Rabu, 03 Mei 2017

Apa kabar?

Aku berkisah kepada seorang teman yang bertanya tenang kabar, tentang dia, dan kamu yang dulu menjadi sebuah perbincangan.
Ah yaa, apa kabar kamu disana? Rasanya menyapamu seperti ini menyiratkan seolah tulisan ini sebuah roman picisan yang belum menemukan akhir dan membutuhkan sebuah jawaban.
kamu tahu, apa yang aku ceritakan jika temanku bertanya tentangmu?
Jawabku bukan kamu, sungguh tak akan habis bila itu tentangmu. 

Aku berkisah tentang jarak. Tentang kemana seharusnya kaki-kaki kita dilangkahkan, tentang bagaimana seharusnya kisah kita dituliskan.
Aku juga berkisah tentang tanya dan harus kita pula yang menjawabnya. Pertanyaan itu aku mulai dengan jawabanmu kala aku memanggilmu. "Apa?", itu jawabmu dan itu juga menjadi pertanyaanku.
Apa ini seharunya?
Apa ini saatnya?
Apa ini benar adanya?
Maafkan aku yang tak mau terkunggung dalam tanya.
Maafkan aku yang memilih pergi melihat dunia, membuka mati, hati dan rasa...
Akan ku temukan jawaban itu, bersama kaki yang terus melangkah, bersama bahagia dan lara.
Dan cerita ini, ku akhiri bukan dengan bagaimana, kapan, dan mengapa, tapi cukup dengan apa.
Apa kabarmu disana? Meski tanpa suara. Cukup.

Semesta bicara tanpa bersuara
Semesta kadang buta aksara
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugrah

Semeta bergulir tak kenal aral
Seperti langkah-langkah menuju kaki langit
Seperti genangan akankah bertahan 
Atau perlahhan menjadi lautan

Seperti hadirmu dikala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari

-Hujan di Mimpi. Banda Neira

Tidak ada komentar:

Posting Komentar