Senin, 12 November 2018

Bekal Kehidupan Kekal


Aku masih merasakan sisa-sisa kehilangan dari mereka yang telah Allah panggil dahulu, mereka yang pernah menjadi bagian dari cerita hidupku, mereka orang-orang yang aku sayangi. Dan pagi ini aku diingatkan kembali dengan sebuah berita duka dari seorang yang aku akrab dengannya bukan karena bercenngkrama, tapi aku mengenalnya melalui cerita tentang kebaikan, pejuangan, dan kedermawanannya di jalan dakwah. Jalan sunyi yang saat ini mungkin tak ramai diperbincangkan. Kalah dengan drama politik, bendera, dan komedi bediri yang akhir-akhir ini sedang mengakrabi negeri pertiwi.

            Ditengah keramaian rumah duka, aku terpaku. Kini ku saksikan sendiri bagaimana cerita kebaikan itu tercermin dari ratusan manusia yang mengantarkan kepergiannya, dari karangan bunga tak berhenti berdatangan turut mengucapkan duka. Dari cerita yang ku dengar, beliau sosok sederhana yang menjadi tulang punggung umat bila dalam dakwah terkendala dengan materi. Beliau menjadi pembina puluhan yayasan Pendiddikan Islam, termasuk menjadi pembina di Yayasan Sekolah yang saat ini menjadi tempatku belajar dan bekerja. Dari ketua yayasan kami, aku tahu bagaimana dalam sakitnya beliau tetap meluangkan waktu dan bersemangat memberikan arahan dan menguatkan kami untuk ikhlas di jalan dakwah, bagaimana ratusan juta beliau dermakan begitu saja untuk sekolah-sekolah yang kami rintis agar umat dapat merasakan pendidikan Islam yang baik, tanpa memikirkan tingginya harga untuk mengenyam pendidikan saat ini. Beliau yang begitu dikenal oleh penduduk bumi karena kebaikan-kebaikannya yang membumbung ke langit.

Dari beliau aku benar-benar malu pada diriku sendiri, yang masih mengeluh dengan amanah yang tak seberapa, padahal urusan itu masih untuk kebaikan diri sendiri. Aku malu pada diriku yang masih terus bertaya pada Allah tentang keinginan yang Allah tunda untuk diijabahi atau tentang rencana-rencana yang bejalan tak sesuai apa yang aku harapkan. Dan dari beliau kini aku diingatkan kembali, bahwa usaha dan keiinginanku masih sebatas ‘bumi’ belum ‘melangit’ hingga mampu menggerakkan fikir, hati, dan ragaku untuk terus menyadari bahwa apa-apa yang saat ini kita jalani haruslah menjadi bekal kita untuk menghadapNya nanti. Bukankah ia yang tahu tempat tujuan dari sebuah perjalanan ia akan mempersiapkan sebaik-baik perbekalan. Lantas, bekal apa yang telah kau pesiapkan untuk menghadapNya? Sedangkan sebaik-baik bekal adalah amal-amal kebaikan kita, sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa dari anak-anak yang sholih.

Allah, jadikan kami salah satu dari mereka yang berjuang dijalanMu, jadikan kami sebaik-baik manusia yang namanya dikenang penduduk bumi, dan dirindui penduduk langit.
Allah, pertemukan kami denganMu dalam keadaan muslim.




“Jangan jadikan amanah dakwah sebagai beban, jadikan ini sebagai peluang berbuat yang terbaik untuk umat...” –KH. Sunardi Syahuri





Tidak ada komentar:

Posting Komentar