Minggu, 05 April 2015

Bukan Pilihan


Siang kian meradang, matahari tak henti menampakkan keperkasaannya, tak ada tanda-tanda angin akan berbisik lembut memberi kesejukan, awanpun seolah enggan menyapa tuk sejenak menaungi bumi dari sengatan teriknya surya. Deru laju mobil dan teriakan supir angkot saling bersautan menambah keriuhan siang ini. Seperti biasa, kami berempat memilih kantin sebagai tempat berlindung dari sang surya dan sejenak melepas dahaga.
            Namun siang ini tak seperti biasanya, tak ada canda yang diselingi gelegar tawa, tak ada obrolan seru tentang bola, bahkan tak ada bisik cerita tentang seorang yang di damba. Kami hanya diam, yang ada hanya mata sayu kurang tidur disertai gurat-gurat kelelahan diwajah kami.
“Ngapain kamu gak bawa HP masuk ke ruang ujian Ly?  Nengok aja gak, udah kayak dihipnotis soal aja. Lupa sama temen-temennya yang pada gak bisa.” Kata Aldo sinis dengan nada mulai meninggi, memecah kesunyian diantara kami.
Aku tahu, Aldo marah karena aku tidak memberinya contekan pada ujian ini. Ya, ini memang hari pertama kami mengahadapi ujian akhir nasional yang akan menentukan kelulusan kami dari SMA tercinta ini.
 “Gak gitu do, kamu kan tahu kalau aku dari dulu gak mau contek-contekan, aku kan juga udah pernah bilang untuk mendapatkan hasil yang baik, maka harus dimulai dengan hal yang baik pula” jawabku jujur.
“Ini bukan masalah mencontek atau dicontek. Bahkan guru bilang kita harus saling membantu dalam ujian ini, kita masuk bareng lulus juga harus bareng. Ini untuk kebaikan kita bersama Ly.” Celetuk Riko membela Aldo.
“Ko, membantu itu dalam belajar bukan memberi contekan, kalau memberi contekan dengan alasan membantu, kayak gitu sama aja kita mencampuradukkan antara kebaikan dengan keburukan. Kejujuran itu bukan pilihan, tapi kejujuran adalah sebuah keharusan dan itu perintah Tuhan yang dalam kitab suci kita sudah tertulis disana.” Jelasku panjang lebar.
“Hey..hey.. kita gak perlu adu mulut cuma karena masalah gak penting kayak gini kan? Sudahlah bro.. woles, slow.” Kata Arlan menengahi. Kami pun kembali terdiam, sibuk dengan fikiran kami masing-masing.
”Mungkin mereka masih marah padaku, tetapi setidaknya aku mengatakan kebenaran.” Bisikku  dalam hati,menguatkan pilihanku.
Beginilah persahabatan, meski sejak kelas XI kami sudah berteman namun terkadang kemelut pertengkaran pasti ada. Aku beranjak dari kursiku menuju kasir untuk membayar minuman yang aku pesan.
“Ini bang sama kemaren, maaf ya mang saya lupa bayar minuman yang kemaren karena keasyikan bercanda.” Kataku pada bang lekan sambil menyerahkan uang.
“Ah, aku tak tahu kemarin kau belum bayar, aku kira kau tak akan bayar seperti teman-temanmu yang lain. Aku suka melihat anak muda seperti kau Rully. Sekolah yang bener kau  jangan cuma main-main, anak jaman sekarang sekolah kok gak ada yang ngomongin pelajaran. Mau jadi apa Indonesia nanti? Yang sekolah benar saja, belum tentu dapat kerjaan bagus. Dan sekarang sekolah malah buat aksi kejahatan…” Gerutu bang lekan panjang lebar, dengan aksen bataknya yang khas. Aku hanya tersenyum kecut.
             Ingatanku langsung tertuju pada kasus yang akhir-akhir ini memenuhi media masa, tentang aksi pedhofilia yang terjadi disekolah. Beginikah wajah pendidikan Indonesia? Bahkan seorang yang tak berpendidikanpun menyadarinya.
Kecurangan adalah hal biasa, bahkan kini sekolah seolah-olah hanya sebagai tempat tercetaknya para pekerja. Semua berlomba-lomba mendapatkan nilai terbaik dengan segala cara, dengan tujuan mendapatkan pekerjaan yang baik pula. Seolah-olah moral dan norma diajarkan sebagai retorika semata tanpa ada penerapan dalam kehidupan. Bukankah seharusnya pendidikan untuk memanusiakan manusia? Pikirku berkecamuk, namun pertanyaanku tak menemui jawab, semua pertanyaanku seolah diterbangkan angin yang mulai menyapa disiang nan terik ini.

                                                            ***************

            Aku bergegas menuruni anak tangga menuju kantor kepala sekolah. Kejadian tiga hari lalu terbayang kembali. Ketika bu Widia, kepala sekolah kami mengatakan padaku bahwa nilaiku masuk standar untuk mendapatkan beasiswa prestasi dari Universitas Negeri terfavorit di Indonesia yang selama ini aku impi-impikan. Namun dari setiap jurusan hanya diambil satu orang yang berhak didaftarkan. Jika dari jurusan Sosial hanya tersaring satu orang, tetapi dari Sains ada dua siswa yang nilainya memenuhi standar yaitu aku dan teanku, Keysa.
“Ibu belum bisa menentukan siapa yang akan ibu daftarkan untuk beasiswa ini, dan tentunya hanya satu orang dari jurusan kalian. Ibu mintak kalian memikirkan baik-baik, mungkin salah satu dari kalian ada yang ingin mengalah?” Kata bu Widia waktu itu, sambil menatap kami dalam.
             Dan sampai saat ini, aku tak mau mengalah untuk mundur dari beasiswa ini, begitu pula Keysa. Siapa pula yang ingin menyia-nyiakan kesempatan besar seperti ini? bahkan semua orang seantero negeri ini tahu bagaimana sulit dan mahalnya untuk masuk ke Universitas Negeri favorit itu, dan ketika kesempatan itu hadir siapa yang kuasa menolaknya?
Tanpa sadar aku tlah sampai didepan pintu kantor kepala sekolah, bu Widia dan Keysa tlah menantiku.
”Ibu dan wali kelas kalian sudah menetapkan untuk mendaftarkan kalian berdua, karena keinginan kalian berdua yang sama-sama kuat.” Kata bu Widia tanpa basa-basi.
“Memangnya boleh begitu bu? Bukankah dari setiap jurusan hanya diambil satu orang?” kataku heran. Meski sejujurnya ada rasa senang dan ada rasa janggal disudut hatiku yang lain.
“Tentu saja tidak boleh, tapi kami rasa tidak ada salahnya juga untuk dicoba. Mungkin resiko terbesarnya tahun besok kita tidak akan diundang untuk beasiswa ini lagi.” Jelas bu Widia dengan gurat keraguan yang mulai tergambar diraut wajah paruh bayanya.
            Akal dan nuraniku berkecamuk, akalku menginyakan namun nuraniku bergejolak. Tentu saja niat bu Widia baik tidak ingin memutus harapan kami, karena kami punya kesempatan dan memang tidak ada salahnya juga untuk mencoba. Namun, jika aku menerima tawaran bu Widia aku setuju dengan kecurangan, dengan resiko aku akan menghancurkan impian dan kesempatan untuk adik kelasku kelak, tapi ini impianku! ini kesempatanku!
Seandainya pendidikan itu tidak mahal, maka bagi anak seorang karyawan sepertiku akan dengan mudah merelakan beasiswa itu, dan seandainya pendidikan akan kejujuran itu diutamakan, maka tak akan ada pilihan yang menyesakkan hati seperti ini.
Tuhan…keputusan mana yang harus aku pilih? Bukankah kejujuran bukan suatu pilihan,namun suatu keharusan? Tapi, bukankah kesempatan juga hanya datang sekali?

            
                                                **************
    
        Langit temaram, awan kelabu bergerombol pertanda bahwa sang hujan kan segera tiba, anginpun tak segan menyeruak ditengah ketenangan yang ada, memberi kesejukan pada jiwa-jiwa yang bernaung di planet yang disebut bumi ini. Burung riuh berkicau dan bersegera untuk kembali ke sarang sebelum sang hujan datang.
“Sore yang hebat. Semoga hujan ini bermanfaat.” Gumamku lirih, menyaksikan pesona alam diluar jendela kamarku.
Aku kembali berkutat dengan laptop didepanku, ku baca sekilas web kampus yang menjadi tujuanku. Entahlah aku tak tahu keputusan yang aku ambil selama ini tepat atau tidak, aku hanya menuruti nuraniku. Tiba-tiba, entah mengapa hati ini tergelitik untuk membuka akun email, yang beberapa minggu ini jarang ku buka. Ku baca beberapa email yang masuk, ada satu email yang janggal dan alamat pengirimnya tak aku kenali. Aku buka pesan dengan dahi berkerut, mataku terbelalak membaca setiap kata bahasa inggris yang tertera disana. Benarkah ini?
Aku di terima dan mendapat beasiswa di Landscaster University di Fakultas Science and Technology jurusan Engineering (Tekhnik)! Tubuhku lemas seketika, antara percaya dan tidak. Beberapa bulan yang lalu aku memang coba-coba untuk mendaftar di beberapa universitas diluar negeri. Memenuhi persyaratan dan mengikuti tes online, dan ternyata inilah jawaban dari setiap langkah dan keputusanku.
Ah ya! Mengapa aku melupakan hal ini? Ketika kita meninggalkan sesuatu karenaNya, maka Ia akan menggantikannya dengan yang lebih baik, bukan? Tuhan…betapa indah rencanaMu, ketika ku meninggalkan Universitas Negeri impianku untuk mempertahankan kejujuran itu, Kau menggantikannya dengan hal yang lebih baik dan tak terduga.
Hati bergemuruh penuh syukur dan bahagia, air mataku dan kedua orang tuaku tumpah, ada janji dan harapan besar yang bercokol dalam hati ini. Dulu aku menyangka, bahwa kesempatan hanya akan datang satu kali, tapi kini aku tahu arti kesempatan itu. Selama yang kita pilih adalah sebuah kebenaran maka kesempatan itu akan selalu datang bagi mereka yang selalu percaya dan terus berusaha dengan sebaik-baiknya.
“Kelak akan ku harumkan bangsa ini dengan pendidikan yang bermartabat, pendidikan bagi seluruh rakyat dan pendidikan yang melahirkan generasi-genarasi cerdas dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa. Ini janjiku, ini bentuk rasa syukurku, dan ini cinta untuk Indonesiaku…” harapku lirih ditengah gerimis dan sujudku sore ini.
Karena kejujuran bukanlah sebuah pilihan….

                                                            ************


Tidak ada komentar:

Posting Komentar