Judul : Tetang Kamu
Penulis : Tere Liye
Tebal : 534 hlm
Ukuraran : 13,5 x 20,5 cm
Penerbit : Republika
Tahun : Cetakan VII, Februari 2017
“Terimakasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu
anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang
akan menemukan kita.”
Kalimat diatas merupakan penggalan dari sinopsis di cover belakang
buku tentang kamu karya Tere Liye. Sekilas, dari sinopsis tersebut buku tentang
kamu akan membahas kisah percintaan dan lika-likunya, namun tenyata kita tidak
akan hanya membaca persoalan cinta tetapi juga tentang pemaknaan hidup, juga
petualangan.
Buku ini dimulai dengan kisah seorang Zaman Zulkarnaen, pemuda
Indonesia yang bekerja di Thompson & Co., sebuah firma hukum di London yang
selalu disebut dengan penuh penghormatan. Pengacara yang bekerja disana adalah
para kesatria yang menegakkan keadilan dan kebenaran hukum, meski nyawa harus
menjadi taruhannya. Dari firma hukum multinasional inilah Zaman mendapatkan
tugas untuk menangani kasus Sri Ningsih, seorang asal Indonesia dengan kekayaan
satu miliar poundsterling namun memilih hidup di panti jompo pinggiran kota
Paris di masa tuanya. Tugas Zaman adalah menyelesaikan persoalan pembagian
harta warisan Sri Ningsih dengan seadil-adilnya sesuai hukum yang berlaku.
Berbekal dari buku harian Sri Ningsih yang di berikan oleh Aimee seorang
perawat yang mengurus Sri Ningsih ketika di panti jompo, Zaman memulai
petualangannya menelusuri kisah hidup Sri Ningsih.
Pulau Bungin, Sumbawa salah satu kampung nelayan dan salah satu
pulau terpadat di dunia, disinilah Sri Ningsih dilahirkan. Zaman bekeliling
pulau untuk memenemukan sseseorang yang mengenal Sri Ningsih dan betemulah ia
dengan seorang kakek tua yang bernama Ode, saksi sejarah Sri Ningsih ketika
berada di pulau Bungin. Sri ningsih yang telah yatim ditinggal Ibunya yang
bernama Rahayu sejak dalam kandungan. Dipulau ini jugalah saksi kesabaran Sri
Ningsih bagaimana menghadapi Ibu tirinya yang berbuat kejam kepadanya karena
menganggap Sri Ningsih penyebab kematian Suaminya. Hingga pada akhinya Sri
Ningsih harus meninggalkan pulau Bungin bersama adek nya Tilamuta yang masih
berusia 5tahun karena kebaran rumah dan ibu tirinya meninggal.
Zaman menyusuri kehidupan Sri Ningsih di Surakarta, Madrasah yang
menjadi tempat belajar Sri Ningsih dan adiknya untuk belajar setelah
meninggalkan pulau Bungin. Di Madrasah Kiai Ma’sum inilah Sri menemukan sebuah
persahabatan dan penghianatan. Nur’aini dan Sulastri adalah sahabat baik Sri
Ningsih ketika berada di Madrasah. Namun, persahabatan itu berakhir karena
sebuah dengki yang menjangkiti Sulastri dan suaminya terhadap Nur’aini dan
keluarga kiai Ma’sum.
Lastri dan suaminya keluar dari madrasah dan menjadi anggota Partai
Komunis Indonesia yang saat itu tengah memberontak. Terjadilah pertumpahan
darah akibat pembantaian yang dilakukan oleh Lastri dan kelompoknya terhadap
keluarga Madrasah. Seluruh santri dihabisi, kiai ma’sum, istri, anak dan
cucunya di bakar di sebuah pabrik gula. Hanya Nur’aini dan suaminyalah yang
selamat atas kejadian tersebut, begitu pula Sri Ningsih yang diculik Lastri
sebelum pembantaian untuk menyelamatkan Sri ningsih. Ketika di pengadilan juga
lah Sri Ningsih menjadi saksi dan menyatakan kebenaran atas kekejaman Lastri
dan kelompoknya. Akhirnya, Lastri diadili dan diasingkan. Lalu bagaimana dengan
adik Sri? Tilamuta ditemukan disawah tempat ia sering bekerja, dengan kondisi
tak dikenali lagi, daging tercabik-cabik bahkan ada potongan tubuh yang tak
utuh karena dimakan anjing. Untuk melupakan kesedihannya Sri meninggalkan Solo
menuju Jakarta.
Bagimana zaman meneslesaikan kasus ini sedang Sri Ningsih tak
mempunyai keluarga satu pun dan memilih tinggal di panti di sebuah pinggiran
kota Paris? Selanjutnya, untuk memecahkan kasus ini Zaman harus menyusuri kisah
Sri ningsih dari Jakarta, London, dan Paris, kota-kota yang menjadi saksi
bagaimana kegigihan Sri Ningsih dalam bekerja untuk mewujudkan mimpi-mimpinya,
kisah cinta Sri Ningsih dan Hakan Karim seorang berkebangsaan Turki, dan
alasan-alasan Sri Ningsih meninggalkan negara yang ia cintai.
Novel-novel Tere Liye selalu membuat saya kagum dengan plot yang
dituliskan. Meski plotnya “kacau” dalam artian menggunakan plot maju mundur
semakin membuat pembaca ketagihan untuk terus bersabar membacanya dan tak ingin
terlewatkan satu hal pun. Meskipun dalam penokohannya terlihat begitu sempurna
bagi sesosok manusia, Sri Ningsih yang tak pernah memiliki sakit hati, tak
pernah marah, selalu berfikir positif, dan memaafkan apapun yang terjadi dalam
hidupnya.
Selain berkisah tentang Sri Ningsih di masa
lalu juga menceritakan bagaiamana kisah Zaman saat ini, Bang Tere Liye berhasil
meramu dua kisah Sri dan Zaman menjadi seperti ada keterikatan ‘takdir’ yang
menyatukan kisah mereka. Saya adalah penggemar Tere Liye sejak lama, namun
dalam novel ini saya tetap menemukan kejutan-kejutan dan tercengang atas alur
yang disajikan dalam setiap babnya. Seperti dalam novel Tere Liye yang lain,
Novel ini mengajarkan tentang pemahaman yang lebih baik, pemaknaan hidup, dan
nasehat-nasehat lama dengan narasi tanpa menggurui.
Gambar : Google.





