Selasa, 30 Mei 2017

Ramadhan 4 : Debat Kusir

Saya mengingat ketika awal saya masuk dunia perkuliahan, banyak sekali hal-hal baru yang datang, bukan hanya teman dan lingkungan baru, tapi juga keilmuan. Banyak juga hal-hal yang saya anggap tak sesuai dengan pandangan dan pemahaman saya. Ketika itu pula, gaung bahwa kamu mahasiwa maka kamu harus berikir kritis begitu digencarkan oleh kakak-kakak panitia Ospek ketika itu. 

Saya merasa banyak hal yang tak saya ketahui, dan bertentangan dengan yang saya ketahui saat itu. Maka tak heran ketika itu saya banyak bertanya, diskusi dan berdebat. Lagi-lagi kami diingatkan bahwa "Mahasiswa harus kritis" seolah setiap apapun yang disodorkan kepada kita harus ada hal yang harus kita kritisi, harus dan patut kita pertanyakan. Sehingga tiap kali ada teman kita yang berbicara selalu harus ada hal yang dipertanyakan, hingga saling adu argumen, mencari pendapat dan pemikiran lain yang lebih kuat untuk membenarkan argumen kita, membaca pemikiran tokoh lalu kita kritisi lagi. Sehingga, mulai muncullah rasa I'm Mr/s know it all, bahkan ketika itu ada yang berbisik "Ahh,nih orang nggak tau apa-apa nih. Masa begitu", "Pemikiran seperti itu kolot, seharusnya begini...." Dan suatu ketika sangking panasnya perdebatan seorang teman saya berkata. "Harusnya, kalau anda intelek anda pasti tahu..." Ah, Seru sekali ketika itu.

Disisi lain saya berfikir, kenapa seolah ketika kita mampu menggaungkan argumen kita dan diamini oang lain, kitalah yang benar? 
Sebenarnya kita berdebat untuk apa?
Apakah hanya untuk saling beradu argumen? Buat apa, toh ini bukan kompetisi debat?
Bukankah seharusnya ketika kita menemukan suatu gap atau masalah, kita seharusnya mencari solussi dan kebenaran, bukan malah di perdebatkan?

Hingga saya tanpa sengaja membaca kembali hadist tentang perdebatan,

"Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Aku memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam bentuk candaan. Aku memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.” (HR. Abu Daud, no. 4800. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Saat ini, lagi-lagi saya seperti diingatkan kembali dengan kejadian waktu itu, lagi-lagi karena sosial media yang begitu riuh dengan pedebatan, dari perdebatan di komen sampai balas caption status dan lain sebagainya. Bermula dari seorang yang mengungguh hal yang di anggap tak sesuai dengan nilai dan norma yang ada. Terjadilah komen dan kritik pedas, hingga saling menanggapi dan berbalas komentar antara kubu pro dan kontra, padahal yang dikomentari belum tentu menjawab dan membaca komentar-komentar mereka. Mungkin dari kita ketika berkomentar berniat mengingatkan bahwa itu hal yang salah, tak sesuai nilai-nilai agama. Jika memang berniat mengingatkan, jadi yang perlu  digaris bawahi adalah tugas kita hanya mengingatkan, dan menyampaikan kebenaran. cukup!

Seringkali ketika kita menyampaikan dan mengingatkan kita malah merasa paling benar, paling baik, harus segera ditaati. Berapa kali sih kita mengingatkan orang yang kita komentari tersebut? Padahal rosulullah butuh bertahun-tahun untuk mengajak manusia menyembah hanya kepada  Allah. Lalu bagaimana dengan kita yang hanya sekali mengingatkan tapi inginnya langsung di taati? Itu saja jika bahasa yang kita gunakan baik belum tentu diterima, bagaimana jika bahasa yang kita gunakan malah sebaliknya? Bahkan malah menyempatkan waktu untuk menanggapi komentar lain yang kontra dengan pendapat kita sampai ikut mencaci pula! Jika begitu apa bedanya?

Allah dan Rosulullah tlah mengingatkan kita dengan jaminan rumah di surga, jika kita menghindari perdebatan yang sia-sia, perdebatan yang tak bertujuan menasehati dan mencari kebenaran, hanya debat kusir yang tak ada ujungna! Apa lagi di dunia maya yang tidak jela wujud dan identitasya. Jika kita ingin mengingatkan pada kebenaran dan meperbaiki kesalahan, ingatlah apa niat kita semula. Sampaikan dengan bahasa terbaik yang kita punya. Bukankah rosul mengajarkan kita juga untuk berkata baik atau diam?
Semoga Allah senantiasa mengampuni kita semua.
Well, kata imam syafi'i ini patut dijadikan sebuah perenungan.

"Berkatalah sekehendakmu untuk menghina
kehormatanku, toh diamku dari orang hina
adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku
tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas
bagi Singa meladeni anjing" -Imam Syafi'i-




Tidak ada komentar:

Posting Komentar