Kamis, 19 April 2018

Titik



Seindah apapun kata yang kau rangkai menjadi bulir kalimat, butuh titik untuk memgakhirinya.

Pernah kita terjebak pada rangkaian cerita yang sama.
Meletakkan koma merangkai kata demi kata, meski lebih banyak tanya.

Aku tlah tenggelam pada pusaran frasa, dan semakin takut kehilangan bukan hanya pada 'kita' tapi pada seluruh rangkaian tanda baca yang membersamainya.

Hingga pada kalimat ini, izinkan aku bertanya padamu..
Apakah Ini hanya resah yang turut larut pada puisiku yang hambar karena tak tersentuh selainmu?

Apakah ini hanya imajinasi semu yang kau, aku, mereka pun memilikinya tuk mencipta bahagia?

Tahukah kau bahwa spasi yang menjadi jarak juga menjadi temu untuk sebuah makna baru?

Tahukah kau bahwa pada setiap tetesan hujan dan remang lampu jalanan kota ini tlah terhiasi pengharapan mereka yang tergerus sepi dalam keriuhan?

Tak bisa ku abaikan tanyaku, seperti aku  tak bisa abaikan setiap rindu yang tak bisa menunggu dan masih ku cari pada sudut matamu.

Aku butuh jawabmu bukan untuk melengkapi puisiku tapi tuk menjadi titik pada tanyaku.
Maka, ku tanya sesuatu yang entah kapan kan terulang mungkin sesekali membuatmu kepayang.

Bolehkah Aku letakkan titikku padamu, sebelum segalanya terlanjur menjadi tanda tanya kembali?



Yogyakarta,
19 April 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar