Minggu, 07 Mei 2017

Untung kamu cantik!


Pernah nemu Meme di media sosial dengan gambar seorang laki-laki berbadan tegap kulit putih, hidung mancung, memakai pakaian rombeng-rombeng dengan tulisan "Orang ganteng (cantik) mah bebas". Cerita ke-2 beberapa minggu yang lalu aku berada disalah satu tempat pelayanan publik dan aku nggak sengaja ngelakuin kesalahan. Yup! Aku panik. Alhamdulillah aku ditolongin sama beberapa bapak-bapak dan mas-mas disana. Ketika itu masnya nyeletuk, "Duh... mbak makanya hati-hati, untung aja kamu cantik!" Heran! Laah? Apa nyambungnya kesalahan yang aku buat dengan cantik?! Aku disini gak akan bahas tentang cantik atau tidak cantik, tapi tentang bagaimana sikap danpersepsi kita terhadap cantik/ganteng itu sendiri. Dari kalimat mas-mas tadi seolah masnya tadi mau bilang, karena kamu cantik jadi ada yang nolong, karena kamu cantik jadi nggak apa-apa kamu ngelakuin kesalahan ini, atau karena kamu cantik, yaa setidaknya kamu punya 'kelebihan lah' meski kamu ngelakuin kesalahan. Maybe kalian bakal bilang, "Lebay! Ah, kamu aja yang sensi fa..." Jadi gini, akui saja kita seringkali lebih mementingkan kulit daripada isi, bukan? Padahal hakikat berada pada isi, pada esensi bukan eksistensi.

Cantik. Menurut KBBI cantik1/can·tik/ a 1 elok; molek (tentang wajah, muka perempuan); 2 indah dalam bentuk dan buatannya: meja ini -- sekali;
-- molek 1 sangat rupawan (tentang orang perempuan); 2 cantik (bagus) sekali (antara bentuk, rupa, dan lainnya tampak serasi). Lihat, kita hanya mampu mendefinisikan cantik hanya dengan cirinya saja, eksistensinya saja bukan esensinya. Cantik itu yang memiliki tubuh yang semampai, langsing, kulit putih, bibir yang merah, hidung mancung dan lain sebagainya. Lalu jika seseorang yang tidak masuk dalam kriteria itu dan dianggap tidak cantik, Jika begitu salahkan Tuhan yang menciptakan dong?! Ah, bodoh dan naif sekali jika kita berfikir cantik hanya sebatas itu, padahal definisi dan teori itu tentatif!

Kita sering membuat sekat-sekat atas apa yang kita fikirkan sendiri. Padahal esensi dari cantik itu lebih agung daripada itu semua. Kadang pengertian memberikan batasan-batasan dan paksaan-paksaan yang mengaburkan, bahkan menghilangkan substansi-substansi yang paling penting. kitalah yang sering terjebak dengan nilai-nilai semu. Membeli cream kecantikan yang begitu mahal, diet ketat bagaikan momok tapi hharus dijalankan agar tubuh ideal bak artis hollywood dan bollywood, rela oprasi untuk hidung yang mancung mempesona. Bahkan masyarakat kita sendiripun lagi-lagi yang paling dinilai adalah fisik, kulit! lihat saja bagaimana jika kita betemu yang dijadikan basa-basi adalah fisik "eh, kok kamu gendutan yaa sekarang", "Eh kok kamu banyak jerawatnya.."Iya kalau orang diajak bicara memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan tidak peduli dengan semua omong kosong itu, bagaimana jika dia seorang yang sensitif dan tidak mempunyai kepercayaan diri kronis?! Mungkin dari sini kita bisa merubahnya, dari hal kecil. Sebelum kita merubah mindset, kita bisa merubah kebiasaan kita untuk tidak berbasa-basi dengan fisik. Bukankah lebih baik jika kita berkata, "Apa kabar? Besok kita ke gym bareng yuk" daripada bilang "Kamu kok gendutan yaa". Lebih solutif dan ramah untuk didengar. Bagaimana perasaanmu jika kamu dikatakan tidak cantik? Mau mengutuk Tuhan yang meniptakan? Itu kejahatan kita. Kita telah menciptakan batasan-batasan yang diskriminatif!

Jadi maksud kamu fa, kita ga perlu pake make up? Gak perlu diet dan olah raga biar body oke? Bukan! Bukan seperti itu. Cintai diri kamu sendiri, tak perlu ikuti apapun persepsi dan kesadaran yang keliru. Persepsi bahwa cantik adalah yang seperti artis korea atau super model dunia. Atau cantik itu mengikuti tren yang ada, padahal tanpa sadar kapitalis menuggangi dibelakangnya. Silahkan bermake up tapi jadikan itu sebagai salah satu wujud dari menjaga dan menghargai karunia yang Allah berikan kepada kita. Bukankah makan secukupnya dan olah raga yang tertur juga baik untuk kesehatan tubuh kita?

Setiap wanita diseluruh dunia ini cantik dan memiliki kecantikannya sendiri-sendiri. Hanya saja, terkadang dialah yang tidak memahami dan menyadari kecantikannya. Atau mungkin tidak ada perempuan cantik didunia ini? Sebab cantik begitu relatif. Yang ku tahu, cantik itu berada jiwa, hati, pikiran dan tubuh itu sendiri.

1 komentar:

  1. Eh Asfah, gimana kabar? Besok Minggu joging yuk.. Hehehe
    *Gitu ya fah.. :D

    BalasHapus