Rabu, 04 April 2018

Berdakwah dengan Tinta

Photo taken by panitia PDKT FLP

Dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu hal yang wajar jika manusia ingin saling menebarkan sebuah kebaikan. Kita mendapati toko yang berjualan roti dengan rasa yang enak dan harga yang murah, kita tentu akan mempromosikan dan mengajak orang lain agar membeli roti di toko tersebut. Meski penjual roti tak memberikan imbalan apapun kita akan tetap dengan suka rela melakukannya. Bagaimana dengan dakwah? Jika kita merasakan manisnya iman, kemudahan dalam beribadah dan merasakan nikmatnya berkumpul dengan orang-orang sholih tak tergerakkah hati kita untuk berbagi dan mendakwahkannya juga?
Kata dakwah yang berasal dari bahasa arab memiliki arti mengajak atau memanggil. Sedang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dakwah diartikan  penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama. Dakwah, kita menyeru mengajak orang lain pada kebaikan, agar senantiasa mengamalkan syariat Islam berdasar Alquran dan As Sunnah.
Bagi seorang mukmin, segala yang sesuatu yang ia kerjakan dapat bernilai pahala dan dakwah. Apapun itu, asalkan membawa nilai-nilai kebaikan dan di niatkan untuk mencari ridhoNya itu adalah dakwah. Laku, bicara, bahkan pakaian yang kita kenakanpun dapat bernilai dakwah. Aku, Kamu, dan dakwah kepenulisan, dalam hal ini saling memberikan keterkaitan satu sama lain dalam hal ini, aku dan kamu dalam dakwah dapat menjadi subjek dan objek. Objek dakwah, adalah dimana posisi kita sebagai tempat menerima dakwah, sedangkan subjek dakwah adalah posisi dimana kita berperan sebagai penyampai risalah, penyeru dakwah. Dua hal ini tak dapat dipisakan satu dengan yang lain, karena ketika seorang hanya terus menyampaikan dakwah tanpa menerima dakwah dan ilmu dari tempat lain maka pada akhirnya akan sampai pada titik jenuh, kosong, dan dakwah yang disampaikan hanya itu-itu saja, terus berulang.
Begitu hal nya dengan menulis, menulis tanpa adanya asupan ilmu dari buku yang di baca, kajian yang di dengarkan, maka yang di tulis hanyalah lembaran yang di ulang-ulang. Menulis juga sebuah jalan dakwah, jalan untuk menyuarakan kebaikan-kebaikan menambah ketaatan dan keimanan diri kita sendiri atau pembaca kepada Allah SWT. Islam dibangun atas tintanya para ulama dan darahnya para syuhada. Dengan tulisan-tulisan lah Islam menemui kejayaannya. Bagaimana Alquran pada masa Ustman dihimpun, disatukan menjadi satu kitab, ditulis Zaid bin Haritsah dari hufadz-hufadz terbaik masa itu, hingga alquran terjaga hingga saat ini. Lalu dimana posisi kita saat ini di jalan dakwah? Bahwa meski ada dan tiadanya kita dijalan dakwah ini Islam juga akan tetap berjaya.
 Tulisan adalah cara dakwah yang tak akan pernah mati. Seperti kata Pramodya Ananta Tour: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Kita juga tahu bagaimana ulama-ulama terdahulu meski jasad mereka telah tiada namun karya-karya mereka abadi hingga kini. Dengan tulisan kita dapat berbicara sebanyak yang kita mau, tanpa terbatas waktu, kita dapat menyampaikan apapun meski lisan tak mampu mengungkapkan. Dengan tulisan kita dapat menyampaikan keindahan dalam bentuk lain berupa tulisan. Dan dengan tulisan kita tidak hanya dapat mengerakkan sattu orang tapi juga peradaban. Satu kata mengandung kebaikan yang diikuti oleh orang lain akan menjadi jariyah kita tidak hanya saat di dunia, namun kelak di SurgaNya.
Dalam mengemban risala dakwah, kita tak bisa jika hanya sendiri, tidak hanya aku, tetapi juga kamu. Diperlukan jamaah, kelompok-kelompok yang akan saling menasehati pada kebaikan, memberikan semangat ketika semangat dakwah mulai luntur. Sampailah saya disini bertemu dengan komunitas kepenulisan ini, Forum Lingkar Pena yang saya sudah mengenal sejak lama. Setelah dulu saya sempat bergabung semasa MA di Solo. Akhirnya saya menemukan kembali FLP di Jogja. Melalui FLP saya belajar banyak hal, mengenal penulis-penulis handal, dari Helvy Tiana Rosa, Pipit Senja, Asma Nadia, dan hal yang membuat FLP berbeda dari lainnya yakni komitmennya dalam dakwah, bahwa dalam setiap tulisan dengan gaya tulisan yang beragam ada nilai-nilai yang Islam yang disampaikan. Dari sinilah saya ingin belajar dan menimba ilmu menjadikan tulisan saya bukan hanya sekedar tulisan kosong tak syarat makna, namun tulisan-tulisan yang mampu mengingatkan diri sendiri dan orang lain untuk senantiasa taat kepadaNya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar