Photo taken by panitia PDKT FLP
Dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu hal yang wajar jika
manusia ingin saling menebarkan sebuah kebaikan. Kita mendapati toko yang
berjualan roti dengan rasa yang enak dan harga yang murah, kita tentu akan
mempromosikan dan mengajak orang lain agar membeli roti di toko tersebut. Meski
penjual roti tak memberikan imbalan apapun kita akan tetap dengan suka rela
melakukannya. Bagaimana dengan dakwah? Jika kita merasakan manisnya iman,
kemudahan dalam beribadah dan merasakan nikmatnya berkumpul dengan orang-orang
sholih tak tergerakkah hati kita untuk berbagi dan mendakwahkannya juga?
Kata dakwah yang berasal dari bahasa arab memiliki arti mengajak
atau memanggil. Sedang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dakwah
diartikan penyiaran agama dan
pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan
mengamalkan ajaran agama. Dakwah, kita menyeru mengajak orang lain pada
kebaikan, agar senantiasa mengamalkan syariat Islam berdasar Alquran dan As Sunnah.
Bagi seorang mukmin, segala yang sesuatu yang ia kerjakan dapat
bernilai pahala dan dakwah. Apapun itu, asalkan membawa nilai-nilai kebaikan
dan di niatkan untuk mencari ridhoNya itu adalah dakwah. Laku, bicara, bahkan pakaian
yang kita kenakanpun dapat bernilai dakwah. Aku, Kamu, dan dakwah kepenulisan,
dalam hal ini saling memberikan keterkaitan satu sama lain dalam hal ini, aku
dan kamu dalam dakwah dapat menjadi subjek dan objek. Objek dakwah, adalah
dimana posisi kita sebagai tempat menerima dakwah, sedangkan subjek dakwah
adalah posisi dimana kita berperan sebagai penyampai risalah, penyeru dakwah.
Dua hal ini tak dapat dipisakan satu dengan yang lain, karena ketika seorang
hanya terus menyampaikan dakwah tanpa menerima dakwah dan ilmu dari tempat lain
maka pada akhirnya akan sampai pada titik jenuh, kosong, dan dakwah yang
disampaikan hanya itu-itu saja, terus berulang.
Begitu hal nya dengan menulis, menulis tanpa adanya asupan ilmu
dari buku yang di baca, kajian yang di dengarkan, maka yang di tulis hanyalah
lembaran yang di ulang-ulang. Menulis juga sebuah jalan dakwah, jalan untuk
menyuarakan kebaikan-kebaikan menambah ketaatan dan keimanan diri kita sendiri
atau pembaca kepada Allah SWT. Islam dibangun atas tintanya para ulama dan
darahnya para syuhada. Dengan tulisan-tulisan lah Islam menemui kejayaannya.
Bagaimana Alquran pada masa Ustman dihimpun, disatukan menjadi satu kitab,
ditulis Zaid bin Haritsah dari hufadz-hufadz terbaik masa itu, hingga alquran
terjaga hingga saat ini. Lalu dimana posisi kita saat ini di jalan dakwah?
Bahwa meski ada dan tiadanya kita dijalan dakwah ini Islam juga akan tetap
berjaya.
Tulisan adalah cara dakwah
yang tak akan pernah mati. Seperti kata Pramodya Ananta Tour: “Orang boleh
pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam
masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Kita
juga tahu bagaimana ulama-ulama terdahulu meski jasad mereka telah tiada namun
karya-karya mereka abadi hingga kini. Dengan tulisan kita dapat berbicara
sebanyak yang kita mau, tanpa terbatas waktu, kita dapat menyampaikan apapun
meski lisan tak mampu mengungkapkan. Dengan tulisan kita dapat menyampaikan
keindahan dalam bentuk lain berupa tulisan. Dan dengan tulisan kita tidak hanya
dapat mengerakkan sattu orang tapi juga peradaban. Satu kata mengandung
kebaikan yang diikuti oleh orang lain akan menjadi jariyah kita tidak hanya
saat di dunia, namun kelak di SurgaNya.
Dalam mengemban risala dakwah, kita tak bisa jika hanya sendiri,
tidak hanya aku, tetapi juga kamu. Diperlukan jamaah, kelompok-kelompok yang
akan saling menasehati pada kebaikan, memberikan semangat ketika semangat
dakwah mulai luntur. Sampailah saya disini bertemu dengan komunitas kepenulisan
ini, Forum Lingkar Pena yang saya sudah mengenal sejak lama. Setelah dulu saya
sempat bergabung semasa MA di Solo. Akhirnya saya menemukan kembali FLP di
Jogja. Melalui FLP saya belajar banyak hal, mengenal penulis-penulis handal,
dari Helvy Tiana Rosa, Pipit Senja, Asma Nadia, dan hal yang membuat FLP
berbeda dari lainnya yakni komitmennya dalam dakwah, bahwa dalam setiap tulisan
dengan gaya tulisan yang beragam ada nilai-nilai yang Islam yang disampaikan.
Dari sinilah saya ingin belajar dan menimba ilmu menjadikan tulisan saya bukan
hanya sekedar tulisan kosong tak syarat makna, namun tulisan-tulisan yang mampu
mengingatkan diri sendiri dan orang lain untuk senantiasa taat kepadaNya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar