Siang
kian meradang, matahari tak henti menampakkan keperkasaannya, tak ada tanda-tanda
angin akan berbisik lembut memberi kesejukan, awanpun seolah enggan menyapa tuk
sejenak menaungi bumi dari sengatan teriknya surya. Deru laju mobil dan teriakan
supir angkot saling bersautan menambah keriuhan siang ini. Seperti biasa, kami
berempat memilih kantin sebagai tempat berlindung dari sang surya dan sejenak
melepas dahaga.
Namun siang ini tak seperti
biasanya, tak ada canda yang diselingi gelegar tawa, tak ada obrolan seru
tentang bola, bahkan tak ada bisik cerita tentang seorang yang di damba. Kami
hanya diam, yang ada hanya mata sayu kurang tidur disertai gurat-gurat
kelelahan diwajah kami.
“Ngapain kamu
gak bawa HP masuk ke ruang ujian Ly? Nengok
aja gak, udah kayak dihipnotis soal aja. Lupa sama temen-temennya yang pada gak
bisa.” Kata Aldo sinis dengan nada mulai meninggi, memecah kesunyian diantara
kami.
Aku tahu,
Aldo marah karena aku tidak memberinya contekan pada ujian ini. Ya, ini memang
hari pertama kami mengahadapi ujian akhir nasional yang akan menentukan kelulusan
kami dari SMA tercinta ini.
“Gak gitu do, kamu kan tahu kalau aku dari
dulu gak mau contek-contekan, aku kan juga udah pernah bilang untuk mendapatkan
hasil yang baik, maka harus dimulai dengan hal yang baik pula” jawabku jujur.
“Ini bukan
masalah mencontek atau dicontek. Bahkan guru bilang kita harus saling membantu
dalam ujian ini, kita masuk bareng lulus juga harus bareng. Ini untuk kebaikan
kita bersama Ly.” Celetuk Riko membela Aldo.
“Ko, membantu
itu dalam belajar bukan memberi contekan, kalau memberi contekan dengan alasan
membantu, kayak gitu sama aja kita mencampuradukkan antara kebaikan dengan
keburukan. Kejujuran itu bukan pilihan, tapi kejujuran adalah sebuah keharusan
dan itu perintah Tuhan yang dalam kitab suci kita sudah tertulis disana.”
Jelasku panjang lebar.
“Hey..hey.. kita
gak perlu adu mulut cuma karena masalah gak penting kayak gini kan? Sudahlah
bro.. woles, slow.” Kata Arlan menengahi. Kami pun kembali terdiam, sibuk
dengan fikiran kami masing-masing.
”Mungkin mereka
masih marah padaku, tetapi setidaknya aku mengatakan kebenaran.” Bisikku dalam hati,menguatkan pilihanku.
Beginilah
persahabatan, meski sejak kelas XI kami sudah berteman namun terkadang kemelut
pertengkaran pasti ada. Aku beranjak dari kursiku menuju kasir untuk membayar
minuman yang aku pesan.
“Ini bang sama
kemaren, maaf ya mang saya lupa bayar minuman yang kemaren karena keasyikan
bercanda.” Kataku pada bang lekan sambil menyerahkan uang.
“Ah, aku tak
tahu kemarin kau belum bayar, aku kira kau tak akan bayar seperti teman-temanmu
yang lain. Aku suka melihat anak muda seperti kau Rully. Sekolah yang bener kau
jangan cuma main-main, anak jaman sekarang
sekolah kok gak ada yang ngomongin pelajaran. Mau jadi apa Indonesia nanti?
Yang sekolah benar saja, belum tentu dapat kerjaan bagus. Dan sekarang sekolah
malah buat aksi kejahatan…” Gerutu bang lekan panjang lebar, dengan aksen bataknya
yang khas. Aku hanya tersenyum kecut.
Ingatanku langsung tertuju pada kasus yang
akhir-akhir ini memenuhi media masa, tentang aksi pedhofilia yang terjadi
disekolah. Beginikah wajah pendidikan Indonesia? Bahkan seorang yang tak
berpendidikanpun menyadarinya.
Kecurangan
adalah hal biasa, bahkan kini sekolah seolah-olah hanya sebagai tempat
tercetaknya para pekerja. Semua berlomba-lomba mendapatkan nilai terbaik dengan
segala cara, dengan tujuan mendapatkan pekerjaan yang baik pula. Seolah-olah moral
dan norma diajarkan sebagai retorika semata tanpa ada penerapan dalam kehidupan.
Bukankah seharusnya pendidikan untuk memanusiakan manusia? Pikirku berkecamuk,
namun pertanyaanku tak menemui jawab, semua pertanyaanku seolah diterbangkan
angin yang mulai menyapa disiang nan terik ini.
Aku bergegas menuruni anak tangga
menuju kantor kepala sekolah. Kejadian tiga hari lalu terbayang kembali. Ketika
bu Widia, kepala sekolah kami mengatakan padaku bahwa nilaiku masuk standar
untuk mendapatkan beasiswa prestasi dari Universitas Negeri terfavorit di
Indonesia yang selama ini aku impi-impikan. Namun dari setiap jurusan hanya
diambil satu orang yang berhak didaftarkan. Jika dari jurusan Sosial hanya
tersaring satu orang, tetapi dari Sains ada dua siswa yang nilainya memenuhi standar
yaitu aku dan teanku, Keysa.
“Ibu belum bisa
menentukan siapa yang akan ibu daftarkan untuk beasiswa ini, dan tentunya hanya
satu orang dari jurusan kalian. Ibu mintak kalian memikirkan baik-baik, mungkin
salah satu dari kalian ada yang ingin mengalah?” Kata bu Widia waktu itu,
sambil menatap kami dalam.
Dan sampai saat ini, aku tak mau mengalah
untuk mundur dari beasiswa ini, begitu pula Keysa. Siapa pula yang ingin
menyia-nyiakan kesempatan besar seperti ini? bahkan semua orang seantero negeri
ini tahu bagaimana sulit dan mahalnya untuk masuk ke Universitas Negeri favorit
itu, dan ketika kesempatan itu hadir siapa yang kuasa menolaknya?
Tanpa
sadar aku tlah sampai didepan pintu kantor kepala sekolah, bu Widia dan Keysa
tlah menantiku.
”Ibu dan wali
kelas kalian sudah menetapkan untuk mendaftarkan kalian berdua, karena
keinginan kalian berdua yang sama-sama kuat.” Kata bu Widia tanpa basa-basi.
“Memangnya boleh
begitu bu? Bukankah dari setiap jurusan hanya diambil satu orang?” kataku
heran. Meski sejujurnya ada rasa senang dan ada rasa janggal disudut hatiku
yang lain.
“Tentu saja
tidak boleh, tapi kami rasa tidak ada salahnya juga untuk dicoba. Mungkin
resiko terbesarnya tahun besok kita tidak akan diundang untuk beasiswa ini lagi.”
Jelas bu Widia dengan gurat keraguan yang mulai tergambar diraut wajah paruh
bayanya.
Akal dan nuraniku berkecamuk, akalku
menginyakan namun nuraniku bergejolak. Tentu saja niat bu Widia baik tidak
ingin memutus harapan kami, karena kami punya kesempatan dan memang tidak ada
salahnya juga untuk mencoba. Namun, jika aku menerima tawaran bu Widia aku
setuju dengan kecurangan, dengan resiko aku akan menghancurkan impian dan kesempatan
untuk adik kelasku kelak, tapi ini impianku! ini kesempatanku!
Seandainya
pendidikan itu tidak mahal, maka bagi anak seorang karyawan sepertiku akan
dengan mudah merelakan beasiswa itu, dan seandainya pendidikan akan kejujuran
itu diutamakan, maka tak akan ada pilihan yang menyesakkan hati seperti ini.
Tuhan…keputusan
mana yang harus aku pilih? Bukankah kejujuran bukan suatu pilihan,namun suatu
keharusan? Tapi, bukankah kesempatan juga hanya datang sekali?
Langit temaram, awan kelabu
bergerombol pertanda bahwa sang hujan kan segera tiba, anginpun tak segan
menyeruak ditengah ketenangan yang ada, memberi kesejukan pada jiwa-jiwa yang
bernaung di planet yang disebut bumi ini. Burung riuh berkicau dan bersegera
untuk kembali ke sarang sebelum sang hujan datang.
“Sore yang
hebat. Semoga hujan ini bermanfaat.” Gumamku lirih, menyaksikan pesona alam
diluar jendela kamarku.
Aku
kembali berkutat dengan laptop didepanku, ku baca sekilas web kampus yang
menjadi tujuanku. Entahlah aku tak tahu keputusan yang aku ambil selama ini
tepat atau tidak, aku hanya menuruti nuraniku. Tiba-tiba, entah mengapa hati
ini tergelitik untuk membuka akun email, yang beberapa minggu ini jarang ku
buka. Ku baca beberapa email yang masuk, ada satu email yang janggal dan alamat
pengirimnya tak aku kenali. Aku buka pesan dengan dahi berkerut, mataku
terbelalak membaca setiap kata bahasa inggris yang tertera disana. Benarkah
ini?
Aku di terima dan mendapat beasiswa di Landscaster
University di Fakultas Science and Technology jurusan Engineering (Tekhnik)! Tubuhku lemas
seketika, antara percaya dan tidak. Beberapa bulan yang lalu aku memang coba-coba
untuk mendaftar di beberapa universitas diluar negeri. Memenuhi persyaratan dan
mengikuti tes online, dan ternyata inilah jawaban dari setiap langkah dan
keputusanku.
Ah
ya! Mengapa aku melupakan hal ini? Ketika kita meninggalkan sesuatu karenaNya,
maka Ia akan menggantikannya dengan yang lebih baik, bukan? Tuhan…betapa indah
rencanaMu, ketika ku meninggalkan Universitas Negeri impianku untuk
mempertahankan kejujuran itu, Kau menggantikannya dengan hal yang lebih baik
dan tak terduga.
Hati
bergemuruh penuh syukur dan bahagia, air mataku dan kedua orang tuaku tumpah, ada
janji dan harapan besar yang bercokol dalam hati ini. Dulu aku menyangka, bahwa
kesempatan hanya akan datang satu kali, tapi kini aku tahu arti kesempatan itu.
Selama yang kita pilih adalah sebuah kebenaran maka kesempatan itu akan selalu
datang bagi mereka yang selalu percaya dan terus berusaha dengan sebaik-baiknya.
“Kelak akan ku harumkan
bangsa ini dengan pendidikan yang bermartabat, pendidikan bagi seluruh rakyat
dan pendidikan yang melahirkan generasi-genarasi cerdas dan bertaqwa pada Tuhan
Yang Maha Esa. Ini janjiku, ini bentuk rasa syukurku, dan ini cinta untuk
Indonesiaku…” harapku lirih ditengah gerimis dan sujudku sore ini.
Karena kejujuran
bukanlah sebuah pilihan….