Senin, 08 Januari 2018

Apa Resolusimu?

Udah telat ya bahas resolusi? Sebenernya buat aku sendiri tahun baru bukanlah moment spesial, tahun baru ini malah aku di asrama sendirian nggak bisa tidur karena siang hari sudah tidur lama di mobil ketika perjalanan Kendal-Jogja. Aku juga nggak pernah merayakan, pun ikut keluar berkumpul di alun-alun untuk menikmati kembang api. Akhirnya tahun baru kemarin hanya di kamar nonton youtube kajian ustadz Felix Siauw dan kebetulan ada teman yang mengirimi link kajian INSISTS. Beuh mantep!

Paginya, buka socmed timeline penuh dengan review tahun 2017, resolusi-resolusi yang akan dilakukan di tahun 2018. Lalu apa resolusimu fa? Hmm... Bahas resolusi, aku jadi ingat bagaimana aku dulu menjalani hidup, penuh dengan mimpi-mimpi dan target-target yang ingin diwujudkan. Jadi, dulu dinding kamar, jurnal penuh dengan coretan. Apa yang aku rasakan? Lelah. Bahkan ketika down aku malah berfikir "Ah, nggak semangat. Aku butuh rival". Butuh rival? saingan? Malah nambah makin lelah bukan?
Mengapa aku merasa begitu lelah, mungkin karena aku sering lupa meletakkan tawakkal kepadaNya bukan sejak awal perjuangan, sehingga ketika diakhir perjuangan ada rasa khawatir disana, ketika kalah dalam pejuangan ada rasa kecewa, hingga terus belajar untuk menerima dan bersabar.
Meski begitu, bukan berarti aku saat ini tidak memiliki resolusi, dan menjalani hidup bagaikan air mengalir. Kali ini aku sedang belajar menjadikan resolusiku adalah resolusi yang selalu melibatkan Allah. Bagaimana resolusi yang melibatkan Allah? Yakni bermimpi dimulai dengan niat benar-benar hanya mengharap ridho Allah, dan megikhlaskan apapun hasil yang telah di ikhtiarkan, sehingga semakin mendatangkan ketawaan dan ketaatan kepadaNya. Resolusi ini tak mudah, karena kita harus senantiasa bertanya dan mengecek diri sendiri apakah niat kita tetap sama, atau malah sebaliknya? Ketika kekhawatiran datang karena ketidak jelasan, kita harus mendidik diri untuk senantiasa berbaik sangka kepadaNya. Dan bila hasil tlah diterima, kita belajar untuk mengikhlaskan atas apapun ketentuanNya.
Tentu kita harus menerbangkan impian kita membumbung tinggi ke langit, namun kita selalu bepijak pada bumi. Urusan setiap mukmin prroduktif, karena apapun yang ia kerjakan, bila itu untuk meraih keridhoanNya maka ia akan berbuah di surga.
Semoga Allah senantiasa melindungi kita pada jalan yang diridhoiNya. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar