“Manusiawi,
asal doanya nggak maksa aja sama Allah” itu lah sepenggal balasan chat
yang aku terima dari salah seorang temanku dari IPB. Berdoa.
Dengan itu aku berpasrah, dan berkisah karena mengumbar lelah dan keluh kepada
manusia kadang malah semakin membuatmu semakin merasa besalah.
Seharian
ini banyak hal yang berkecamuk di fikiranku, mulai dari pekerjaan kantor, tugas
kuliah yang kian bertambah setiap hari, dan urusan-urusan pribadi yang minta
segera diselesaikan pula. Rasanya aku benar-benar lelah, liburan di hari minggu
kemarin seolah tak memberikan efek refresh sama sekali. Di saat seperti
inilah sujudku kian panjang, meminta agar dikuatkan dan segera diberi jalan
keluar.
Seringkali,
aku berdoa segera diberi jalan keluar atas segala masalah dengan patokan ukuran
pemikiranku. Jika aku tak punya uang untuk membeli baju, maka berikan aku uang
ya Allah, sepeti itulah seringkali untaian doa yang aku panjatkan. Ya, aku
berdoa memaksa Allah untuk mengabulkan yang aku kehendaki seolah aku lah yang
paling tahu jalan keluar untuk segeala masalahku, padahal kadang meski baik
menurutku belum tentu baik menurutNya.
Teringat
bagaimana begitu santunnya para nabi dalam berdoa, padahal mereka adalah
manusia yanng senantiasa diberikan keberkahan, wahyu, dan setiap doa mereka
ijabah entah apapun yang mereka pinta. Mereka menundukkan ego dan keinginan
mereka dengan ketentuan dariNya. Maka dalam istikharah kita berdoa;
"Wahai
allah, sesungguhnya aku memohon kepada engkau memilih yang baik untukku dengan
ilmu engkau, aku memohon kepada engkau untuk menentukannya dengan kekuasaan
engkau, dan aku memohon kepada engkau anugerah engkau yang agung, karena
sesungguhnya engkau mampu memberi ketentuan sedangkan aku tidak, engkau dapat
mengetahuinya, sedangkan aku tidak, dan engkaulah yang maha mengetahui hal-hal
yang ghaib, wahai allah jika engkau tahu bahwa perkara ini....”
Lantas,
bagaimana dengan kita yang kadang seing lalai, mengingatNya ketika
membutuhkanNya, lupa bahwa apapun yang kita raih semata-mata tak lepas dari
campur tanganNya.
Mari
kembali melangitkan doa, dengan penuh ketundukan meminta keridhoan dan kebaikan
dariNya, bukan doa dengan memaksakan kehendak kita. Bukan doa yang ketika kita
menerima hasilnya kita menerima dengan penuh kerelaan dan lapang dada.
Dan
Allah berjanji dengan firmanNya;
“Dan
apabila bamba-bamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa
apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 186).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar