Sabtu, 31 Maret 2018

Maret: Novel KEMI

Judul               : KEMI (Cinta Kebebasan Yang Tersesat)
Penulis             : Adian Husaini
Tebal               : 316 hlm
Ukuraran         : 18,3 cm
Penerbit           : Gema Insani
Tahun              : Cetakan I, 2010

Sebuah Novel yang ditulis oleh Adian Husaini seorang intelektual muslim yang bergelut dibidang pemikiran Islam. Tujuan dari novel ini jelas, mengajak pembaca khususnya kaum muslimin untuk menolak dan memahami bahaya fenomena dekadensi akidah yang sekarang sedang menjadi ancaman besar bagi Islam. Tujuan dari novel ini jelas, mengajak pembaca khususnya kaum muslimin untuk menolak dan memahami bahaya fenomena dekadensi akidah yang sekarang sedang menjadi ancaman besar bagi Islam.

Virus liberalisme yang telah menjangkiti masyarakat tanpa sadar, faham yang di sebar luaskan oleh mereka yang mengaku bahwa mereka seorang muslim dan kaum intelektual muslim, namun tanpa sadar faham ini telah merusak akidah Islam karena tidak sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Faham yang menelurkan kerusakan psikis, sosial, moral, ekonomi dan lain-lain, dengan adanya keinginan manusia untuk lepas dari keterikatan suatu agama, sholat yang hanya dianggap kegiatan ritual bukan dianggap bagian dan esensi dari agama Islam, sehingga sholat ritual tidak lebih penting daripada sholat sosial. Sedangkan Pluralisme agama mengajak manusia untuk melihat agama dari sisi abu-abu bukan melihat agama melalui sudaut pandang agamanya masing-masing, menyatakan bahwa semua agama sama yakni sama-sama menuju Tuhan namun dengan ibadah dan penyebutan tuhan yang berbeda-beda.

Novel ini dimulai dengan kisah dua orang santri cerdas kebanggaan pesantren Minhajul Abidin di Madiun, Jawa timur yang ingin menuntut ilmu diluar peantren yakni Kemi dan Rahmat. Kyai Rois pimpinan pesantren tersebut belum mengizinkan mereka untuk keluar dan meminta mereka berdua menunda keinginannya beberapa tahun lagi untuk mendalami ilmu agama lagi di pesantren dulu. Kemi, berkeinginan besar untuk tetap keluar pesantren dan melanjutkan kuliah di Jakarta sehingga Kiyai Rois tidak dapat mencegah keinginan Kemi, meski ada tanda tanya besar atas kepergian Kemi yang begitu mendadak dan terkesan terburu-buru. Sedangkan Raahmat tetap berada di pesantren sesuai dengan permitaan Kyai Rois.

Kepergian Kemi membuat Rahmat terheran-heran dengan sikap yang diambil oleh sahabatnya, karena sebelumnya Kemi sangat membanggakan system pendidikan pesantren bahkan Kemi mengkritik sistem pendidikan formal di perguruan tinggi yang tidak memadukan antara aspek keilmuan dan aspek akhlak pada mahasiswanya. Keheranan Rahmat mulai terjawab ketika Kemi dijemput oleh Farsan seorang alumnus pesantren Minhajul Abidin yang telah dikenal sebagai seorang aktivis liberal. Ternyata, hal ini juga sudah diketahui oleh Kiyai Rois.

Akivitas Kemi di Kampus Damai Sentosa sebuah Institut Lintas Agama yang berlokasi di kawasan Depok Jawa Barat, tanpa sadar telah merubah pola fikir dan kebiasaan Kemi yang jauh dari nilai-nilai Islam. Kecerdasan dan semangat menuntut ilmu yang Kemi miliki membawanya pada corak pemikiran baru, Kemi terus mendalami ide-ide pluralisme, multikulturalisme, kesetaraan gender, hermeneutika Alquran. Melakukan proyek berbagai seminar-seminar diberbagai pesantren dan insitusi pendidikan di Indonesia yang mendapatkan kucuran banyak dana dari asing yang mendukung program-program tersebut.

          Setelah satu tahun kepergian Kemi dari pesantren, Rahmat bertolak ke Jakarta untuk mengantarkan adiknya melanjutkan sekolah disana. Sehingga Rahmat betemu kembali dengan Kemi, bermula dari pertemuan itulah terjadi pebincangan yang alott antara Rahmat dan Kemi tentang pemikiran Islam, sudah barang tentu pemikiran Kemi sangat bertolak belakang dengan pemikiran Rahmat. Logika-logika liberalisme yang dilontarkan Kemi di bantah habis-habisan oleh Rahmat yang juga sudah belajar tentang pemikiran liberal dan kelemahan-kelemahannya. Rahmat membantah dai hal sederhana, bahwa Islam tidak dapat dipadukan dengan kata liberal, akan terjadi beda pemaknaan seperti kata Orang yang di sambungkan dengan utan maka bukan Orang atau manusia lagi, begitu pula dengan Islam liberal. Percakapan-percakapan ini membawa Rahmat untuk menyetujui tantangan Kemi untuk bergabung dengan kelompoknya, bahwa Rahmat tidak akan berubah dan akan menyadarkan Kemi kejalan yang benar dan membawa Kemi kembali ke pesantren.

            Akhirnya Rahmat dengan izin dan bimbingan Kyai Rois bergabung dengan Kemi di Institut Damai Sentosa. Disanalah Rahmat bertemu dengan Siti seorang gadis cantik, cerdas dan aktivis gender. Dari Sitilah Rahmat tahu seperti apa sebenarnya aktivitas yang dilakukan Kemi dan kelompoknya. Siti merasa bahwa sudah saatnya dia meminta bantuan kepada Rahmat untuk menolong Kemi keluar dari kelompoknya sebab ia sadar bahwa ia dan Kemi sudah menjadi korban tergoda impian kebebasan.

Di Institut Damai Sentosa pula, Rahmat bertemu dengan rektor Prof. Abdul Malikan yang aktif menyebarkan ide-ide pluralisme agama, namun diawal perkuliahan argumen dan logikanya dikuliti habis oleh Rahmat di depan para mahasiswa karena sebenanya faham pluralisme sangat lemah dan juga di tolak oleh berbagai pemuka agama. Rahmat juga bertemu dengan Kiyai Dulpikir yang dianggap Kiyai yang  tercerahkan dan sangat pluralis di sebuah seminar, hingga pada akhirnya Kyai Dulpikir pun agumen dan logikanya dibantah habis oleh Rahmat. Kesan yang ditinggalkan Rahmat begiu mendalam sehingga Kyai Dulpikir mulai menyadari kesalahannya,  sampai pada akhirnya Kyai Dulpikir terjatuh dari kursinya di ruang diskusi. Dia tidak sadarkan diri sampai akhirnya meninggal dunia. Di akhir hayatnya Kyai Dulpikir merasa menyesal atas semua perbuatannya dan dia pun sempat mengucapkan istighfar.

Novel yang ditulis dengan unik tentang pemikiran Islam yang dihadapi oleh umat Islam saat ini. Unik karena meskipun tulisan bergenre fiksi ini setiap paragrafnya syarat makna dan pembahasan tentang pemikiran Islam. Pembahasan-pembahasan yang bisa dikatakan “berat” berupa faham Liberalisme, pluralisme, multikulturalisme, kesetaraan gender namun mampu ditulis dan dapat dijelaskan dengan apik melalui percakapan antar tokoh. Namun, dalam novel ini sangat kentara sekali bahwa Adian Husaini adalah seorang yang terbiasa menulis non fiksi, dari segi penceritaan latar sangat sedikit digambarkan, novel ini terfokus bagaimana penyampaian faham-faham  liberalisme dan bagaimana kelemahan-kelemahannya melalui alur cerita yang di sajikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar