Sabtu, 02 Mei 2020

Membenci Memaafkan

Kita tak bisa menghindari interaksi, kita tak mungkin hidup sendiri. Dalam sebuah interaksi berbagai hal bisa terjadi, sering kali hal-hal tak menyenangkan terjadi; tindakan miskin empati, kata-kata melukai hati, juga tatapan tak menghargai. Tindakan-tindakan yang terkadang begitu tak terduga, hingga kita tak sampai memahami mengapa kita yang harus mengalami. Marah, kecewa, dan membenci.

Kita merasa kebencian terhadap Ia yang melukai adalah hukuman setimpal atas ketidak mampuan atau ketidak mauan kita membalas. Kita membohongi diri bahwa kita baik-baik saja, melupakan sakit. Seolah tak ada yang terjadi. 
Apakah iya, membenci adalah penawar dan hak diri yang telah disakiti? Kebencian selalu menjebak kita untuk mengulang kesedihan, memgorek kembali kesalahan-kesalahan. Sedang ia yang dibenci tertawa tanpa beban, berlenggang tanpa dosa. 
Memaafkan, menjadi begitu naif bila dijadikan sebuah pilihan untuk menghilangkan kesakitan-kesakitan. Namun memaafkan menjadi jalan untuk berdamai dengan diri untuk benar-benar pulih dari membenci.

Semua akan ada waktunya. Ia yang menimpakan sakit, pedih, marah, kecewa, akan bergulir merasakan juga sebagai sebuah akibat apa yang telah ditanam.
Dan waktu juga akan menyembuhkan segala luka, bila kita benar-benar mau menyembuhkannya.

Jumat, 01 Mei 2020

Pendidikan Revolusi Industri 4.0 dan Seterusnya

Pendidikan Revolusi Industri 4.0 dan Seterusnya
(Bukan judul makalah. Kwkwkw)


Pernahkah kita memikirkan mengapa kita harus berpendidikan? Apa sebenarnya tujuan dari sebuah pendidikan? Bukankah tujuan yang akan menggerakkan kita kemana kita akan melangkah?
Jika menelisik lebih dekat lagi, negara memiliki tujuan dalam pendidikan nasional yang termaktub dalam UU Sisdiknas no. 20 th 2003, yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sedikit yang kita garis bawahi tentang mengembangkan potensi. Belakangan ini rasa-rasanya pengembangan potensi peserta didik tak jauh-jauh dari kata "siap bekerja", bahkan sering jadi jargon-jargon institusi pendidikan. Ditambah kita sering sekali digaungkan tentang revolusi industri 4.0.
Rasanya menjadi klop sekali antara pendidikan yang dipersiapkan untuk bekerja dengan revolusi industri 4.0. Namun apakah iya, mengembangkan potensi hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar, pendidikan untuk memperoleh pekerjaan? Jika manusia berpengetahuan hanya diarahkan untuk bekerja, kesejahteraan diukur dengan berapa nilai mata uang yang di dapat, bagaimana dengan nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya memanusiakan manusia?

Maka tidak heran jika kita mendengar ungkapan "sekolah mematikan potensi" karena yang dinilai pintar Ia yang memiliki nilai matematika tinggi. Dan ungkapan ini masih relevan kan hingga saat ini?
Mengembangkan potensi berarti menembangkan seluruh kemampuan yang dimiliki individu yang belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara maksimal. Bukan hanya mengembangkan pengetahuan-pengetahuan yang dipersiapkan untuk mendapatkan pekerjaan.

Waktu berputar, tak semua yang kita pelajari saat ini selaras dengan zaman. Namun ketika potensi setiap individu dikembangkan, ia akan senantiasa belajar dan siap menghadapi segala perubahan entah itu revolusi industri 4.0, 5.0 bahkan 9.0 sekalipun.
Dunia berubah, tapi manusialah yang menciptakan perubahan.
Selamat hari pendidikan nasional! :)


Selesai Dengan Diri Sendiri

Dulu aku kira selesai dengan diri sendiri itu sudah mampu menyelesaikan urusan finansial sendiri (setidaknya kebutuhanmu sudah tidak ditanggung orang tua lagi), saat sudah mampu menentukan apa yang ingin dilakukan, dan sudah selesai dengan permasalahan-permasalahan pribadi. Namun ternyata setiap individu memiliki definisi 'selesai dengan diri sendiri' masing-masing.

Selesai dengan diri sendiri sering kali ku jadikan patokan jika ingin melangkah dan mengambil keputusan untuk menapaki fase selanjutnya, terutama menikah. Aku selalu meyakini bahwa menjadi baik, kuat, bukan menjadi tanggung jawab orang lain, tapi tanggung jawab diri kita masing-masing.

Tapi apakah iya kita benar-benar siap dan selesai dengan diri kita sendiri? Terkadang juga hal yang memang waktunya datang Ia akan tetap datang. Jadi, kesiapan ada juga karena 'keadaan'. Sulit menjelaskan seperti apa itu benar-benar siap. Lagi pula banyak hal yang tak terduga dalam hidup.
Dibayangkan masih lama, tiba-tiba datang ketika itu juga, lalu semesta membantumu menyelesaikan segalanya.

Lalu, apa yang perlu dipersiapkan? Dari beberapa hal yang aku pahami, kita bisa mempersiapkan sejauh apa yang kita tahu jika hal itu tiba-tiba datang menghampiri. Tentunya, dengan semaksimal mungkin yang kita bisa, tidak pula dengan memaksa.
Ada saatnya juga kita ikuti dan nikmati alur yang disuguhkan semesta. Toh, segala hal yang didatangkan untukmu karena sebenarnya kamu telah siap, cuma kadang suka ragu aja. :)