Minggu, 29 April 2018

April : Tentang Kamu - Tere Liye

Judul               : Tetang Kamu
Penulis             : Tere Liye
Tebal               : 534 hlm
Ukuraran         : 13,5 x 20,5 cm
Penerbit           : Republika
Tahun              : Cetakan VII, Februari 2017

“Terimakasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.”

Kalimat diatas merupakan penggalan dari sinopsis di cover belakang buku tentang kamu karya Tere Liye. Sekilas, dari sinopsis tersebut buku tentang kamu akan membahas kisah percintaan dan lika-likunya, namun tenyata kita tidak akan hanya membaca persoalan cinta tetapi juga tentang pemaknaan hidup, juga petualangan.
Buku ini dimulai dengan kisah seorang Zaman Zulkarnaen, pemuda Indonesia yang bekerja di Thompson & Co., sebuah firma hukum di London yang selalu disebut dengan penuh penghormatan. Pengacara yang bekerja disana adalah para kesatria yang menegakkan keadilan dan kebenaran hukum, meski nyawa harus menjadi taruhannya. Dari firma hukum multinasional inilah Zaman mendapatkan tugas untuk menangani kasus Sri Ningsih, seorang asal Indonesia dengan kekayaan satu miliar poundsterling namun memilih hidup di panti jompo pinggiran kota Paris di masa tuanya. Tugas Zaman adalah menyelesaikan persoalan pembagian harta warisan Sri Ningsih dengan seadil-adilnya sesuai hukum yang berlaku. Berbekal dari buku harian Sri Ningsih yang di berikan oleh Aimee seorang perawat yang mengurus Sri Ningsih ketika di panti jompo, Zaman memulai petualangannya menelusuri kisah hidup Sri Ningsih.
Pulau Bungin, Sumbawa salah satu kampung nelayan dan salah satu pulau terpadat di dunia, disinilah Sri Ningsih dilahirkan. Zaman bekeliling pulau untuk memenemukan sseseorang yang mengenal Sri Ningsih dan betemulah ia dengan seorang kakek tua yang bernama Ode, saksi sejarah Sri Ningsih ketika berada di pulau Bungin. Sri ningsih yang telah yatim ditinggal Ibunya yang bernama Rahayu sejak dalam kandungan. Dipulau ini jugalah saksi kesabaran Sri Ningsih bagaimana menghadapi Ibu tirinya yang berbuat kejam kepadanya karena menganggap Sri Ningsih penyebab kematian Suaminya. Hingga pada akhinya Sri Ningsih harus meninggalkan pulau Bungin bersama adek nya Tilamuta yang masih berusia 5tahun karena kebaran rumah dan ibu tirinya meninggal.
Zaman menyusuri kehidupan Sri Ningsih di Surakarta, Madrasah yang menjadi tempat belajar Sri Ningsih dan adiknya untuk belajar setelah meninggalkan pulau Bungin. Di Madrasah Kiai Ma’sum inilah Sri menemukan sebuah persahabatan dan penghianatan. Nur’aini dan Sulastri adalah sahabat baik Sri Ningsih ketika berada di Madrasah. Namun, persahabatan itu berakhir karena sebuah dengki yang menjangkiti Sulastri dan suaminya terhadap Nur’aini dan keluarga kiai Ma’sum.
Lastri dan suaminya keluar dari madrasah dan menjadi anggota Partai Komunis Indonesia yang saat itu tengah memberontak. Terjadilah pertumpahan darah akibat pembantaian yang dilakukan oleh Lastri dan kelompoknya terhadap keluarga Madrasah. Seluruh santri dihabisi, kiai ma’sum, istri, anak dan cucunya di bakar di sebuah pabrik gula. Hanya Nur’aini dan suaminyalah yang selamat atas kejadian tersebut, begitu pula Sri Ningsih yang diculik Lastri sebelum pembantaian untuk menyelamatkan Sri ningsih. Ketika di pengadilan juga lah Sri Ningsih menjadi saksi dan menyatakan kebenaran atas kekejaman Lastri dan kelompoknya. Akhirnya, Lastri diadili dan diasingkan. Lalu bagaimana dengan adik Sri? Tilamuta ditemukan disawah tempat ia sering bekerja, dengan kondisi tak dikenali lagi, daging tercabik-cabik bahkan ada potongan tubuh yang tak utuh karena dimakan anjing. Untuk melupakan kesedihannya Sri meninggalkan Solo menuju Jakarta.
Bagimana zaman meneslesaikan kasus ini sedang Sri Ningsih tak mempunyai keluarga satu pun dan memilih tinggal di panti di sebuah pinggiran kota Paris? Selanjutnya, untuk memecahkan kasus ini Zaman harus menyusuri kisah Sri ningsih dari Jakarta, London, dan Paris, kota-kota yang menjadi saksi bagaimana kegigihan Sri Ningsih dalam bekerja untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, kisah cinta Sri Ningsih dan Hakan Karim seorang berkebangsaan Turki, dan alasan-alasan Sri Ningsih meninggalkan negara yang ia cintai.
Novel-novel Tere Liye selalu membuat saya kagum dengan plot yang dituliskan. Meski plotnya “kacau” dalam artian menggunakan plot maju mundur semakin membuat pembaca ketagihan untuk terus bersabar membacanya dan tak ingin terlewatkan satu hal pun. Meskipun dalam penokohannya terlihat begitu sempurna bagi sesosok manusia, Sri Ningsih yang tak pernah memiliki sakit hati, tak pernah marah, selalu berfikir positif, dan memaafkan apapun yang terjadi dalam hidupnya.
  Selain berkisah tentang Sri Ningsih di masa lalu juga menceritakan bagaiamana kisah Zaman saat ini, Bang Tere Liye berhasil meramu dua kisah Sri dan Zaman menjadi seperti ada keterikatan ‘takdir’ yang menyatukan kisah mereka. Saya adalah penggemar Tere Liye sejak lama, namun dalam novel ini saya tetap menemukan kejutan-kejutan dan tercengang atas alur yang disajikan dalam setiap babnya. Seperti dalam novel Tere Liye yang lain, Novel ini mengajarkan tentang pemahaman yang lebih baik, pemaknaan hidup, dan nasehat-nasehat lama dengan narasi tanpa menggurui.



Gambar : Google.

Kamis, 19 April 2018

Titik



Seindah apapun kata yang kau rangkai menjadi bulir kalimat, butuh titik untuk memgakhirinya.

Pernah kita terjebak pada rangkaian cerita yang sama.
Meletakkan koma merangkai kata demi kata, meski lebih banyak tanya.

Aku tlah tenggelam pada pusaran frasa, dan semakin takut kehilangan bukan hanya pada 'kita' tapi pada seluruh rangkaian tanda baca yang membersamainya.

Hingga pada kalimat ini, izinkan aku bertanya padamu..
Apakah Ini hanya resah yang turut larut pada puisiku yang hambar karena tak tersentuh selainmu?

Apakah ini hanya imajinasi semu yang kau, aku, mereka pun memilikinya tuk mencipta bahagia?

Tahukah kau bahwa spasi yang menjadi jarak juga menjadi temu untuk sebuah makna baru?

Tahukah kau bahwa pada setiap tetesan hujan dan remang lampu jalanan kota ini tlah terhiasi pengharapan mereka yang tergerus sepi dalam keriuhan?

Tak bisa ku abaikan tanyaku, seperti aku  tak bisa abaikan setiap rindu yang tak bisa menunggu dan masih ku cari pada sudut matamu.

Aku butuh jawabmu bukan untuk melengkapi puisiku tapi tuk menjadi titik pada tanyaku.
Maka, ku tanya sesuatu yang entah kapan kan terulang mungkin sesekali membuatmu kepayang.

Bolehkah Aku letakkan titikku padamu, sebelum segalanya terlanjur menjadi tanda tanya kembali?



Yogyakarta,
19 April 2018

Minggu, 08 April 2018

Catatan Perjalanan Menuju Rumah FLP Jogja


 

Selama ini menulis bagiku adalah sebuah katarsis. Jadi, aku tidak peduli tulisanku dibaca atau tidak oleh orang lain,seperti blogku ini. Hingga aku mendaftar FLP Jogja, di sini aku seperti kembali diingatkan bahwa menulis bukan hanya tentang ‘aku’ saja, tapi harus ada kebermanfaatan disana dan untuk menjadi sebuah manfaat kamu harus berani untuk berbagi.

Salah satu alur oprec FLP Jogja yakni reading dan writing class yang harus diikuti oleh seluruh peserta yang lolos seleksi bekas dan wawancara. RnW ini diadakan selama 4x di hari minggu selama bulan maret. Hari pertama ketika mengikuti RnW aku seperti diingatkan kembali, bahwa menulis bukan hanya untuk menjadi populer, dapat uang dsb, semua itu adalah konsekuensi yang harus ditanggung karena kamu menulis, dan dalam menulis juga harus ada 'pesan kebaikan' yang harus disampaikan kepada pembaca. 

Selanjutnya, Kami juga dibagi menjadi kelompok-kelompok dan diberikan tugas individu dan tugas kelompok. Lagi-lagi aku belajar banyak hal, aku bertemu dengan orang-orang hebat dalam kelompokku. Rasanya kelompokku lengkap dan beragam sekali, karena dalam kelompokku ada peserta FLP termuda dan tertua, Anggi yang masih duduk dibangku SMA dan juga ada pak Sonny yang sudah mulai pensiun dan ingin fokus menulis. Meski begitu jangan ragukan semangat mereka. Ah, jujur aku minder dan iri atas semangat mereka. Dalam kelompokku ada putri yang jauh-jauh datang dari solo ke jogja untuk mengikuti FLP. MashaAllah! Dan ada teman-teman lain yang begitu luar biasa.

Setiap kelompok mempunyai satu pembimbing. Mas Alim mahasiswa UGM 2014 adalah pembimbing kami. Meski mas alim masih muda, namun ia mengarahkan kami tentang proses penulisan fiksi yang menjadi projek kami dengan sabar dan telaten. Lagi-lagi aku minder, padahal aku lebih tua darinya tapi rasanya tak lebih dewasa dan tak ada apa-apanya.

Pada RnW class ini aku bertemu dengan penulis-penulis hebat seperti pak Ganjar Widhiyoga, Ph.D, mbak Safrina, mbak istiana, mbak rias, mbak uti, hingga sesi terakhir ditutup dengan mbak Afiah Afra sebagai narasumber. Seperti menemukan oasis ditengah gurun gersang, aku semakin haus dan haus untuk menimba ilmu dan semakin menambah semangatku untuk menulis lagi.

Pada penutupan RnW class kami mempresentasikan hasil tugas kelompok kami, dan setelah selesainya RnW maka kami tinggal menunggu pengumuman peserta yang lolos menjadi anggota FLP angkatan 18. Entah bagaimana aku merasa bahwa jika aku tidak lolos seksi pun aku tidak akan kecewa - pikirku kala itu, karena aku dipertemukan dengan orang-orang hebat,dan mendapatkan banyak pembelajaran. Aku benar-benar menikmati seluruh proses ini.   


Alhamdulillah, Allah masih membei kesempatan lagi untuk belajar bersama FLP. Setelah lolos menjadi anggota kami harus mengikuti PDKT + Empatik #1. Sesi ini lebih keren lagi!! Aku semakin mengenal teman-teman angkatanku di FLP 18 dan kali ini kami semakin menguliti tentang kepenulisan, salah satunya  bagaimana menemukan ide dari hal-hal yang tak terduga dan dekat dengan kita, jadi tidak ada alasan lagi bagi kami untuk tidak menulis!

Pada sesi PDKT dan Empatik 1 Ini tugas kami adalah nulis, nulis, nulis, nulis, nuliisss terus, dari diminta menuliskan kata dalam bebarapa menit, perasaan kami diaduk-aduk dari harus menulis hal sedih lalu pindah ke hal lucu, bahkan kami harus menulis dalam keadaan apapun! Panitia mengganggu kami ketika kami menulis, ruangan disulap menjadi seperti pasar oleh panitia. Panitia ada yang membawa kemoceng, ada yang jual tahu bulat, sampai stand up comedy (Sudah dapat dipastikan aku tidak bisa menahan tawa! Kwkwkw) Walau bagaimana pun kami harus tetap menulis. Ah, seru sekali! Hingga akhirya ada sesi haflah untuk penutupan. Jangan dikira meski kami disuguhi berbagai materi dan diminta ‘menulis’ kami hanya serius saja. DDalam prosesnya banyak tawa canda kami, selain acaranya yang memang seru ternyata teman-temanku di FLP angkatan 18 kocak-kocak dan berfikir out of the box sehingga keluarga baruku di FLP semakin berwarna. 

Bismillah, ku langkahkan kaki untuk turut dalam barisan para pejuang besenjatakan pena yang akan terus berjuang tak peduli bila penduduk bumi tak tahu perjuangan kami, yang terpenting penduduk langit tau. Seperti kata Mbak Afifah Afra, “Menjadi penulis adalah ‘kutukan’ yang di takdirkan Allah SWT sehingga kita wajib mensyukurinya dan mengimplementsikannya sebagai salah satu tugas mulia manusia sebagai khalifah di Bumi, dan bukan kah Allah turunkan ayat tetang Iqra! dan ayat Nuun walqolami wamaayasturuun?”  


n.b. Foto menyusul ya... Harus istirahat nih, besok Otw perjalanan ke lombok. Bye! Wassalam . 

Kamis, 05 April 2018

Untuk Bapak


Aku ingin kembali pada masa ketika duniaku hanya bapak dan ibu,
Memboceng motor tua bapak untuk turut serta sholat jumat di masjid,
Merenggek manja meminta es krim yang dibelikan bapak tiap sore,
Digendong punggung yang padanya aku aman tak kenal takut.

Aku tak ingin khawatir pada uban yang mulai tumbuh di rambut bapak,
Dan tak ingin mempercayai bahwa tubuh bapak mulai disapa kriput,
Benci bila sakit mendatangi dan menjadikan bapak semakin tak banyak bicara,
Aku kesal, mengapa pijatanku dipunggung bapak tak mampu meredakan lelahnya juga?

Aku rindu ketika pagi masih menggigil dipeluk sunyi,
Suara bapak membangunkanku kala adzan subuh riuh menyapa bumi,
Ayat alquran yang bapak baca untuk menyambut mentari diufuk,
dan kepulan teh hangat kesukaan bapak yang menemani obrolan kami.

Aku iri pada kabut, ia selalu mendengakan lantunan ayat-ayat yang bapak bacakan tiap pagi,
Sedang aku terbangun bukan karena suara bapak tapi atas mimpi yang ku rangkai sendiri,
Aku iri pada kabut, ia menemani bapak dari pergi ke surau hingga datang matahari,
Kini Aku bermil-mil jauh tak disamping bapak dan masih bergumul membangun mimpi.

Selamat ulang tahun bapak, hari yang mungkin tak selalu bapak ingat.
Bapak, syukur tak terhingga pada Allah jadikan kami anakmu.
Bapak, bangga kami karena menjadi bagian darah dagingmu.
Bapak, doa dan cinta kami melangit untukmu dan ibu, selalu.

Rabu, 04 April 2018

Berdakwah dengan Tinta

Photo taken by panitia PDKT FLP

Dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu hal yang wajar jika manusia ingin saling menebarkan sebuah kebaikan. Kita mendapati toko yang berjualan roti dengan rasa yang enak dan harga yang murah, kita tentu akan mempromosikan dan mengajak orang lain agar membeli roti di toko tersebut. Meski penjual roti tak memberikan imbalan apapun kita akan tetap dengan suka rela melakukannya. Bagaimana dengan dakwah? Jika kita merasakan manisnya iman, kemudahan dalam beribadah dan merasakan nikmatnya berkumpul dengan orang-orang sholih tak tergerakkah hati kita untuk berbagi dan mendakwahkannya juga?
Kata dakwah yang berasal dari bahasa arab memiliki arti mengajak atau memanggil. Sedang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dakwah diartikan  penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama. Dakwah, kita menyeru mengajak orang lain pada kebaikan, agar senantiasa mengamalkan syariat Islam berdasar Alquran dan As Sunnah.
Bagi seorang mukmin, segala yang sesuatu yang ia kerjakan dapat bernilai pahala dan dakwah. Apapun itu, asalkan membawa nilai-nilai kebaikan dan di niatkan untuk mencari ridhoNya itu adalah dakwah. Laku, bicara, bahkan pakaian yang kita kenakanpun dapat bernilai dakwah. Aku, Kamu, dan dakwah kepenulisan, dalam hal ini saling memberikan keterkaitan satu sama lain dalam hal ini, aku dan kamu dalam dakwah dapat menjadi subjek dan objek. Objek dakwah, adalah dimana posisi kita sebagai tempat menerima dakwah, sedangkan subjek dakwah adalah posisi dimana kita berperan sebagai penyampai risalah, penyeru dakwah. Dua hal ini tak dapat dipisakan satu dengan yang lain, karena ketika seorang hanya terus menyampaikan dakwah tanpa menerima dakwah dan ilmu dari tempat lain maka pada akhirnya akan sampai pada titik jenuh, kosong, dan dakwah yang disampaikan hanya itu-itu saja, terus berulang.
Begitu hal nya dengan menulis, menulis tanpa adanya asupan ilmu dari buku yang di baca, kajian yang di dengarkan, maka yang di tulis hanyalah lembaran yang di ulang-ulang. Menulis juga sebuah jalan dakwah, jalan untuk menyuarakan kebaikan-kebaikan menambah ketaatan dan keimanan diri kita sendiri atau pembaca kepada Allah SWT. Islam dibangun atas tintanya para ulama dan darahnya para syuhada. Dengan tulisan-tulisan lah Islam menemui kejayaannya. Bagaimana Alquran pada masa Ustman dihimpun, disatukan menjadi satu kitab, ditulis Zaid bin Haritsah dari hufadz-hufadz terbaik masa itu, hingga alquran terjaga hingga saat ini. Lalu dimana posisi kita saat ini di jalan dakwah? Bahwa meski ada dan tiadanya kita dijalan dakwah ini Islam juga akan tetap berjaya.
 Tulisan adalah cara dakwah yang tak akan pernah mati. Seperti kata Pramodya Ananta Tour: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Kita juga tahu bagaimana ulama-ulama terdahulu meski jasad mereka telah tiada namun karya-karya mereka abadi hingga kini. Dengan tulisan kita dapat berbicara sebanyak yang kita mau, tanpa terbatas waktu, kita dapat menyampaikan apapun meski lisan tak mampu mengungkapkan. Dengan tulisan kita dapat menyampaikan keindahan dalam bentuk lain berupa tulisan. Dan dengan tulisan kita tidak hanya dapat mengerakkan sattu orang tapi juga peradaban. Satu kata mengandung kebaikan yang diikuti oleh orang lain akan menjadi jariyah kita tidak hanya saat di dunia, namun kelak di SurgaNya.
Dalam mengemban risala dakwah, kita tak bisa jika hanya sendiri, tidak hanya aku, tetapi juga kamu. Diperlukan jamaah, kelompok-kelompok yang akan saling menasehati pada kebaikan, memberikan semangat ketika semangat dakwah mulai luntur. Sampailah saya disini bertemu dengan komunitas kepenulisan ini, Forum Lingkar Pena yang saya sudah mengenal sejak lama. Setelah dulu saya sempat bergabung semasa MA di Solo. Akhirnya saya menemukan kembali FLP di Jogja. Melalui FLP saya belajar banyak hal, mengenal penulis-penulis handal, dari Helvy Tiana Rosa, Pipit Senja, Asma Nadia, dan hal yang membuat FLP berbeda dari lainnya yakni komitmennya dalam dakwah, bahwa dalam setiap tulisan dengan gaya tulisan yang beragam ada nilai-nilai yang Islam yang disampaikan. Dari sinilah saya ingin belajar dan menimba ilmu menjadikan tulisan saya bukan hanya sekedar tulisan kosong tak syarat makna, namun tulisan-tulisan yang mampu mengingatkan diri sendiri dan orang lain untuk senantiasa taat kepadaNya.