Aku masih merasakan sisa-sisa kehilangan dari mereka yang telah
Allah panggil dahulu, mereka yang pernah menjadi bagian dari cerita hidupku,
mereka orang-orang yang aku sayangi. Dan pagi ini aku diingatkan kembali dengan
sebuah berita duka dari seorang yang aku akrab dengannya bukan karena
bercenngkrama, tapi aku mengenalnya melalui cerita tentang kebaikan, pejuangan,
dan kedermawanannya di jalan dakwah. Jalan sunyi yang saat ini mungkin tak ramai
diperbincangkan. Kalah dengan drama politik, bendera, dan komedi
bediri yang akhir-akhir ini sedang mengakrabi negeri pertiwi.
Ditengah keramaian rumah duka, aku
terpaku. Kini ku saksikan sendiri bagaimana cerita kebaikan itu tercermin dari
ratusan manusia yang mengantarkan kepergiannya, dari karangan bunga tak
berhenti berdatangan turut mengucapkan duka. Dari cerita yang ku dengar, beliau
sosok sederhana yang menjadi tulang punggung umat bila dalam dakwah
terkendala dengan materi. Beliau menjadi pembina puluhan yayasan Pendiddikan
Islam, termasuk menjadi pembina di Yayasan Sekolah yang saat ini menjadi
tempatku belajar dan bekerja. Dari ketua yayasan kami, aku tahu bagaimana dalam
sakitnya beliau tetap meluangkan waktu dan bersemangat memberikan arahan dan
menguatkan kami untuk ikhlas di jalan dakwah, bagaimana ratusan juta beliau
dermakan begitu saja untuk sekolah-sekolah yang kami rintis agar umat dapat
merasakan pendidikan Islam yang baik, tanpa memikirkan tingginya harga untuk
mengenyam pendidikan saat ini. Beliau yang begitu dikenal oleh penduduk bumi
karena kebaikan-kebaikannya yang membumbung ke langit.
Dari beliau aku benar-benar malu pada diriku sendiri, yang masih
mengeluh dengan amanah yang tak seberapa, padahal urusan itu masih untuk
kebaikan diri sendiri. Aku malu pada diriku yang masih terus bertaya pada Allah
tentang keinginan yang Allah tunda untuk diijabahi atau tentang rencana-rencana
yang bejalan tak sesuai apa yang aku harapkan. Dan dari beliau kini aku diingatkan
kembali, bahwa usaha dan keiinginanku masih sebatas ‘bumi’ belum ‘melangit’
hingga mampu menggerakkan fikir, hati, dan ragaku untuk terus menyadari bahwa apa-apa
yang saat ini kita jalani haruslah menjadi bekal kita untuk menghadapNya nanti.
Bukankah ia yang tahu tempat tujuan dari sebuah perjalanan ia akan mempersiapkan
sebaik-baik perbekalan. Lantas,
bekal apa yang telah kau pesiapkan untuk menghadapNya? Sedangkan sebaik-baik
bekal adalah amal-amal kebaikan kita, sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan
doa dari anak-anak yang sholih.
Allah,
jadikan kami salah satu dari mereka yang berjuang dijalanMu, jadikan kami
sebaik-baik manusia yang namanya dikenang penduduk bumi, dan dirindui penduduk
langit.
Allah,
pertemukan kami denganMu dalam keadaan muslim.
“Jangan
jadikan amanah dakwah sebagai beban, jadikan ini sebagai peluang berbuat yang
terbaik untuk umat...” –KH. Sunardi Syahuri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar