jadikan ia pelecut untuk berusaha lebih baik, dan jangan lupa untuk banyak menatap kebawah, karena yang dibawah menuntunmu untuk bersyukur, berhati-hati dan mengingat kemana kamu akan kembali...

Sabtu, 03 Juni 2017

Ramadhan 8 : L'effort Est ma force


Saya bukan lah orang yang pandai, moto saya hanya khairun naas anfauhumlinnas, sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Berusaha sekeras-kerasnya, berdoa sebanyak-banyaknya dan bertawakal kepada Allah dengan sepenuhnya adalah hal mutlak yang saya coba selalu lakukan. L'effort Est ma force, kerja keras adalah kekuatanku.

Pasti akan selalu ada hal-hal yang memandang sebelah mata atas kerja keras kita. Bahkan ketika yang kamu katakan kerja keras, mungkin akan ada yang nyeletuk “kerja cerdas dong” dan sebagainya. tak perlu dipungkiri juga, bahwa kebanyakan dari kita memang menilai dari hasil yang kita raih. Tak salah memang, hasil mmeupakan bukti sebuah usaha, bukan? Saya jadi ingat kata Aa Gym;
“Berbuat baik saja, akan selalu ada orang yang menganggap buruk. Jadi, untuk apa berbuat buruk yang sudah pasti buruk?”
Terkadang tak semua harus kita dengarkan, kita hanya punya dua tangan yang tak bisa menutup mulut setiap orang, kita punya dua tangan yang bisa kita gunakan untuk menutup telinga kita sendiri. Lagi pula jika kita menyakini bahwa Allah Maha tahu segalanya untuk apa kita khawatirkan penilaian manusia yang hanya tebatas indra?

Lantas bagaimana jika kerja keras yang tlah di upayakan tak kunjung menemui hasil yang di damba, namun caci kian membahana? Ingat Allah tak hanya perintahkan kita untuk ikhtiyar. Tapi masih ada do’a dan tawakal. Kita mudah sekali mengucapkan, ikhiyarr doa tawakal, namun apakah kita benar-benar telah berikhtiyar, berdoa, dan betawakal dengan sessungguh-sungguhnya?
Apakah ikhtiyar yang kita upayakan memang kita niatkan untuk ridhoNya? Apakah ikhtiyar yang kita perjuangkan sesuai dengan apa yang Ia titahkan?
Apakah doa-doa yang kita lantunkan sudah penuh dengan keyakinan bahwa doa kita akan Ia kabulkan? Apakah doa yang kita panjatkan kesunguhan, kesantunan dan penuh pengharapan? Jangan-jangan doa-doa itu hanya rutinitas pelengkap yang kau minta dengan sekenanya? Meminta agar harus tekabul, padahal engkau siapa, hanya peminta?!
Apakah tawakal kita hanya bertahan dibibir saja, namun ketika yang ada tak sesuai yang kau pinta kau begitu kecewa? Malah marah dan ingin menyerah? Atau ketika pinta yang kau ingini tiba, kau berpuas diri, terlena dan terhenti? padahal Allah memintamu jika kau tlah selesai satu urusan bergegaslah untuk urusan yang lain. (Ash-Sahrh:7)

Semoga keja keras yang menjadi kekuatan kita adalah kerja keras yang kita perjuangkan untuk meraih keridhoanNya, yang hasilnya bisa kita tuai juga di firdausNya. Bukan kerja keras yang  begitu nyata di mata manusia namun bagai debu yang berhamburan ketika kelak Ia menghisab amal-amal kita. Dan Katakanlah: “Bekerja-lah kamu , maka Allah dan rasul-nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaan-mu itu dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata lalu diberitakan-Nya kepada-kamu apa yang telah kamu kerjakan.” ( QS. At Taubah , 9 : 105 )

#SelfReminder

Jumat, 02 Juni 2017

Ramadhan 7: Ozon

Bagaimana bisa kita bertemu jika bukan kebetulan takdir apa yang Ia rencana?
Bagaimana kita memberi arti pada setiap masa yang kita jalani bersama?
Bagaimana aku bisa berfikir akan berakhir bahkan kita tak pernah memulainya?

Antara ketidak mampuan dan takutku, jangankan untuk memulai, membayangkan pun aku tak berani..
Jangan kau tanya apa yang ku usahakan untuk itu, lewat lirih doa pun aku malu. Tapi dengan apa lagi jika bukan itu? 
Tak mungkin matahari bumi bersatu jika bukan karena kehendakNya atau kiamat mulai menanda..

Sadar sesadar sadarnya bahwa logika tak mampu memanipulasi rasa. 
Namun siapa bisa memilih kepada siapa untuk siapa. 
Dan untuk kesekian kalinya jatuh dilubang yang sama, dan berharap jatuh sejatuh-jatuhnya. 
Siapa kira siapa sangka dan siapa menduka?

Kamis, 01 Juni 2017

Ramadhan 6 : Islam itu Kita

Ramadhan kali ini, Allah memberikan saya kesempatan untuk bertemu dan belajar dengan seorang ibu yang luar biasa, mempunyai tekad yang kuat dan semangat belajar yang tinggi meski usianya sudah memasuki kepala empat. Hari ini kamai bertemu untuk mengaji, setelah selesai kami bercerita panjang lebar. Beliau bertanya kepada saya. 
"Mbak sekarang kan banyak yaa orang yang jilbabnya besar-besar dan bercadar tapi maaf, kok jorok ya.. Bajunya kedodoran, gak disetrika, bukan cuma itu suaminya juga, rumahnya bau dan berantakan. Gimana itu mbak?"
Mendapat pertanyaan dari beliau saya hanya mengulum senyum, karena bukan kali ini saja ada orang yang berkata demikian, dan saya pun menyaksikannya sendiri. Sedih memang, padahal bersuci dalam Islam adalah hal yang yaang berkaitan erat dengan sholat, ibadah wajib yang dilaksanakan seorang mukmin 5X dalam satu hari. Islam telah mengajarkan segala aspek dalam kehidupan kita, bahkan masuk kamar mandi pun islam mengaturnya dengan berdoa, masuk kamar mandi menggunakan kaki kiri terlebih dahulu dan sebagainya. Lalu apakah kita dapat merepresentasikan ajaran Islam yang indah ini?

Bagi seorang mukmin, siapapun dia apapun profesinya ia adalah seorang pendakwah. Ia membawa Islam pada dirinya. Seperti ketika kita ketika sekolah dulu misanya, kita mengikuti sebuah lomba kita curang dalam mengiktinya maka oang yang ikut dalam perlombaan itu pasti berkata "Ah, sekolah A curang" Padahal tidak semuanya curang kan? Begitu pula, kita seorang muslim, mau tidak mau hal itu pasti terjadi, karena kita bagian dari Islam itu sendiri. Dimata orang lain, Islam itu ya kita.

Lalu, bagaimana dakwah kita akan sampai jika kita yang menyampaikan pun tak sedap dipandang mata. Ini bukan berarti kita harus berpakaian mahal dan bergaya kekinian!   Penampilan memang bukan segalanya, dan menampilan tak selalu menunjukkan esensi sesungguhnya. Tapi, dengan memperhatikan penampilan kita berati juga kita menghagai diri kita.

Ajining diri soko lathi, ajining sariro soko busana.
Harga diri seseorang ditentukan oleh tutur katanya, penampilan seseorang diukur dari pakaiannya.