Minggu, 26 April 2020

Lingkaran Pertemanan

 Pernah nggak kamu merasa dunia begitu sempit? Adaaa saja hal-hal yang menghubungkanmu dengan orang yang baru kamu temui, entah itu kenal dengan orang yang sama, atau memiliki kesukaan terhadap hobi atau sesuatu yang sama? Hingga kalian menjadi akrab?

Ketahuilah bukan dunia yang sempit, tapi memang begitulah kita akan dipertemukan dengan seorang yang tentu memiki 'sebab' kenapa dipertemukan. Aku meyakininya sebagai suatu hal yang bukan hanya kebetulan semata.
Setiap orang juga memiliki pemaknaan yang berbeda tentang pertemanan. Menurutku pertemanan bukan suatu hal yang bisa kita paksakan, tapi lebih pada kecocokan. Itu bukan hal yang salah, karena setiap orang memiliki tempat masing-masing di kehidupan seseorang.

Aku bersyukur memiliki lingkaran pertemanan yang membebaskan, bukan pertemanan dalam artian harus selalu bersama, harus mengerti dan tahu segala hal satu sama lain, harus selalu ada, harus saling berbagi rahasia yang dimiliki. Bukan.
Memahami bahwa lagi-lagi, setiap orang memiliki porsinya masing-masing dalam kehidupan orang lain. Jadi kita tidak perlu memaksakan agar orang lain memahami diri kita, berharap orang lain selalu ada untuk kita. Menjadi berteman dan pernah melalui kenangan bersama saja rasanya sudah cukup untuk menganggap bahwa pertemuan itu berarti, dan layak disyukuri.

Bahwa sesungguhnya pertemanan adalah lingkaran yang akan selalu menghubungkan, meski telah dimakan jarak, bahkan usia. Dan lebih penting dari semua itu, semoga pertemanan kita adalah pertemanan yang membawa kebaikan-kebaikan. Sehingga pertemanan kita tak cukup hanya di dunia, tapi juga sampai kelak di surgaNya.

Sabtu, 25 April 2020

Membiasakan Benar

 Aku dan @rikoirwanto sering sekali diskusi dari mulai hal yang trending sampai yang nggak penting. Seperti beberapa hari yang lalu kami membahas tentang kalimat yang sering kita dengar, seperti "Eh lagi puasa nggak boleh bohong lho.." Memangnya sejak kapan berbohong dibolehkan juga ketika tidak berpuasa? Dimanapun ketidakjujuran bukanlah suatu tindakan yang dibenarkan. Komentar @rikoirwanto kala itu.

Aku menyadari bahwa banyak hal yang telah menjadi kebiasaan dan pemakluman meskipun hal tersebut keliru. Ketika kekeliruan itu dibenahi, maka menjadi terlihat begitu saklek dengan alasan bahwa hal tersebut sudah lumrah, biasanya akan dikomentari seperti; "Santai sih, orang-orang juga biasanya gitu"

Perubahan-perubahan besar dimulai dari hal-hal kecil, pun dimulai dari cara pandang kita dalam melihat sesuatu. Jika cara pandang kita terhadap sesuatu salah, maka akan menghasilkan tindakan yang salah pula. Dari tindakan menghasilkan kebiasaan, lalu menjadi sebuah budaya komunal. Bila kesalahan sudah membudaya tentu akan terus menghasilkan Kekeliruan-kekeliruan yang lain, bukan?

Mungkin beberapa siklus kehidupan rasanya kurang cukup untuk benar-benar mengerti 'hidup sadar', atau malah kita yang enggan memulai mempertanyakan kesadaran kita akan sesuatu, atau mungkin kita yang tak mau memperbaiki sesuatu yang terlanjur salah?
Mari berkontemplasi.

Semoga tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan sebesar apapun itu.

Jumat, 24 April 2020

Tujuan & Sarana

Hidup adalah rangkaian perjalanan yang pertanggungjawabannya di akhirat kelak.Dalam perjalanan kita tentu memiliki sebuah tujuan. Apalagi jika kita telah bersepakat untuk berjalan bersama dengan orang lain, kita harus memiliki tujuan yang sama. Bagaimana akan berjalan bersama jika memiliki tujuan yang berbeda?

Tanpa adanya sebuah tujuan, kita hanya akan mengarungi perjalanan tanpa arah, gamang, dan akan mudah terombang-ambing oleh keadaan. Untuk sampai pada tujuan, kita juga harus memiliki sarana-sarana untuk dapat mencapainya. Sarana-sarana tadilah yang mengejawantah menjadi hal-hal yang mungkin kecil dan sederhana, namun menghidupkan dan mengantarkan kita pada tujuan.

Jika kita seorang muslim tujuan penciptaan kita adalah menjadi hamba yang senantiasa beribadah kepadaNya, dan menjadi khalifah di BumiNya. Sarananya adalah hal-hal yang kita usahakan dalam kehidupan sehari-hari kita. Seiring waktu, kita terkadang menjadikan hal-hal yang sebenarnya sarana untuk mencapai tujuan malah menjadi tujuan. Hingga kita disibukkan pada sarana-sarana yang tak kunjung ada habisnya, dan kita lupa akan tujuan kita yang sebenarnya.
Kelak, bila sarana yang kita miliki rusak, atau bahkan hilang, kita akan dengan mudah lepaskan dan tidak berlarut-larut meratapi. Kita tau tujuan, kita akan bersegera mencari sarana lain yang dapat mengantarkan kita padanya.

Semoga tulisan ini menjadi sebuah pengingat, jika kelak langkah kita mulai tak sama karena lelah, sakit, atau karena rintangan yang ada, kita tetap ingat bahwa diawal kita memiliki tujuan yang sama, maka kita pasti bisa menyelesaikan bersama-sama.
Semoga apa-apa yang Allah titipkan pada kita saat ini, menjadi sarana kita untuk senantiasa mengharap keridhoan dariNya.

PS. Tulisan ini berdasarkan obrolan-obrolan dengan suami @rikoirwanto.

Untuk @rikoirwanto, jadi kapan kita jalan-jalan? Kwkwkw 😂