Minggu, 28 Mei 2017

Ramadhan 3 : Realistis atau Pesimis?



Di usia yang mulai memasuki seperempat abad ini, banyak hal yang saya fikikan. Entah bagaimana saya mulai bosan dengan hal-hal yang dulu begitu menarik bagi saya, tak seperti dulu yang begitu bersemangat untuk mewujudkan gagasan dan ide baru.

Setiap dari kita pasti mempunyai keinginan dan impian. Namun seiring berjalannya waktu, berbagai hal yang kita alami, keinginan itu seolah menjadi hal yang 'patut kita fikirkan ulang', tidak sepeerti dulu ketika kita kecil dengan lantang dan semangatnya meneriakkan "Aku ingin menjadi presiden!". Dan, sekarang entah kita menjadi realistis atau malah pesimis?

Gagasan-gagasan besar yang dulu ingin kita realisasikan kini seolah memudar, dengan tidak adanya uang, minimnya pengalaman, atau tuntutan masyarakat sekitar. Hingga kita mulai berikir, sudahlah lakukan saja seperti seharusnya, lakukan saja seperti kata mereka toh ini bukan hal yang keliru. Ya, kita mulai merealistikan keadaan. Atau kita malah pesimis karena ketidakmampuan dan tidak adanya kesempatan yang datang? Mungkin sebenarnya keinginan dan mimpi itu masih ada, tapi kita tak tahu harus dari mana memulainya, hingga kita merasa berfikir sangat terlambat bila memulainya sekarang, atau takut akan menjadi sebuah langkah yang salah karena begitu berbalik dengan keadaan kita yang sekarang.

Saya teringat ketika saya bertemu dengan teman saya yang baru pulang dari Jepang menghadiri acara kepemimpinan di Jepang. Dia bercerita kepada kami tentang pengalamannya dan motivasinya. Yang paling saya ingat adalah ketika dia berkata bahwa dia tidak suka mengikuti acara training motivasi atau membaca buku motivasi. Menurutnya, hal tersebut malah membuat kita takut melangkah, ketika kita ingin melangah kita malah disibukkan dengan step-step yang kita dapat dari motivator. Pertama kamu hurus buat planning, tetapkan tujuan, ke dua... ketiga.. dan seterusnya. Padahal, yang seharusnya kita lakukan, yaa sudah lakukan! Just do it! itu menurutnya.

Saya setuju dengan "Yang seharusnya kita lakukan, ya sudah lakukan!" Ini sekaligus menjadi sebuah jawaban atas pertanyaan "Apa yang harus saya lakukan? Apa yang harus saya mulai?" Karena Gagasan akan tetap menjadi sebuah gagasan bila kita tidak memulai. Namun saya tidak sepenuhnya setuju jika kita tak perlu terlalu banyak mendengarkan motivasi. Mengapa? sebenarnya kita selalu butuh diingatkan dan dimotivasi agar semangat itu terjaga, agar impian yang kita iginkan tak terlupa, entah bagaimanapun keadaannya. Tinggal bagaiamana kita mengaplikasikan setiap motivasi yang kita dapat. Lihat, bahkan meskipun teman saya tak suka mengikuti training motivasi, sebenarnya teman saya yang sedang berbicara pun dia sedang memotivasi kami untuk bisa berbuat sepertinya juga, memaca buku setiap hari, kurangi waktu tidur dan lain sebagainya. Semua hal yang teman saya katakan dan lakukan tidak ada yang salah. Keinginan-keinginan kita mulai memudar karena ita mulai berikir realistis sehingga merasa pesimis,  juga bukan hal yang salah. Yang salah adalah kita tak melakukan apapun hari ini! Ya, karena ketika kita diam tak ada perubahan, padahal yang kita lakukan sekarang berhubungan dengan masa yang akan datang.

Lakukan saja apa yang bisa kita lakukan saat ini, tak apa bila mimpi kita memudar tapi jangan hilang. Bila memudar dekati ia kembali, coba ingat apa alasan mengapa kita menginginkannya? Apa yang membuat kita begitu menginginkannya? Selangkah demi selangkah. Tak ada langkah yang tak sampai pada tujuannya yang ada, langkah itu kita hentikan sebelum tujuan atau terhentikan oleh kematian. Jika pun langkah itu tak sampai entah karena kita hentikan atau terhentikan, ketahuilah kita sudah membuat banyak langkah yang bisa diikuti oleh orag lain yang ingin berada di jalan mimpi yang sama. Ketahuilah bahwa ketika kita melangkah kita juga menemukan hal-hal lain yang tak kita dapat sebelumya. Melangkah jangan takut salah, kesalahan adalah kita tak melakukan apapun hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar