Minggu, 28 Mei 2017

Ramadhan 2 : Sok Tahu!



Terkadang saya menarik diri dari riuhnya arus diluar sana. Berhenti sejenak, mengamati, lantas saya merangkainya kemudian berharap dari setiap rangkaian yang ada, bisa menjadi sebuah pemahaman yang baik untuk diri saya dan sekeliling saya. Sejujurnya, saya adalah tipikal yang mudah tertarik akan semua hal, bertanya apapun yang tidak saya tahu, takut tapi ingin mencoba. Saya menyadari betul, sikap mudah tertarik bisa menjadi dua hal yang memberikan manfaat dan madharat. Menepi sejenak dan tidak mengikuti arus bukan berarti saya tak memilih atau lari, karena saya menyadari akan lemahnya ilmu dan pengetahuan yang saya miliki, saya berusaha memahami setiap hal dengan baik. Maka, tak segan bila ada seseorang yang bertanya dan saya menjawab tidak tahu. 

Yang kamu lihat tak semua yang kamu tahu. Jadi, jangan sok tahu!
Ya, tak semua yang kita lihat dapat menjelaskan segalanya. Ada banyak hal di dunia ini yang tak bisa dijelaskan hanya lewan penglihatan kita. Oleh Sebab itu Tuhan tidak hanya menciptakan mata sebagai indra kita. Seringkali kita menilai buruk seseoang hanya dari apa yang kita lihat, memang salah satu cara kita untuk menilai yakni dari apa yang kita lihat, akan tetapi itu bukan penilaian mutlak, kita masih bisa melihat sisi lainnya. Dalam Islam sendiri Allah melarang kita untuk berprasangka buruk. 

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak berprasangka; Sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan keaiban orang, dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang mengumpat sebahagian yang lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.” (Surah Al-Hujurat, 49; Ayat 12)
Lalu bagaimana, kita melihat pasti akan menjadi sebuah kesan pertama bukan? Dan itu juga menjadi sebuah penilaian? Hal tersebut tak bisa kita pungkiri, karena kita memiliki kecondongan-kecondongan, dan hal terebut juga sebuah pilihan. Ketika kita mulai berfikir tentang hal buruk namun tanpa ada bukti, kita tetap dapat memilih untuk berprasangka baik. Jika pun kita menemukan bukti atas "hal buruk" yang kita prasangkakan tak sepatutnya juga kita mengolok-olok ataupun mencaci. Tugas kita hanya mengingatkan pada kebaikan. Apakah dengan mencaci hal terebut akan segera berubah? Dan apakah kita yang mengolok-olok lebih baik dari yang kita olok-olok?
Ada sebuah kisah yang diabadikan dalam sebuah hadits, yang seharusnya kisah ini menjadi sebuah pembelajaran dan koreksi diri. Kisah seoang wanita pezina yang diampuni dosanya karena memberi minum eekor anjing yang kehausan.

Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Muslim no. 2245).


Kita tidak pernah tahu dari amal apa yang bisa membawa kita pada keridhoan Allah. Bisa jadi, ibadah yang selama ini kita laksanakan tak lebih baik dari orang yang kita nilai buruk. Tugas kita hanya terus berusaha meraih keridhoanNya, mengajak pada yang ma'ru dan mencegah pada yang mungkar.
Yang kamu lihat tak semua yang kamu tahu. Maka, jadikanlah khusnudzon dan akhlakul karrimah sebagai pelindung dari hal yang membuat kita merasa tinggi. :)

Sumber : https://rumaysho.com/7395-kisah-wanita-pezina-yang-memberi-minum-pada-anjing.html



  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar