Rabu, 31 Mei 2017

Ramadhan 5 : Akhir Semu

Keren itu, kamu tahu peranmu dan bertanggung jawab atas pilihanmu!
Peranmu sebagai Hamba, anak, orang tua, penuntun ilmu, dan warga Negara.
Bertanggung jawab dengan apapun resiko dari setiap pilihanmu.

Bukan hanya untuk mencari eksistensi, 
Bukan untuk mengunggulkan diri, 
Tapi kamu benar-benar tau ada peran dan tanggung jawabmu disana.

Ah, terus busungkan dadamu. Tinggikan suaramu. 
Maka, pada akhirnya yang akan kau temui hanya semu.. 

Selasa, 30 Mei 2017

Ramadhan 4 : Debat Kusir

Saya mengingat ketika awal saya masuk dunia perkuliahan, banyak sekali hal-hal baru yang datang, bukan hanya teman dan lingkungan baru, tapi juga keilmuan. Banyak juga hal-hal yang saya anggap tak sesuai dengan pandangan dan pemahaman saya. Ketika itu pula, gaung bahwa kamu mahasiwa maka kamu harus berikir kritis begitu digencarkan oleh kakak-kakak panitia Ospek ketika itu. 

Saya merasa banyak hal yang tak saya ketahui, dan bertentangan dengan yang saya ketahui saat itu. Maka tak heran ketika itu saya banyak bertanya, diskusi dan berdebat. Lagi-lagi kami diingatkan bahwa "Mahasiswa harus kritis" seolah setiap apapun yang disodorkan kepada kita harus ada hal yang harus kita kritisi, harus dan patut kita pertanyakan. Sehingga tiap kali ada teman kita yang berbicara selalu harus ada hal yang dipertanyakan, hingga saling adu argumen, mencari pendapat dan pemikiran lain yang lebih kuat untuk membenarkan argumen kita, membaca pemikiran tokoh lalu kita kritisi lagi. Sehingga, mulai muncullah rasa I'm Mr/s know it all, bahkan ketika itu ada yang berbisik "Ahh,nih orang nggak tau apa-apa nih. Masa begitu", "Pemikiran seperti itu kolot, seharusnya begini...." Dan suatu ketika sangking panasnya perdebatan seorang teman saya berkata. "Harusnya, kalau anda intelek anda pasti tahu..." Ah, Seru sekali ketika itu.

Disisi lain saya berfikir, kenapa seolah ketika kita mampu menggaungkan argumen kita dan diamini oang lain, kitalah yang benar? 
Sebenarnya kita berdebat untuk apa?
Apakah hanya untuk saling beradu argumen? Buat apa, toh ini bukan kompetisi debat?
Bukankah seharusnya ketika kita menemukan suatu gap atau masalah, kita seharusnya mencari solussi dan kebenaran, bukan malah di perdebatkan?

Hingga saya tanpa sengaja membaca kembali hadist tentang perdebatan,

"Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Aku memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam bentuk candaan. Aku memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.” (HR. Abu Daud, no. 4800. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Saat ini, lagi-lagi saya seperti diingatkan kembali dengan kejadian waktu itu, lagi-lagi karena sosial media yang begitu riuh dengan pedebatan, dari perdebatan di komen sampai balas caption status dan lain sebagainya. Bermula dari seorang yang mengungguh hal yang di anggap tak sesuai dengan nilai dan norma yang ada. Terjadilah komen dan kritik pedas, hingga saling menanggapi dan berbalas komentar antara kubu pro dan kontra, padahal yang dikomentari belum tentu menjawab dan membaca komentar-komentar mereka. Mungkin dari kita ketika berkomentar berniat mengingatkan bahwa itu hal yang salah, tak sesuai nilai-nilai agama. Jika memang berniat mengingatkan, jadi yang perlu  digaris bawahi adalah tugas kita hanya mengingatkan, dan menyampaikan kebenaran. cukup!

Seringkali ketika kita menyampaikan dan mengingatkan kita malah merasa paling benar, paling baik, harus segera ditaati. Berapa kali sih kita mengingatkan orang yang kita komentari tersebut? Padahal rosulullah butuh bertahun-tahun untuk mengajak manusia menyembah hanya kepada  Allah. Lalu bagaimana dengan kita yang hanya sekali mengingatkan tapi inginnya langsung di taati? Itu saja jika bahasa yang kita gunakan baik belum tentu diterima, bagaimana jika bahasa yang kita gunakan malah sebaliknya? Bahkan malah menyempatkan waktu untuk menanggapi komentar lain yang kontra dengan pendapat kita sampai ikut mencaci pula! Jika begitu apa bedanya?

Allah dan Rosulullah tlah mengingatkan kita dengan jaminan rumah di surga, jika kita menghindari perdebatan yang sia-sia, perdebatan yang tak bertujuan menasehati dan mencari kebenaran, hanya debat kusir yang tak ada ujungna! Apa lagi di dunia maya yang tidak jela wujud dan identitasya. Jika kita ingin mengingatkan pada kebenaran dan meperbaiki kesalahan, ingatlah apa niat kita semula. Sampaikan dengan bahasa terbaik yang kita punya. Bukankah rosul mengajarkan kita juga untuk berkata baik atau diam?
Semoga Allah senantiasa mengampuni kita semua.
Well, kata imam syafi'i ini patut dijadikan sebuah perenungan.

"Berkatalah sekehendakmu untuk menghina
kehormatanku, toh diamku dari orang hina
adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku
tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas
bagi Singa meladeni anjing" -Imam Syafi'i-




Minggu, 28 Mei 2017

Ramadhan 3 : Realistis atau Pesimis?



Di usia yang mulai memasuki seperempat abad ini, banyak hal yang saya fikikan. Entah bagaimana saya mulai bosan dengan hal-hal yang dulu begitu menarik bagi saya, tak seperti dulu yang begitu bersemangat untuk mewujudkan gagasan dan ide baru.

Setiap dari kita pasti mempunyai keinginan dan impian. Namun seiring berjalannya waktu, berbagai hal yang kita alami, keinginan itu seolah menjadi hal yang 'patut kita fikirkan ulang', tidak sepeerti dulu ketika kita kecil dengan lantang dan semangatnya meneriakkan "Aku ingin menjadi presiden!". Dan, sekarang entah kita menjadi realistis atau malah pesimis?

Gagasan-gagasan besar yang dulu ingin kita realisasikan kini seolah memudar, dengan tidak adanya uang, minimnya pengalaman, atau tuntutan masyarakat sekitar. Hingga kita mulai berikir, sudahlah lakukan saja seperti seharusnya, lakukan saja seperti kata mereka toh ini bukan hal yang keliru. Ya, kita mulai merealistikan keadaan. Atau kita malah pesimis karena ketidakmampuan dan tidak adanya kesempatan yang datang? Mungkin sebenarnya keinginan dan mimpi itu masih ada, tapi kita tak tahu harus dari mana memulainya, hingga kita merasa berfikir sangat terlambat bila memulainya sekarang, atau takut akan menjadi sebuah langkah yang salah karena begitu berbalik dengan keadaan kita yang sekarang.

Saya teringat ketika saya bertemu dengan teman saya yang baru pulang dari Jepang menghadiri acara kepemimpinan di Jepang. Dia bercerita kepada kami tentang pengalamannya dan motivasinya. Yang paling saya ingat adalah ketika dia berkata bahwa dia tidak suka mengikuti acara training motivasi atau membaca buku motivasi. Menurutnya, hal tersebut malah membuat kita takut melangkah, ketika kita ingin melangah kita malah disibukkan dengan step-step yang kita dapat dari motivator. Pertama kamu hurus buat planning, tetapkan tujuan, ke dua... ketiga.. dan seterusnya. Padahal, yang seharusnya kita lakukan, yaa sudah lakukan! Just do it! itu menurutnya.

Saya setuju dengan "Yang seharusnya kita lakukan, ya sudah lakukan!" Ini sekaligus menjadi sebuah jawaban atas pertanyaan "Apa yang harus saya lakukan? Apa yang harus saya mulai?" Karena Gagasan akan tetap menjadi sebuah gagasan bila kita tidak memulai. Namun saya tidak sepenuhnya setuju jika kita tak perlu terlalu banyak mendengarkan motivasi. Mengapa? sebenarnya kita selalu butuh diingatkan dan dimotivasi agar semangat itu terjaga, agar impian yang kita iginkan tak terlupa, entah bagaimanapun keadaannya. Tinggal bagaiamana kita mengaplikasikan setiap motivasi yang kita dapat. Lihat, bahkan meskipun teman saya tak suka mengikuti training motivasi, sebenarnya teman saya yang sedang berbicara pun dia sedang memotivasi kami untuk bisa berbuat sepertinya juga, memaca buku setiap hari, kurangi waktu tidur dan lain sebagainya. Semua hal yang teman saya katakan dan lakukan tidak ada yang salah. Keinginan-keinginan kita mulai memudar karena ita mulai berikir realistis sehingga merasa pesimis,  juga bukan hal yang salah. Yang salah adalah kita tak melakukan apapun hari ini! Ya, karena ketika kita diam tak ada perubahan, padahal yang kita lakukan sekarang berhubungan dengan masa yang akan datang.

Lakukan saja apa yang bisa kita lakukan saat ini, tak apa bila mimpi kita memudar tapi jangan hilang. Bila memudar dekati ia kembali, coba ingat apa alasan mengapa kita menginginkannya? Apa yang membuat kita begitu menginginkannya? Selangkah demi selangkah. Tak ada langkah yang tak sampai pada tujuannya yang ada, langkah itu kita hentikan sebelum tujuan atau terhentikan oleh kematian. Jika pun langkah itu tak sampai entah karena kita hentikan atau terhentikan, ketahuilah kita sudah membuat banyak langkah yang bisa diikuti oleh orag lain yang ingin berada di jalan mimpi yang sama. Ketahuilah bahwa ketika kita melangkah kita juga menemukan hal-hal lain yang tak kita dapat sebelumya. Melangkah jangan takut salah, kesalahan adalah kita tak melakukan apapun hari ini.

Ramadhan 2 : Sok Tahu!



Terkadang saya menarik diri dari riuhnya arus diluar sana. Berhenti sejenak, mengamati, lantas saya merangkainya kemudian berharap dari setiap rangkaian yang ada, bisa menjadi sebuah pemahaman yang baik untuk diri saya dan sekeliling saya. Sejujurnya, saya adalah tipikal yang mudah tertarik akan semua hal, bertanya apapun yang tidak saya tahu, takut tapi ingin mencoba. Saya menyadari betul, sikap mudah tertarik bisa menjadi dua hal yang memberikan manfaat dan madharat. Menepi sejenak dan tidak mengikuti arus bukan berarti saya tak memilih atau lari, karena saya menyadari akan lemahnya ilmu dan pengetahuan yang saya miliki, saya berusaha memahami setiap hal dengan baik. Maka, tak segan bila ada seseorang yang bertanya dan saya menjawab tidak tahu. 

Yang kamu lihat tak semua yang kamu tahu. Jadi, jangan sok tahu!
Ya, tak semua yang kita lihat dapat menjelaskan segalanya. Ada banyak hal di dunia ini yang tak bisa dijelaskan hanya lewan penglihatan kita. Oleh Sebab itu Tuhan tidak hanya menciptakan mata sebagai indra kita. Seringkali kita menilai buruk seseoang hanya dari apa yang kita lihat, memang salah satu cara kita untuk menilai yakni dari apa yang kita lihat, akan tetapi itu bukan penilaian mutlak, kita masih bisa melihat sisi lainnya. Dalam Islam sendiri Allah melarang kita untuk berprasangka buruk. 

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak berprasangka; Sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan keaiban orang, dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang mengumpat sebahagian yang lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.” (Surah Al-Hujurat, 49; Ayat 12)
Lalu bagaimana, kita melihat pasti akan menjadi sebuah kesan pertama bukan? Dan itu juga menjadi sebuah penilaian? Hal tersebut tak bisa kita pungkiri, karena kita memiliki kecondongan-kecondongan, dan hal terebut juga sebuah pilihan. Ketika kita mulai berfikir tentang hal buruk namun tanpa ada bukti, kita tetap dapat memilih untuk berprasangka baik. Jika pun kita menemukan bukti atas "hal buruk" yang kita prasangkakan tak sepatutnya juga kita mengolok-olok ataupun mencaci. Tugas kita hanya mengingatkan pada kebaikan. Apakah dengan mencaci hal terebut akan segera berubah? Dan apakah kita yang mengolok-olok lebih baik dari yang kita olok-olok?
Ada sebuah kisah yang diabadikan dalam sebuah hadits, yang seharusnya kisah ini menjadi sebuah pembelajaran dan koreksi diri. Kisah seoang wanita pezina yang diampuni dosanya karena memberi minum eekor anjing yang kehausan.

Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Muslim no. 2245).


Kita tidak pernah tahu dari amal apa yang bisa membawa kita pada keridhoan Allah. Bisa jadi, ibadah yang selama ini kita laksanakan tak lebih baik dari orang yang kita nilai buruk. Tugas kita hanya terus berusaha meraih keridhoanNya, mengajak pada yang ma'ru dan mencegah pada yang mungkar.
Yang kamu lihat tak semua yang kamu tahu. Maka, jadikanlah khusnudzon dan akhlakul karrimah sebagai pelindung dari hal yang membuat kita merasa tinggi. :)

Sumber : https://rumaysho.com/7395-kisah-wanita-pezina-yang-memberi-minum-pada-anjing.html



  

Sabtu, 27 Mei 2017

Ramadhan bersama Rumah Zakat


Alhamdulillah salah satu doa kita di ramadhan tahun lalu di ijabah oleh Allah SWT, untuk dapat bertemu ramadhan tahun ini. Ah, usia siapa yang tahu? Pagi ini pun kabar lelayu di umumkan lewat speaker masjid seusai sholat subuh. Hari pertama ramadhan, dimana semua orang merasakan euforia dangan penuh pengharapan dan kebahagiaan, disisi lain ada keluarga yang bersedih karena kehilangan. Apapun itu, kita sebagaimana manuia hanya bisa berikhtiar dan bertawakal atas segala ketentuan yang Allah gariskan. Meyakini apapun yang Allah berikan adalah terbaik.

Tahun ini genap ramadhan tahun ke empat saya di jogja. Menyambut ramadhan seharunya tak hanya dengan bahagia, namun dengan syukur dan keimanan yang kian bertambah. ramadhan kali ini saya bergabung menjadi relawan di rumah zakat regionl Jogja. Robbi... saya baru ikut agenda pertama JumatMenabung (Menebar Nasi Bungkus) saya sudah mendapatkan ilmu dan cerita dari relawan lain yang sudah menjadi relawan sebelumnya. Menjadi seorang relawan bukanlah hal pertama kali bagi saya sendiri, saya pernah beberapa kali terlibat dalam kegiatan sosial lainnya, tapi bagi saya setiap tempat spesial, ada ilmu baru yang tak bisa kita dapatkan ditempat lainnya.

Jumat kemarin kami menebar 30 nasi bungkus, pukul 05.00 kami berkumpul SD Juara yang menjadi SD binaan Rumah Zakat, Menebar nassi bungkus juga bukanlah hal pertama bagi saya, karena sesekali saya membagikan nasi bungkus diasrama yang ditinggal pemiliknya karena pulang, puasa atau karena alasan yang lainnya. Kami di bagi tim untuk menebar nasi bungkus untuk para pemulung, loper koran dan tukang becak gayuh bukan becak motor. Di sinilah kisah bermula, kita bertemu realita kehidupan dan lagi-lagi mengingatkan kita untuk terus bersyukur. Bahwa apapun yang kita miliki saat ini adalah yang terbaik untuk kita. Kami bertemu seorang ibu yang terkena stroke masih berjualana koran di lampu merah dengan menggunakan kursi rodanya, namun dengan senyum hangatnya masih berbincang dengan kami, seolah dirinya dan keadaannya baik-baik saja. ya Allah....
Lalu, kami menjumpai bapak-bapak tua dengan rompi parkir yang sudah begitu lusuh sudah pudar warnanya dan kotor, duduk didepan sebuah toko yang belum buka. Setelah kami temui ternyata bapak tersebut tangan kirinya bengkok akibat stroke,ketika saya bertanya nama beliau, beliau tersenyum dan bersegera dengan tangan kanannya merogoh saku dan menyodorkan dompet kepada saya, bergetar hati saya menyaksikan itu,Robbi... bapak tersebut tak bisa berbicara juga! Dan ketika dompet itu dibuka bukan KTP asli yang kami temukan, namun hanya selembar foto copy KTP yang sudah lusuh bertulis Edy disana. Robbi... ampuni kami yang telah kufur pada nikmatMu.

Reska, teman relawan yang menjadi koordinator agenda ini juga bercerita, bagaimana perjuangan bapak-bapak yang menjadi tukang becak gayuh. Mereka tak mendapatkan penumpang 2-3 hari adalah hal yang biasa, terkadang mereka tak pulang ke rumah karena malu dengan anak istrinya. mereka memilih tidur dibecaknya atau mencari emperan toko, masjid atau apapun untuk mereka tidur. Padahal tukang becak keberadaannya diakui pemerintah, mereka punya plat dan izin dari pemerintah, namun pemerintah masih kurang memperhatikan akan kesejah teraan mereka ditengah munculnya becak motor, ojek online dan lain sebagainya. Bahkan reska yang sudah sering membagi nasi bungkus berkeinginan membuat aplikasi untuk pak becak ini. Ah, hebat mimpimu reska! :')

Membayangkan jika mereka adalah orang tua saya, hati saya pilu. Bukan! bukan karena pekerjaan mereka, karena bagi saya pekerjaan apapun sama saja dan itu mulia. Setiap orang punya alasan dan keadaannya masing-masing. Yang membuat saya terenyuh karena perjuangan mereka untuk dirinya dan keluarganya. 
Lantas bagaimana dengan kita yang Allah karuniakan kesehatan, kesempatan untuk mengenyam pendidikan, merasakan kesempatan-kesempatan yang lebih biak dibanding mereka? Apakah kita masih bersyukur? Apakah kita masih mengeluh? Dan apakah kita juga telah berbagi kebahagiaan yang kita miliki dengan mereka?

“Perumpamaan orang yang menginfakan hartanya di jalan Allah, adalah seumpama biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai berisi seratus biji. Dan Allah melipatgandakan (balasan) bagi siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas karuniaNYA lagi Maha Terpuji.” 
(QS. Ali Imran: 261)

Karena Berbagi tak akan rugi. 
Ramadhan Kareem.



Minggu, 07 Mei 2017

Untung kamu cantik!


Pernah nemu Meme di media sosial dengan gambar seorang laki-laki berbadan tegap kulit putih, hidung mancung, memakai pakaian rombeng-rombeng dengan tulisan "Orang ganteng (cantik) mah bebas". Cerita ke-2 beberapa minggu yang lalu aku berada disalah satu tempat pelayanan publik dan aku nggak sengaja ngelakuin kesalahan. Yup! Aku panik. Alhamdulillah aku ditolongin sama beberapa bapak-bapak dan mas-mas disana. Ketika itu masnya nyeletuk, "Duh... mbak makanya hati-hati, untung aja kamu cantik!" Heran! Laah? Apa nyambungnya kesalahan yang aku buat dengan cantik?! Aku disini gak akan bahas tentang cantik atau tidak cantik, tapi tentang bagaimana sikap danpersepsi kita terhadap cantik/ganteng itu sendiri. Dari kalimat mas-mas tadi seolah masnya tadi mau bilang, karena kamu cantik jadi ada yang nolong, karena kamu cantik jadi nggak apa-apa kamu ngelakuin kesalahan ini, atau karena kamu cantik, yaa setidaknya kamu punya 'kelebihan lah' meski kamu ngelakuin kesalahan. Maybe kalian bakal bilang, "Lebay! Ah, kamu aja yang sensi fa..." Jadi gini, akui saja kita seringkali lebih mementingkan kulit daripada isi, bukan? Padahal hakikat berada pada isi, pada esensi bukan eksistensi.

Cantik. Menurut KBBI cantik1/can·tik/ a 1 elok; molek (tentang wajah, muka perempuan); 2 indah dalam bentuk dan buatannya: meja ini -- sekali;
-- molek 1 sangat rupawan (tentang orang perempuan); 2 cantik (bagus) sekali (antara bentuk, rupa, dan lainnya tampak serasi). Lihat, kita hanya mampu mendefinisikan cantik hanya dengan cirinya saja, eksistensinya saja bukan esensinya. Cantik itu yang memiliki tubuh yang semampai, langsing, kulit putih, bibir yang merah, hidung mancung dan lain sebagainya. Lalu jika seseorang yang tidak masuk dalam kriteria itu dan dianggap tidak cantik, Jika begitu salahkan Tuhan yang menciptakan dong?! Ah, bodoh dan naif sekali jika kita berfikir cantik hanya sebatas itu, padahal definisi dan teori itu tentatif!

Kita sering membuat sekat-sekat atas apa yang kita fikirkan sendiri. Padahal esensi dari cantik itu lebih agung daripada itu semua. Kadang pengertian memberikan batasan-batasan dan paksaan-paksaan yang mengaburkan, bahkan menghilangkan substansi-substansi yang paling penting. kitalah yang sering terjebak dengan nilai-nilai semu. Membeli cream kecantikan yang begitu mahal, diet ketat bagaikan momok tapi hharus dijalankan agar tubuh ideal bak artis hollywood dan bollywood, rela oprasi untuk hidung yang mancung mempesona. Bahkan masyarakat kita sendiripun lagi-lagi yang paling dinilai adalah fisik, kulit! lihat saja bagaimana jika kita betemu yang dijadikan basa-basi adalah fisik "eh, kok kamu gendutan yaa sekarang", "Eh kok kamu banyak jerawatnya.."Iya kalau orang diajak bicara memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan tidak peduli dengan semua omong kosong itu, bagaimana jika dia seorang yang sensitif dan tidak mempunyai kepercayaan diri kronis?! Mungkin dari sini kita bisa merubahnya, dari hal kecil. Sebelum kita merubah mindset, kita bisa merubah kebiasaan kita untuk tidak berbasa-basi dengan fisik. Bukankah lebih baik jika kita berkata, "Apa kabar? Besok kita ke gym bareng yuk" daripada bilang "Kamu kok gendutan yaa". Lebih solutif dan ramah untuk didengar. Bagaimana perasaanmu jika kamu dikatakan tidak cantik? Mau mengutuk Tuhan yang meniptakan? Itu kejahatan kita. Kita telah menciptakan batasan-batasan yang diskriminatif!

Jadi maksud kamu fa, kita ga perlu pake make up? Gak perlu diet dan olah raga biar body oke? Bukan! Bukan seperti itu. Cintai diri kamu sendiri, tak perlu ikuti apapun persepsi dan kesadaran yang keliru. Persepsi bahwa cantik adalah yang seperti artis korea atau super model dunia. Atau cantik itu mengikuti tren yang ada, padahal tanpa sadar kapitalis menuggangi dibelakangnya. Silahkan bermake up tapi jadikan itu sebagai salah satu wujud dari menjaga dan menghargai karunia yang Allah berikan kepada kita. Bukankah makan secukupnya dan olah raga yang tertur juga baik untuk kesehatan tubuh kita?

Setiap wanita diseluruh dunia ini cantik dan memiliki kecantikannya sendiri-sendiri. Hanya saja, terkadang dialah yang tidak memahami dan menyadari kecantikannya. Atau mungkin tidak ada perempuan cantik didunia ini? Sebab cantik begitu relatif. Yang ku tahu, cantik itu berada jiwa, hati, pikiran dan tubuh itu sendiri.

Rabu, 03 Mei 2017

Apa kabar?

Aku berkisah kepada seorang teman yang bertanya tenang kabar, tentang dia, dan kamu yang dulu menjadi sebuah perbincangan.
Ah yaa, apa kabar kamu disana? Rasanya menyapamu seperti ini menyiratkan seolah tulisan ini sebuah roman picisan yang belum menemukan akhir dan membutuhkan sebuah jawaban.
kamu tahu, apa yang aku ceritakan jika temanku bertanya tentangmu?
Jawabku bukan kamu, sungguh tak akan habis bila itu tentangmu. 

Aku berkisah tentang jarak. Tentang kemana seharusnya kaki-kaki kita dilangkahkan, tentang bagaimana seharusnya kisah kita dituliskan.
Aku juga berkisah tentang tanya dan harus kita pula yang menjawabnya. Pertanyaan itu aku mulai dengan jawabanmu kala aku memanggilmu. "Apa?", itu jawabmu dan itu juga menjadi pertanyaanku.
Apa ini seharunya?
Apa ini saatnya?
Apa ini benar adanya?
Maafkan aku yang tak mau terkunggung dalam tanya.
Maafkan aku yang memilih pergi melihat dunia, membuka mati, hati dan rasa...
Akan ku temukan jawaban itu, bersama kaki yang terus melangkah, bersama bahagia dan lara.
Dan cerita ini, ku akhiri bukan dengan bagaimana, kapan, dan mengapa, tapi cukup dengan apa.
Apa kabarmu disana? Meski tanpa suara. Cukup.

Semesta bicara tanpa bersuara
Semesta kadang buta aksara
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugrah

Semeta bergulir tak kenal aral
Seperti langkah-langkah menuju kaki langit
Seperti genangan akankah bertahan 
Atau perlahhan menjadi lautan

Seperti hadirmu dikala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari

-Hujan di Mimpi. Banda Neira