Rabu, 14 November 2018

Mengikhlaskan Doa


“Manusiawi, asal doanya nggak maksa aja sama Allah” itu lah sepenggal balasan chat yang aku terima dari salah seorang temanku dari IPB. Berdoa. Dengan itu aku berpasrah, dan berkisah karena mengumbar lelah dan keluh kepada manusia kadang malah semakin membuatmu semakin merasa besalah.

Seharian ini banyak hal yang berkecamuk di fikiranku, mulai dari pekerjaan kantor, tugas kuliah yang kian bertambah setiap hari, dan urusan-urusan pribadi yang minta segera diselesaikan pula. Rasanya aku benar-benar lelah, liburan di hari minggu kemarin seolah tak memberikan efek refresh sama sekali. Di saat seperti inilah sujudku kian panjang, meminta agar dikuatkan dan segera diberi jalan keluar.

Seringkali, aku berdoa segera diberi jalan keluar atas segala masalah dengan patokan ukuran pemikiranku. Jika aku tak punya uang untuk membeli baju, maka berikan aku uang ya Allah, sepeti itulah seringkali untaian doa yang aku panjatkan. Ya, aku berdoa memaksa Allah untuk mengabulkan yang aku kehendaki seolah aku lah yang paling tahu jalan keluar untuk segeala masalahku, padahal kadang meski baik menurutku belum tentu baik menurutNya.

Teringat bagaimana begitu santunnya para nabi dalam berdoa, padahal mereka adalah manusia yanng senantiasa diberikan keberkahan, wahyu, dan setiap doa mereka ijabah entah apapun yang mereka pinta. Mereka menundukkan ego dan keinginan mereka dengan ketentuan dariNya. Maka dalam istikharah kita berdoa;
"Wahai allah, sesungguhnya aku memohon kepada engkau memilih yang baik untukku dengan ilmu engkau, aku memohon kepada engkau untuk menentukannya dengan kekuasaan engkau, dan aku memohon kepada engkau anugerah engkau yang agung, karena sesungguhnya engkau mampu memberi ketentuan sedangkan aku tidak, engkau dapat mengetahuinya, sedangkan aku tidak, dan engkaulah yang maha mengetahui hal-hal yang ghaib, wahai allah jika engkau tahu bahwa perkara ini....”

Lantas, bagaimana dengan kita yang kadang seing lalai, mengingatNya ketika membutuhkanNya, lupa bahwa apapun yang kita raih semata-mata tak lepas dari campur tanganNya.
Mari kembali melangitkan doa, dengan penuh ketundukan meminta keridhoan dan kebaikan dariNya, bukan doa dengan memaksakan kehendak kita. Bukan doa yang ketika kita menerima hasilnya kita menerima dengan penuh kerelaan dan lapang dada.

Dan Allah berjanji dengan firmanNya;

“Dan apabila bamba-bamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 186).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar