Minggu, 25 November 2018

Mulai Saja!

#SundayMorningLetter1

Hi. Aku akan mulai menuliskan surat-surat ini setiap minggu pagi untuk siapapun yang membaca tulisan ini, dan terkhusus untuk diriku sendiri.

Bagaimana dengan pekan ini? Semoga pekan ini menyenangkan untukmu. Bagaiku ini pekan yang panjang dengan tumpukan tugas dan pekerjaan, sehingga di hari minggu seperti ini, aku benar-benar ingin bemalas-malasan di kasur saja. Hmm.. Rasanya cepat sekali segalanya berlalu, kita sudah berada di akhir november dan akan segera meninggalkan 2018. Banyak hal yang belum aku lakukan di 2018 ini. Mungkin benar kata orang, tekadang yang membuatmu lebih menyesal bukan karena kau telah melakukan sesuatu tapi karena kamu tidak melakukan sesuatu!

Apakah kamu termasuk orang-orang yang membuat new year resolution? Jika iya, maka tidak ada salahnya kamu menilik apa-apa yang telah kamu tuliskan di resolusimu, lalu mulai memulai apa-apa yang belum kamu mulai. Apakah kamu merasa terlambat jika harus memulai karena ini sudah diakhir bulan? Menurutku tidak, tak ada suatu yang terlambat jika itu untuk suatu kebaikan, karena pada akhirnya kita akan menemukan tujuan atas yang telah kita mulai entah kapan dan tak akan sia-sia.

Jika mereka megatakan bahwa memulai lebih mudah daripada mempertahankannya, menurutku keduanya tak ada yang lebih mudah. Jika memulai kamu harus lebih berani, terutama berani pada dirimu, berani melawan ketakutan dan resiko yang harus kamu hadapi ketika kamu memulai sesuatu. Maka untukmu yang saat ini sedang belajar dan mengumpulkan keberanian untuk memulai. Ketahuilah aku yang akan menjadi pendukungmu! Mulai saja, entah apapun kata mereka, mulai saja entah kesalahan apapun yang kamu lakukan dimasa lalu, mulai saja dengan apapun resiko yang akan kamu temu di depan kelak.

Mulai saja, karena dengan memulai kamu akan menemukan sesuatu yang lain. Aku tak bisa menjanjikan bahwa itu akan baik-baik saja, namun ketahuilah bahwa ketika kamu telah memulai tanpa sadar akan banyak langkah yang telah kamu tempuh, hal-hal yang membuatmu semakin kuat, semakin dewasa.  

Semoga Allah selalu membekahi dan memudahkan langkah kita untuk terus melakukan kebaikan-kebaikan.

Senang bisa menulis surat ini untukmu. :)

-Ashfa-

Kamis, 22 November 2018

Masihkah Kita Bisa Berteman?

Beberapa waktu lalu, saya merepost twit salah seorang tokoh nasional yang beberapa kali muncul di televisi dan aktif mengkritik pemerintah saat ini, dan beberapa argument beliau saya setuju. Lalu, karena twit saya tersebut beberapa teman saya berkomentar: "Wah, kamu anti rezim ini ya fa?" Padahal yang saya repost ketika itu tidak ada sangkutpautnya dengan kritikan. Selanjutnya, saya juga pernah memberikan apresiasi kepada bapak presiden kita tentang salah satu program beliau yang saya nilai bagus, lantas teman saya berkomentar "Ooh, kamu pro rezim ini fa?". Oh God!

Entah bagaimana di tahun politik seperti ini seolah Indonesia terbagi hanya menjadi dua buah kubu. ketika kamu mengkritik kubu yang satu kamu berarti membenci dan anti kubu tersebut, dan begitu sebaliknya. Hal ini benar-benar menyebalkan! Sejujurnya situasi ini benar-benar membuat grup whatsapp saya dengan teman-teman akrab saya menjadi sepi. Lingkaran Pertemanan saya dan teman-teman saya ini sejujurnya di warnai dengan banyak sekali perbedaan pun perbedaan dalam pandangan berpolitik. Maka kami memilih untuk tidak mengupload hal-hal yang berbau politik di grup sehingga grup menjadi sepi. huft!

Tidak semua kritik harus kita dengarkan, namun mengartikan kritik sebagai sebuah kebencian saya rasa keliru, karena menurut saya dengan kritik sebenarnya orang lain tersebut peduli dan menginginkan sebuah perbaikan. Dan memberikan apresiasi terhadap sesuatu yang baik meski itu dari lawan kita juga seharusnya dilakukan, bukankah hal demikian merupakan sebuah sikap sportif?

Berbeda dalam pandagan politik sangat wajar karena setiap kita bias, sehingga kita memiliki kecenderungan untuk melihat dan menerima hal-hal tertentu yang kita anggap sesuai. Maka dari itu, mari kita keluar dari gelembung-gelembung pola pemikiran kita sendiri, menilik bagaimana gelembung pemikiran orang lain. Sehingga kita semakin berfikir terbuka dan dapat melihat realita bukan terjebak dalam fanatisme kita saja. Dalam pilpres kini bukan hanya sekedar tentang siapa yang akan menang tapi apakah setelah semua ini kita masih dapat bersatu dan berteman? 




Kamis, 15 November 2018

Tak Akan Tertukar.

"Jika sesuau sudah menjadi rezeki sesorang, maka tidak akan sedikit pun tertukar dan hilang. Tapi yang membedakan rezeki dari setiap orang tersebut adalah 'bagaimana orang itu menjemputnya'. Misalnya, si A dengen si B mendapatkan uang dengan jumlah yang sama, dan sama-sama dapat digunakan untuk membayar biaya sekolah dan tentu keduanya bisa lulus sekolah, yang membedakan jika rezeki B itu dijemput dengan suatau cara yang tidak baik, bisa jadi ilmu yang mereka peroleh tidak ada kemanfaatan dan keberkahan disana, meski  mereka terlihat sama-sama dapat lulus sekolah.”

Begitulah nasehat yang aku terima dari percakapanku melalui telepon dengan bapak. Seringkali kita kecewa dengan hal-hal yang tidak kita dapatkan, padahal konsepnya begitu sederhana. Jika tidak didapatkan berarti belum rejekinya. Allah Maha Adil dan tau kepada siapa seharusnya rejeki itu diturunkan, jika saja yang melihat dari sisi permukaan seolah aku lebih bekerja keras tapi malah orang lain yang mendapatkan. Padahal jika benar kamu sudah bekerja keras dan tidak mendapatkan dari apa yang kamu usahakan sekarang, bisa jadi rezeki yang kamu terima akan lebih besar dari apa yang kamu harapkan sekarang. Itu hukum alamnya, tidak akan tetukar. Dengan begitu, kita sudah tawakal atas segala hasil dan tidak kecewa jika hasil yang kita inginkan tak sesuai dengan yang kita harapkan.


Rabu, 14 November 2018

Mengikhlaskan Doa


“Manusiawi, asal doanya nggak maksa aja sama Allah” itu lah sepenggal balasan chat yang aku terima dari salah seorang temanku dari IPB. Berdoa. Dengan itu aku berpasrah, dan berkisah karena mengumbar lelah dan keluh kepada manusia kadang malah semakin membuatmu semakin merasa besalah.

Seharian ini banyak hal yang berkecamuk di fikiranku, mulai dari pekerjaan kantor, tugas kuliah yang kian bertambah setiap hari, dan urusan-urusan pribadi yang minta segera diselesaikan pula. Rasanya aku benar-benar lelah, liburan di hari minggu kemarin seolah tak memberikan efek refresh sama sekali. Di saat seperti inilah sujudku kian panjang, meminta agar dikuatkan dan segera diberi jalan keluar.

Seringkali, aku berdoa segera diberi jalan keluar atas segala masalah dengan patokan ukuran pemikiranku. Jika aku tak punya uang untuk membeli baju, maka berikan aku uang ya Allah, sepeti itulah seringkali untaian doa yang aku panjatkan. Ya, aku berdoa memaksa Allah untuk mengabulkan yang aku kehendaki seolah aku lah yang paling tahu jalan keluar untuk segeala masalahku, padahal kadang meski baik menurutku belum tentu baik menurutNya.

Teringat bagaimana begitu santunnya para nabi dalam berdoa, padahal mereka adalah manusia yanng senantiasa diberikan keberkahan, wahyu, dan setiap doa mereka ijabah entah apapun yang mereka pinta. Mereka menundukkan ego dan keinginan mereka dengan ketentuan dariNya. Maka dalam istikharah kita berdoa;
"Wahai allah, sesungguhnya aku memohon kepada engkau memilih yang baik untukku dengan ilmu engkau, aku memohon kepada engkau untuk menentukannya dengan kekuasaan engkau, dan aku memohon kepada engkau anugerah engkau yang agung, karena sesungguhnya engkau mampu memberi ketentuan sedangkan aku tidak, engkau dapat mengetahuinya, sedangkan aku tidak, dan engkaulah yang maha mengetahui hal-hal yang ghaib, wahai allah jika engkau tahu bahwa perkara ini....”

Lantas, bagaimana dengan kita yang kadang seing lalai, mengingatNya ketika membutuhkanNya, lupa bahwa apapun yang kita raih semata-mata tak lepas dari campur tanganNya.
Mari kembali melangitkan doa, dengan penuh ketundukan meminta keridhoan dan kebaikan dariNya, bukan doa dengan memaksakan kehendak kita. Bukan doa yang ketika kita menerima hasilnya kita menerima dengan penuh kerelaan dan lapang dada.

Dan Allah berjanji dengan firmanNya;

“Dan apabila bamba-bamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 186).

Senin, 12 November 2018

Bekal Kehidupan Kekal


Aku masih merasakan sisa-sisa kehilangan dari mereka yang telah Allah panggil dahulu, mereka yang pernah menjadi bagian dari cerita hidupku, mereka orang-orang yang aku sayangi. Dan pagi ini aku diingatkan kembali dengan sebuah berita duka dari seorang yang aku akrab dengannya bukan karena bercenngkrama, tapi aku mengenalnya melalui cerita tentang kebaikan, pejuangan, dan kedermawanannya di jalan dakwah. Jalan sunyi yang saat ini mungkin tak ramai diperbincangkan. Kalah dengan drama politik, bendera, dan komedi bediri yang akhir-akhir ini sedang mengakrabi negeri pertiwi.

            Ditengah keramaian rumah duka, aku terpaku. Kini ku saksikan sendiri bagaimana cerita kebaikan itu tercermin dari ratusan manusia yang mengantarkan kepergiannya, dari karangan bunga tak berhenti berdatangan turut mengucapkan duka. Dari cerita yang ku dengar, beliau sosok sederhana yang menjadi tulang punggung umat bila dalam dakwah terkendala dengan materi. Beliau menjadi pembina puluhan yayasan Pendiddikan Islam, termasuk menjadi pembina di Yayasan Sekolah yang saat ini menjadi tempatku belajar dan bekerja. Dari ketua yayasan kami, aku tahu bagaimana dalam sakitnya beliau tetap meluangkan waktu dan bersemangat memberikan arahan dan menguatkan kami untuk ikhlas di jalan dakwah, bagaimana ratusan juta beliau dermakan begitu saja untuk sekolah-sekolah yang kami rintis agar umat dapat merasakan pendidikan Islam yang baik, tanpa memikirkan tingginya harga untuk mengenyam pendidikan saat ini. Beliau yang begitu dikenal oleh penduduk bumi karena kebaikan-kebaikannya yang membumbung ke langit.

Dari beliau aku benar-benar malu pada diriku sendiri, yang masih mengeluh dengan amanah yang tak seberapa, padahal urusan itu masih untuk kebaikan diri sendiri. Aku malu pada diriku yang masih terus bertaya pada Allah tentang keinginan yang Allah tunda untuk diijabahi atau tentang rencana-rencana yang bejalan tak sesuai apa yang aku harapkan. Dan dari beliau kini aku diingatkan kembali, bahwa usaha dan keiinginanku masih sebatas ‘bumi’ belum ‘melangit’ hingga mampu menggerakkan fikir, hati, dan ragaku untuk terus menyadari bahwa apa-apa yang saat ini kita jalani haruslah menjadi bekal kita untuk menghadapNya nanti. Bukankah ia yang tahu tempat tujuan dari sebuah perjalanan ia akan mempersiapkan sebaik-baik perbekalan. Lantas, bekal apa yang telah kau pesiapkan untuk menghadapNya? Sedangkan sebaik-baik bekal adalah amal-amal kebaikan kita, sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa dari anak-anak yang sholih.

Allah, jadikan kami salah satu dari mereka yang berjuang dijalanMu, jadikan kami sebaik-baik manusia yang namanya dikenang penduduk bumi, dan dirindui penduduk langit.
Allah, pertemukan kami denganMu dalam keadaan muslim.




“Jangan jadikan amanah dakwah sebagai beban, jadikan ini sebagai peluang berbuat yang terbaik untuk umat...” –KH. Sunardi Syahuri