Minggu, 08 April 2018

Catatan Perjalanan Menuju Rumah FLP Jogja


 

Selama ini menulis bagiku adalah sebuah katarsis. Jadi, aku tidak peduli tulisanku dibaca atau tidak oleh orang lain,seperti blogku ini. Hingga aku mendaftar FLP Jogja, di sini aku seperti kembali diingatkan bahwa menulis bukan hanya tentang ‘aku’ saja, tapi harus ada kebermanfaatan disana dan untuk menjadi sebuah manfaat kamu harus berani untuk berbagi.

Salah satu alur oprec FLP Jogja yakni reading dan writing class yang harus diikuti oleh seluruh peserta yang lolos seleksi bekas dan wawancara. RnW ini diadakan selama 4x di hari minggu selama bulan maret. Hari pertama ketika mengikuti RnW aku seperti diingatkan kembali, bahwa menulis bukan hanya untuk menjadi populer, dapat uang dsb, semua itu adalah konsekuensi yang harus ditanggung karena kamu menulis, dan dalam menulis juga harus ada 'pesan kebaikan' yang harus disampaikan kepada pembaca. 

Selanjutnya, Kami juga dibagi menjadi kelompok-kelompok dan diberikan tugas individu dan tugas kelompok. Lagi-lagi aku belajar banyak hal, aku bertemu dengan orang-orang hebat dalam kelompokku. Rasanya kelompokku lengkap dan beragam sekali, karena dalam kelompokku ada peserta FLP termuda dan tertua, Anggi yang masih duduk dibangku SMA dan juga ada pak Sonny yang sudah mulai pensiun dan ingin fokus menulis. Meski begitu jangan ragukan semangat mereka. Ah, jujur aku minder dan iri atas semangat mereka. Dalam kelompokku ada putri yang jauh-jauh datang dari solo ke jogja untuk mengikuti FLP. MashaAllah! Dan ada teman-teman lain yang begitu luar biasa.

Setiap kelompok mempunyai satu pembimbing. Mas Alim mahasiswa UGM 2014 adalah pembimbing kami. Meski mas alim masih muda, namun ia mengarahkan kami tentang proses penulisan fiksi yang menjadi projek kami dengan sabar dan telaten. Lagi-lagi aku minder, padahal aku lebih tua darinya tapi rasanya tak lebih dewasa dan tak ada apa-apanya.

Pada RnW class ini aku bertemu dengan penulis-penulis hebat seperti pak Ganjar Widhiyoga, Ph.D, mbak Safrina, mbak istiana, mbak rias, mbak uti, hingga sesi terakhir ditutup dengan mbak Afiah Afra sebagai narasumber. Seperti menemukan oasis ditengah gurun gersang, aku semakin haus dan haus untuk menimba ilmu dan semakin menambah semangatku untuk menulis lagi.

Pada penutupan RnW class kami mempresentasikan hasil tugas kelompok kami, dan setelah selesainya RnW maka kami tinggal menunggu pengumuman peserta yang lolos menjadi anggota FLP angkatan 18. Entah bagaimana aku merasa bahwa jika aku tidak lolos seksi pun aku tidak akan kecewa - pikirku kala itu, karena aku dipertemukan dengan orang-orang hebat,dan mendapatkan banyak pembelajaran. Aku benar-benar menikmati seluruh proses ini.   


Alhamdulillah, Allah masih membei kesempatan lagi untuk belajar bersama FLP. Setelah lolos menjadi anggota kami harus mengikuti PDKT + Empatik #1. Sesi ini lebih keren lagi!! Aku semakin mengenal teman-teman angkatanku di FLP 18 dan kali ini kami semakin menguliti tentang kepenulisan, salah satunya  bagaimana menemukan ide dari hal-hal yang tak terduga dan dekat dengan kita, jadi tidak ada alasan lagi bagi kami untuk tidak menulis!

Pada sesi PDKT dan Empatik 1 Ini tugas kami adalah nulis, nulis, nulis, nulis, nuliisss terus, dari diminta menuliskan kata dalam bebarapa menit, perasaan kami diaduk-aduk dari harus menulis hal sedih lalu pindah ke hal lucu, bahkan kami harus menulis dalam keadaan apapun! Panitia mengganggu kami ketika kami menulis, ruangan disulap menjadi seperti pasar oleh panitia. Panitia ada yang membawa kemoceng, ada yang jual tahu bulat, sampai stand up comedy (Sudah dapat dipastikan aku tidak bisa menahan tawa! Kwkwkw) Walau bagaimana pun kami harus tetap menulis. Ah, seru sekali! Hingga akhirya ada sesi haflah untuk penutupan. Jangan dikira meski kami disuguhi berbagai materi dan diminta ‘menulis’ kami hanya serius saja. DDalam prosesnya banyak tawa canda kami, selain acaranya yang memang seru ternyata teman-temanku di FLP angkatan 18 kocak-kocak dan berfikir out of the box sehingga keluarga baruku di FLP semakin berwarna. 

Bismillah, ku langkahkan kaki untuk turut dalam barisan para pejuang besenjatakan pena yang akan terus berjuang tak peduli bila penduduk bumi tak tahu perjuangan kami, yang terpenting penduduk langit tau. Seperti kata Mbak Afifah Afra, “Menjadi penulis adalah ‘kutukan’ yang di takdirkan Allah SWT sehingga kita wajib mensyukurinya dan mengimplementsikannya sebagai salah satu tugas mulia manusia sebagai khalifah di Bumi, dan bukan kah Allah turunkan ayat tetang Iqra! dan ayat Nuun walqolami wamaayasturuun?”  


n.b. Foto menyusul ya... Harus istirahat nih, besok Otw perjalanan ke lombok. Bye! Wassalam . 

3 komentar:

  1. Balasan
    1. Hahaha.. iya makasih mbak... pas nulis udah ngantuk jadi galfok, belum di edit udah di post.. XD

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus