Minggu, 25 November 2018

Mulai Saja!

#SundayMorningLetter1

Hi. Aku akan mulai menuliskan surat-surat ini setiap minggu pagi untuk siapapun yang membaca tulisan ini, dan terkhusus untuk diriku sendiri.

Bagaimana dengan pekan ini? Semoga pekan ini menyenangkan untukmu. Bagaiku ini pekan yang panjang dengan tumpukan tugas dan pekerjaan, sehingga di hari minggu seperti ini, aku benar-benar ingin bemalas-malasan di kasur saja. Hmm.. Rasanya cepat sekali segalanya berlalu, kita sudah berada di akhir november dan akan segera meninggalkan 2018. Banyak hal yang belum aku lakukan di 2018 ini. Mungkin benar kata orang, tekadang yang membuatmu lebih menyesal bukan karena kau telah melakukan sesuatu tapi karena kamu tidak melakukan sesuatu!

Apakah kamu termasuk orang-orang yang membuat new year resolution? Jika iya, maka tidak ada salahnya kamu menilik apa-apa yang telah kamu tuliskan di resolusimu, lalu mulai memulai apa-apa yang belum kamu mulai. Apakah kamu merasa terlambat jika harus memulai karena ini sudah diakhir bulan? Menurutku tidak, tak ada suatu yang terlambat jika itu untuk suatu kebaikan, karena pada akhirnya kita akan menemukan tujuan atas yang telah kita mulai entah kapan dan tak akan sia-sia.

Jika mereka megatakan bahwa memulai lebih mudah daripada mempertahankannya, menurutku keduanya tak ada yang lebih mudah. Jika memulai kamu harus lebih berani, terutama berani pada dirimu, berani melawan ketakutan dan resiko yang harus kamu hadapi ketika kamu memulai sesuatu. Maka untukmu yang saat ini sedang belajar dan mengumpulkan keberanian untuk memulai. Ketahuilah aku yang akan menjadi pendukungmu! Mulai saja, entah apapun kata mereka, mulai saja entah kesalahan apapun yang kamu lakukan dimasa lalu, mulai saja dengan apapun resiko yang akan kamu temu di depan kelak.

Mulai saja, karena dengan memulai kamu akan menemukan sesuatu yang lain. Aku tak bisa menjanjikan bahwa itu akan baik-baik saja, namun ketahuilah bahwa ketika kamu telah memulai tanpa sadar akan banyak langkah yang telah kamu tempuh, hal-hal yang membuatmu semakin kuat, semakin dewasa.  

Semoga Allah selalu membekahi dan memudahkan langkah kita untuk terus melakukan kebaikan-kebaikan.

Senang bisa menulis surat ini untukmu. :)

-Ashfa-

Kamis, 22 November 2018

Masihkah Kita Bisa Berteman?

Beberapa waktu lalu, saya merepost twit salah seorang tokoh nasional yang beberapa kali muncul di televisi dan aktif mengkritik pemerintah saat ini, dan beberapa argument beliau saya setuju. Lalu, karena twit saya tersebut beberapa teman saya berkomentar: "Wah, kamu anti rezim ini ya fa?" Padahal yang saya repost ketika itu tidak ada sangkutpautnya dengan kritikan. Selanjutnya, saya juga pernah memberikan apresiasi kepada bapak presiden kita tentang salah satu program beliau yang saya nilai bagus, lantas teman saya berkomentar "Ooh, kamu pro rezim ini fa?". Oh God!

Entah bagaimana di tahun politik seperti ini seolah Indonesia terbagi hanya menjadi dua buah kubu. ketika kamu mengkritik kubu yang satu kamu berarti membenci dan anti kubu tersebut, dan begitu sebaliknya. Hal ini benar-benar menyebalkan! Sejujurnya situasi ini benar-benar membuat grup whatsapp saya dengan teman-teman akrab saya menjadi sepi. Lingkaran Pertemanan saya dan teman-teman saya ini sejujurnya di warnai dengan banyak sekali perbedaan pun perbedaan dalam pandangan berpolitik. Maka kami memilih untuk tidak mengupload hal-hal yang berbau politik di grup sehingga grup menjadi sepi. huft!

Tidak semua kritik harus kita dengarkan, namun mengartikan kritik sebagai sebuah kebencian saya rasa keliru, karena menurut saya dengan kritik sebenarnya orang lain tersebut peduli dan menginginkan sebuah perbaikan. Dan memberikan apresiasi terhadap sesuatu yang baik meski itu dari lawan kita juga seharusnya dilakukan, bukankah hal demikian merupakan sebuah sikap sportif?

Berbeda dalam pandagan politik sangat wajar karena setiap kita bias, sehingga kita memiliki kecenderungan untuk melihat dan menerima hal-hal tertentu yang kita anggap sesuai. Maka dari itu, mari kita keluar dari gelembung-gelembung pola pemikiran kita sendiri, menilik bagaimana gelembung pemikiran orang lain. Sehingga kita semakin berfikir terbuka dan dapat melihat realita bukan terjebak dalam fanatisme kita saja. Dalam pilpres kini bukan hanya sekedar tentang siapa yang akan menang tapi apakah setelah semua ini kita masih dapat bersatu dan berteman? 




Kamis, 15 November 2018

Tak Akan Tertukar.

"Jika sesuau sudah menjadi rezeki sesorang, maka tidak akan sedikit pun tertukar dan hilang. Tapi yang membedakan rezeki dari setiap orang tersebut adalah 'bagaimana orang itu menjemputnya'. Misalnya, si A dengen si B mendapatkan uang dengan jumlah yang sama, dan sama-sama dapat digunakan untuk membayar biaya sekolah dan tentu keduanya bisa lulus sekolah, yang membedakan jika rezeki B itu dijemput dengan suatau cara yang tidak baik, bisa jadi ilmu yang mereka peroleh tidak ada kemanfaatan dan keberkahan disana, meski  mereka terlihat sama-sama dapat lulus sekolah.”

Begitulah nasehat yang aku terima dari percakapanku melalui telepon dengan bapak. Seringkali kita kecewa dengan hal-hal yang tidak kita dapatkan, padahal konsepnya begitu sederhana. Jika tidak didapatkan berarti belum rejekinya. Allah Maha Adil dan tau kepada siapa seharusnya rejeki itu diturunkan, jika saja yang melihat dari sisi permukaan seolah aku lebih bekerja keras tapi malah orang lain yang mendapatkan. Padahal jika benar kamu sudah bekerja keras dan tidak mendapatkan dari apa yang kamu usahakan sekarang, bisa jadi rezeki yang kamu terima akan lebih besar dari apa yang kamu harapkan sekarang. Itu hukum alamnya, tidak akan tetukar. Dengan begitu, kita sudah tawakal atas segala hasil dan tidak kecewa jika hasil yang kita inginkan tak sesuai dengan yang kita harapkan.


Rabu, 14 November 2018

Mengikhlaskan Doa


“Manusiawi, asal doanya nggak maksa aja sama Allah” itu lah sepenggal balasan chat yang aku terima dari salah seorang temanku dari IPB. Berdoa. Dengan itu aku berpasrah, dan berkisah karena mengumbar lelah dan keluh kepada manusia kadang malah semakin membuatmu semakin merasa besalah.

Seharian ini banyak hal yang berkecamuk di fikiranku, mulai dari pekerjaan kantor, tugas kuliah yang kian bertambah setiap hari, dan urusan-urusan pribadi yang minta segera diselesaikan pula. Rasanya aku benar-benar lelah, liburan di hari minggu kemarin seolah tak memberikan efek refresh sama sekali. Di saat seperti inilah sujudku kian panjang, meminta agar dikuatkan dan segera diberi jalan keluar.

Seringkali, aku berdoa segera diberi jalan keluar atas segala masalah dengan patokan ukuran pemikiranku. Jika aku tak punya uang untuk membeli baju, maka berikan aku uang ya Allah, sepeti itulah seringkali untaian doa yang aku panjatkan. Ya, aku berdoa memaksa Allah untuk mengabulkan yang aku kehendaki seolah aku lah yang paling tahu jalan keluar untuk segeala masalahku, padahal kadang meski baik menurutku belum tentu baik menurutNya.

Teringat bagaimana begitu santunnya para nabi dalam berdoa, padahal mereka adalah manusia yanng senantiasa diberikan keberkahan, wahyu, dan setiap doa mereka ijabah entah apapun yang mereka pinta. Mereka menundukkan ego dan keinginan mereka dengan ketentuan dariNya. Maka dalam istikharah kita berdoa;
"Wahai allah, sesungguhnya aku memohon kepada engkau memilih yang baik untukku dengan ilmu engkau, aku memohon kepada engkau untuk menentukannya dengan kekuasaan engkau, dan aku memohon kepada engkau anugerah engkau yang agung, karena sesungguhnya engkau mampu memberi ketentuan sedangkan aku tidak, engkau dapat mengetahuinya, sedangkan aku tidak, dan engkaulah yang maha mengetahui hal-hal yang ghaib, wahai allah jika engkau tahu bahwa perkara ini....”

Lantas, bagaimana dengan kita yang kadang seing lalai, mengingatNya ketika membutuhkanNya, lupa bahwa apapun yang kita raih semata-mata tak lepas dari campur tanganNya.
Mari kembali melangitkan doa, dengan penuh ketundukan meminta keridhoan dan kebaikan dariNya, bukan doa dengan memaksakan kehendak kita. Bukan doa yang ketika kita menerima hasilnya kita menerima dengan penuh kerelaan dan lapang dada.

Dan Allah berjanji dengan firmanNya;

“Dan apabila bamba-bamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 186).

Senin, 12 November 2018

Bekal Kehidupan Kekal


Aku masih merasakan sisa-sisa kehilangan dari mereka yang telah Allah panggil dahulu, mereka yang pernah menjadi bagian dari cerita hidupku, mereka orang-orang yang aku sayangi. Dan pagi ini aku diingatkan kembali dengan sebuah berita duka dari seorang yang aku akrab dengannya bukan karena bercenngkrama, tapi aku mengenalnya melalui cerita tentang kebaikan, pejuangan, dan kedermawanannya di jalan dakwah. Jalan sunyi yang saat ini mungkin tak ramai diperbincangkan. Kalah dengan drama politik, bendera, dan komedi bediri yang akhir-akhir ini sedang mengakrabi negeri pertiwi.

            Ditengah keramaian rumah duka, aku terpaku. Kini ku saksikan sendiri bagaimana cerita kebaikan itu tercermin dari ratusan manusia yang mengantarkan kepergiannya, dari karangan bunga tak berhenti berdatangan turut mengucapkan duka. Dari cerita yang ku dengar, beliau sosok sederhana yang menjadi tulang punggung umat bila dalam dakwah terkendala dengan materi. Beliau menjadi pembina puluhan yayasan Pendiddikan Islam, termasuk menjadi pembina di Yayasan Sekolah yang saat ini menjadi tempatku belajar dan bekerja. Dari ketua yayasan kami, aku tahu bagaimana dalam sakitnya beliau tetap meluangkan waktu dan bersemangat memberikan arahan dan menguatkan kami untuk ikhlas di jalan dakwah, bagaimana ratusan juta beliau dermakan begitu saja untuk sekolah-sekolah yang kami rintis agar umat dapat merasakan pendidikan Islam yang baik, tanpa memikirkan tingginya harga untuk mengenyam pendidikan saat ini. Beliau yang begitu dikenal oleh penduduk bumi karena kebaikan-kebaikannya yang membumbung ke langit.

Dari beliau aku benar-benar malu pada diriku sendiri, yang masih mengeluh dengan amanah yang tak seberapa, padahal urusan itu masih untuk kebaikan diri sendiri. Aku malu pada diriku yang masih terus bertaya pada Allah tentang keinginan yang Allah tunda untuk diijabahi atau tentang rencana-rencana yang bejalan tak sesuai apa yang aku harapkan. Dan dari beliau kini aku diingatkan kembali, bahwa usaha dan keiinginanku masih sebatas ‘bumi’ belum ‘melangit’ hingga mampu menggerakkan fikir, hati, dan ragaku untuk terus menyadari bahwa apa-apa yang saat ini kita jalani haruslah menjadi bekal kita untuk menghadapNya nanti. Bukankah ia yang tahu tempat tujuan dari sebuah perjalanan ia akan mempersiapkan sebaik-baik perbekalan. Lantas, bekal apa yang telah kau pesiapkan untuk menghadapNya? Sedangkan sebaik-baik bekal adalah amal-amal kebaikan kita, sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa dari anak-anak yang sholih.

Allah, jadikan kami salah satu dari mereka yang berjuang dijalanMu, jadikan kami sebaik-baik manusia yang namanya dikenang penduduk bumi, dan dirindui penduduk langit.
Allah, pertemukan kami denganMu dalam keadaan muslim.




“Jangan jadikan amanah dakwah sebagai beban, jadikan ini sebagai peluang berbuat yang terbaik untuk umat...” –KH. Sunardi Syahuri





Senin, 16 Juli 2018

Menjadi "Baik"

Seringkali kita terkaburkan antara tujuan dan ego diri.
Tujuan kita menjadi baik, tapi ego mengatakan kita harus menjadi yang terbaik.
Sehingga ketika orang lain melakukan kebaikan yang ingin kamu lakukan juga, terbersit rasa iri, merasa kalah dan tak jarang kalimat "Ah, begitu doang semua orang juga bisa." Padahal ini bukanlah perkara siapa yang bisa dan tidak bisa, karena memang sudah seharusnya setiap orang bisa melakukan sebuah kebaikan.

Menjadi baik berarti kita senantiasa berusaha untuk menjadi baik dan lebih baik. Menjadi terbaik juga bukan hal yang keliru, karena ia unggul diantara yang lainnya. Namun keinginan untuk senantiasa menjadi yang terbaik terkadang membuat kita merasa "lebih baik dari", dan mungkin melakukan hal yang tidak baik untuk menjadi terbaik.
Kita lupa bahwa terbaik bermula dari "baik" yang konsisten dilakukanan, dan pada sebuah kebaikan bukan tantang baik atau terbaik, tapi bagaimana "berbuat" baik.

Lalu tentang tujuan baik, ketika sekelilingmu memiliki tujuan yang baik dan melakukan kebaikan tersebut seharusnya kita merasa senang memiliki tujuan kebaikan yang sama, karena tugasmu untuk melakukan tujuan kebaikan itu sudah diwakili oleh orang lain, selanjutnya tugasmu mendukung atau menyempurnakan tujuan kebaikan tersebut. Dan semakin berbahagia karena semakin banyak orang yang melakukan tujuan baik tersebut.

Tak semua bisa kamu lakukan dalam sekali waktu, tak semua menjadi terbaik. Jika ukuran terbaik hanya tersemat pada "ketua", ataupun "juara" tanpa ada orang-orang baik disekelilingnya itu juga akan tersemat ukuran terbaik. Seperti yang saya katakan diawal, bahwa kebaikan dibelakangnya ada kebaikan yang berkolaborasi dan terus diistiqomahkan.

Maka, dukunglah apapun bentuk kebaikan yang dilakukan oleh sekelilingmu, sehingga tak akan ada rasa iri atau rasa tersaingi. Fokus pada diri untuk terus berbuat baik, dan lebih baik lagi. Apresiasi akan datang dengan sendirinya sebagai bonus dan resiko atas kebaikan-kebaikan yang kamu lakukan. Ingat, tujuan kita menjadi baik, bukan terbaik. Menjadi baik tak selalu menjadi yang terbaik.

Minggu, 17 Juni 2018

Lebaran dan Pertanyaan Kapan


Bagaimana lebarannya? Sudahkah ditanya “kapan nikah?” “kapan lulus?” “kerja dimana?” dan serentetan pertanyaan serupa lainnya? Diusia saya yang memasuki fase quarter life crisis saya juga ditanya tentang pertanyaan serupa. Adakah yang senasib dengan saya juga? Hehehe

Saya juga menemukan beberapa pembahasan tentang pertanyaan “kapan” atau sering disebut pertanyaan basa-basi di linimasa, kebanyakan membahas tentang tidak perlunya kita mempertanyakannya hal-hal demikian untuk menjaga perasaan seseorang yang sedang berkomunikasi dengan kita. Dengan gencarnya pembahasan tesebut di lini masa, menurut saya kadang kita menjadi berlebihan dalam menyikapi pertanyaan ‘basa-basi’ ini.

Jadi begini, kedua orang tua saya dulunya adalah tetangga dan sudah sejak lama tinggal di desa yang kami tempati saat ini, jadi bisa dibilang jodoh lima langkah dari rumah. Begitu pula dengan saudara bapak-ibu saya yang lain banyak yang menikah dengan tetangga, atau tetangga desa, yang jarak tempuhnya tidak jauh.
Untuk kasus saya, petanyaan “Udah lulus belum?” “Kerja dimana sekarang?” sampai “Jadinya, calonmu yang mana fa?” (Padahal nggak pernah ngenalin atau bawa ‘calon’).

Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan itu saya anggap sebagai hal yang lumrah dan wajar. Mengapa? Karena saya menyadari bahwa saya hidup dilingkungan desa yang mungkin keluarga saya  mereka tidak banyak refrensi tentang bagaimana etika pegaulan, etika berkomunikasi yang disepakati. Jadi, saya anggap yang mereka ucapkan dan tanyakan adalah murni rasa perhatian mereka untuk menyambung silaturrahmi antara bulik-paklik, budhe-pakdhe kepada keponakan mereka. Itu di keluaga ndeso ala keluaga saya.. Mungkin beda lagi kalau di kota. Ya, tentu saja setiap orang memiliki tipe keluarga yang berbeda-beda pula.

Namun yang perlu digaris bawahi, kita sering lupa bahwa tekadang kita tidak bisa mengcontrol pertanyaan orang lain terhadap kita, pun kita tidak dapat mengeneralisir sikap dan pandangan hidup seseorang. Jika hanya karena pertanyaan basi-basi itu malah menjadikan mood kita buruk, atau malah menjadikan persaudaraan kita renggang, menjadi malas untuk bertemu, merasa bahwa kita paling baik dalam besikap, maka kitalah yang harus menilik kembali diri kita dan mencurigainya.

Bukankah kunci dari sebuah komunikasi yang baik adalah sikap saling memahami? Jika kita memang tahu hal tersebut sensitif untuk ditanyakan, maka tak perlu ditanyakan. Begitu pula kita sebagai seorang yang ditanya, kita juga harus memiliki hati yang luas dan sikap khusnudzon ketika menerima pertanyaan. Bahkan sebaik apapun kata yang kita terima jika hati dan fikiran kita sempit maka segala hal akan terasa sebagai hal yang buruk.

Bisa jadi, sebenarnya yang membuat pertanyaan-pertanyaan itu adalah hal yang basa-basi dan tidak menyenangkan karena diri dan otak kita sudah ter setting demikian. Jadi bawaannya menyebalkan melulu. Orang lain dapat memberikan input buruk apapun kepada diri kita, namun kita lah yang  menentukan apakah akan menjadi output yang sama buruknya atau malah sebaliknya. Begitu pula, kita tetap bisa memilih untuk tetap berbahagia meski suasana mendung menyelimuti kita.

Sayang sekali jika moment lebaran yang seharusnya berbahagia, moment untuk bisa bersilaturrahmi dan berkumpul dengan keluarga jadi tidak menyenangkan hanya karena pertanyaan “kapan”. Eh, bisa jadi lho dari pertanyaan ‘kapan’ malah mempertemukan dengan jodohnya atau  didekatkan jawaban atau solusi atas pertanyaannya. Siapa tahu kan? :)

Selamat Idul Fitri semua, Mohon maaf lahir batin, bagi yang tak dapat saya temui dikehidupan nyata. Semoga kedepannya kita menjadi hamba yang semakin bertaqwa, dan pribadi yang lebih baik dan bijaksana! :)


Sabtu, 12 Mei 2018

Ma, Izinkan Aku Memanggilnya Bunda



            Tin....Tiinn... terdengar suara klakson mobil memasuki plataran rumah, disusul suara langkah kaki yang tegesa-gesa menyambut siapa yang tiba.
”Ah, papa sudah pulang” Batin ku. Buru-buru ku ambil barang-barangku yang akan bawa untuk latihan. Krreeeek.. pintu kamarku terbuka, sebuah kepala disertai senyum khas Alisa adikku muncul dibalik pintu.
“Kak Sandra, ayo keluar... Papa udah pulang...” Kata bocah kelas 9 SMP itu.
“Ya, nanti.” Jawabku singkat.
“Kak Sandra mau berangkat latihan Tae Kwon Do? Nggak libur dulu kak? Bukannya kemarin lusa kakak baru selesai kejuaraan dan di izinkan istirahat?” Tanyanya lagi melihat aku memasukkan Dobog Tae Kwon Do ku ke dalam ranselku.
“Kapan kak sandra punya waktu untuk keluarga? Sekalinya papa dirumah kak sandra selalu sok sibuk sendiri.” Sambungnya. Aku tak menjawab, akhirnya Alisa keluar kamarku tanpa berkata apa-apa lagi. “Ah, anak kecil tau apa kamu.” Batinku.

            Bagi anak-anak SMA seusiaku mungkin sabtu minggu adalah hari yang menyenanggkan dan ditunggu, tapi tidak bagiku aku benci weekend! Hari dimana aku mencari segudang alasan untuk tak dirumah dari kegiatan luar sekolah hingga kerja part time. Hari dimana papa pulang ke rumah dan aku tak ingin beremu dengannya. Mungkin aku bukan anak yang berbakti, tapi aku tak sanggup menatap mama yang sangat aku cintai pura-pura tersenyum padahal aku tahu dia tersakiti.

Bagaimana tak tersakiti sedangkan mama tahu bahwa suami yang ia kasihi memiliki wanita lain selain dirinya, dan dari 7 hari hanya disisakan dua hari untuk kami, sabtu dan minggu. Inilah alasan aku tak menyukai sabtu minggu, dan tak menyukai papaku. Bagaimana aku bisa tahu kasus peselingkuhan papaku? Waktu itu aku mendengar papa berbincang ditelephone dengan seseorang yang papa panggil sayang. Entah bagaimana setelah itu seolah segala sesuatu membeitahuku dari asisten rumah tangga, ibu-ibu komplek, hingga tukang sayur yang keliling komplek rumahku. 

Mamaku, wanita yang sangat aku cintai. Aku pernah begitu marah, menganggap mama begitu lemah. Hingga pernah dari mulutku terlontar “Ma, kenapa mama nggak minta cerai aja sama papa?” Tanyaku menggebu, jawaban mama hanya isak tangis dan aku marah, lalu pergi meninggalkan mama sendiri. Sejak itu aku tak mau mengusik mama tentang ini, aku tak mau menyakitinya lagi. Aku memilih untuk menghindar dan tak mau tahu. Lalu aku memahami, mungkin alasan mama tak memilih bercerai adalah masa depanku dan adikku. Setidaknya itulah yang aku tangkap dari petuahnya untukku agar menjadi wanita sukses dan mandiri. Mama yang hidupnya sebagai ibu rumah tangga biasa yang mengurusi seluruh keperluan kami, seorang wanita jawa yang telah yatim piatu sejak muda, dan baginya papalah tumpuan hidup kami.
****
Senin pagi kali ini ada yang berbeda, dimeja makan papa masih menggenakan pakaian kasual tak mengenakan setelan kemejanya untuk bekerja. Sepenasaran apapun, aku diam saja karena komunikasiku selama ini dengan papa hanya menjawab pertanyaan papa dan berbicara seperlunya. Hari ini papa mengantarku ke sekolah bukan pak poniran yang mengantarku seperti biasa. Selama perjalanan papa berbicara banyak hal, tentu saja aku hanya diam menjawab seperlunya. Aku tak pernah sedekat ini dengan papa, hanya berdua. Hingga sampai disekolahku papa bahkan ikut turun dari mobil, untuk sekedar sopan santun, aku besalaman dengan papa.
“Sandra, setiap orang tua pasti ingin dekat dengan anak-anaknya, begitu pula papa.” Kata papa sebelum aku pergi.
“Kalau papa sayang sama kami, papa nggak akan meninggalkan kami untuk orang lain, dan hanya menyisakan dua hari untuk kami.” Jawabku ketus, meluncur begitu saja dari mulutku.

            Dalam kelas aku masih memikirkan kata-kata ku pada papa tadi, ada perasaan lega yang becampur aduk. Lamunanku pecah, tiba-tiba ada yang menepuk punggungku.
“Hei san, lu dianterin siapa tadi, itu bukan supir lo kan?” Kata Jessi, anak gaul dan super heboh dikelasku.
“Bokap Gue.” Jawabku singkat, datar. Aku memang bukan anak yang pandai bergaul, dibully semasa SD membuatku berfikir dua kali untuk berteman dekat dan bercerita dengan siapapun. Jika kamu ceritakan sedih dan aibmu maka semesta akan membicarakanmu, itu yang aku tahu.
“OMG! Serius? Bokap lu punya dua istri dong? Itu bokap temen gue juga!! Astagaa....” Kata Jessi Heboh.

            Meski langit sudah menguning kota ini tetap riuh, suara klakson di iringi sumpah serapah mewarnai kemacetan jalanan kota ini, gurat-gurat lelah, suara keluh pekerja yang ingin segera pulang ke rumah memenuhi bus yang ku tumpangi semakin memperburuk suasana hatiku saat ini. Percakapanku tadi pagi dengan jessi masih aku ingat. Di benakku penuh dengan kekhawatiran, bagaimana nanti jika jessi membicarakan kepada teman-teman yang lain? Bagaimana reaksi teman-teman yang lain jika tahu? Apakah akan terulang lagi bisikan iba dibelakangku atau olok-olokan tentang keluargaku? Lalu, bayang-bayang keluarga yang hancur karena Pelakor (perebut lelaki orang) yang tersebar di sosial media turut berputar dikepalaku.  Tuhan... Aku hanya ingin hidupku tenang.
           
“Sandra, segera makan dan ganti baju setelah itu ikut mama pergi.” Kata mama, sesampainya aku di rumah.
“Ma, kenapa mama nggak cerai aja sih sama papa? Mama tahu kan papa punya istri muda atau mama pura-pura nggak tahu? Apa perlu Sandra cari dan bawa wanita yang sudah merusak keluarga kita ke rumah ini biar mama nggak pura-pura lagi?” Kataku dengan nada tinggi.
“Sandra cukup!! Mama nggak mau dengar apapun, setelah ini ikut mama pergi.” Kata mama dengan mata berkaca-kaca, dan pergi meninggalkanku.

Seketika itu aku benar-benar menyesal tak mengontrol perkataanku karena suasana hatiku yang kacau sejak disekolah tadi. Aku benar-benar lemah jika melihat mama menangis, aku tahu bagaimana mama berjuang untuk kami anak-anaknya. Aku hanya bisa tertunduk lemas di kamarku. Pintu kamarku di ketuk, Alisa muncul dari balik pintu, dia duduk di sampingku dan menatapku.
“Kak, selalu ada alasan disetiap kejadian. Entah apapun alasan mama papa, tugas kita sebagai anak hanya berbakti dan berbuat baik kepada mereka. Dari pada kakak hanya berasumsi dan terus menghindar menuruti kemarahan kakak, kenapa tidak kakak tanyakan langsung ke mama papa?” Kata Alisa, seolah ia telah tahu segalanya, dan entah mengapa aku merasa saat ini ia malah lebih dewasa dari ku.
****
             Mobil kami memecah gelap jalanan kota, dalam mobilpun hanya terdengar suara radio yang memutar lagu-lagu pop terkini. Tak ada percakapan apapun antara aku, mama dan Alisa, kami tenggelam dengan pikiran kami masing-masing. Mama membawa kami ke sebuah rumah sakit dipinggiran kota. Aku bertanya-tanya, siapa yang sakit? Mengapa mama membawa kami ke rumah sakit ini? Namun aku hanya bercakap pada diriku sendiri, aku hanya diam tak mengutarakan.

            Ketika kami masuk di salah satu bangsal rumah sakit, betapa terkejutnya aku. Papa tlah duduk disamping ranjang dan seorang wanita terbaring lemah disana, wanita itu terlihat usianya lebih tua dari mama itu tergurat jelas diwajah dannya, di samping papa ada seorang gadis yang mungkin seusiaku. Kami seolah disambut, ada apa ini? Mereka semua tersenyum pada kami.  

“Ini sarah dan alisa ya? Terimakasih telah menjenguk bunda...” Kata wanita itu ramah. Alisa sudah menyalami tangan wanita itu. Aku diam terpaku, mencoba mencerna keadaan yang terjadi saat ini.
 “Sandra, ini tante Rita istri pertama papa, dan itu Sarah.” Kata mama, sambil memegang pundakku. Aku masih tak bisa berkata-kata.
“Jangan panggil tante ah, panggil bunda.. Sandra, maaf ya papa jadi jarang ke rumah sandra karena bunda sering sakit jadi harus merawat bunda. Sini nak....kemari....” Jawab wanita itu masih dengan senyum mengembang di wajahnya. Ku tatap wajah mama, ada rasa penyesalan dan air mata yang tertahan di sudut matanya.

            Ya Allah, Ampuni kami.. Seolah ada belati berkarat yang sengaja ditancapkan tepat diulu hati, sakit dan kecewa pada orang yang ku cintai. Pandanganku mulai kabur oleh air mata, suaraku tercekat tak mampu berkata-kata.
“Maafkan mama nak...” kata mama lirih, menahan isak tangisnya.
Aku masih terpaku, berdialog dengan diri sendiri. Jadi yang selama ini aku sebut perebut lelaki orang adalah mamaku sendiri! Mama lah yang telah merebut papa dari keluarga ini, lalu bagaimana bisa mereka tetap bahagia dan menerima kami? Aku yang selama ini seolah melindungi mama, ternyata aku lah yang menyakiti mama tanpa mempersilahkan mama menjelaskan, dan marah pada papa tanpa alasan.

Terngiang perkataan Alisa dirumah tadi, Bahwa segala sesuatu pasti memiliki penjelasan, dan kita tak bisa memberikan penilaian utuh hanya pada apa yang kita lihat saja. Orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, dan tugas kita sebagai anak hanya berbakti kepada orang tua jika itu tak melanggar aturanNya.

Aku mencoba berdamai pada diri, aku siap menerima alasan apapun yang akan dikatakan mama dan papa nanti, aku tak mau terjebak ego dan asumsiku sendiri. Aku menguatkan diri, jika memang keluarga ku begini dan kami dapat berbahagia dengan keadaan ini aku akan belajar untuk menerima dan turut berbahagia seperti mereka. Bisakah? Aku akan mencoba.
“Bun.. Bunda....” Kata ku akhirnya. Ku langkahkan kakiku pada wanita yang tersenyum lebar dan terbaring lemah di samping papa.

Minggu, 29 April 2018

April : Tentang Kamu - Tere Liye

Judul               : Tetang Kamu
Penulis             : Tere Liye
Tebal               : 534 hlm
Ukuraran         : 13,5 x 20,5 cm
Penerbit           : Republika
Tahun              : Cetakan VII, Februari 2017

“Terimakasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.”

Kalimat diatas merupakan penggalan dari sinopsis di cover belakang buku tentang kamu karya Tere Liye. Sekilas, dari sinopsis tersebut buku tentang kamu akan membahas kisah percintaan dan lika-likunya, namun tenyata kita tidak akan hanya membaca persoalan cinta tetapi juga tentang pemaknaan hidup, juga petualangan.
Buku ini dimulai dengan kisah seorang Zaman Zulkarnaen, pemuda Indonesia yang bekerja di Thompson & Co., sebuah firma hukum di London yang selalu disebut dengan penuh penghormatan. Pengacara yang bekerja disana adalah para kesatria yang menegakkan keadilan dan kebenaran hukum, meski nyawa harus menjadi taruhannya. Dari firma hukum multinasional inilah Zaman mendapatkan tugas untuk menangani kasus Sri Ningsih, seorang asal Indonesia dengan kekayaan satu miliar poundsterling namun memilih hidup di panti jompo pinggiran kota Paris di masa tuanya. Tugas Zaman adalah menyelesaikan persoalan pembagian harta warisan Sri Ningsih dengan seadil-adilnya sesuai hukum yang berlaku. Berbekal dari buku harian Sri Ningsih yang di berikan oleh Aimee seorang perawat yang mengurus Sri Ningsih ketika di panti jompo, Zaman memulai petualangannya menelusuri kisah hidup Sri Ningsih.
Pulau Bungin, Sumbawa salah satu kampung nelayan dan salah satu pulau terpadat di dunia, disinilah Sri Ningsih dilahirkan. Zaman bekeliling pulau untuk memenemukan sseseorang yang mengenal Sri Ningsih dan betemulah ia dengan seorang kakek tua yang bernama Ode, saksi sejarah Sri Ningsih ketika berada di pulau Bungin. Sri ningsih yang telah yatim ditinggal Ibunya yang bernama Rahayu sejak dalam kandungan. Dipulau ini jugalah saksi kesabaran Sri Ningsih bagaimana menghadapi Ibu tirinya yang berbuat kejam kepadanya karena menganggap Sri Ningsih penyebab kematian Suaminya. Hingga pada akhinya Sri Ningsih harus meninggalkan pulau Bungin bersama adek nya Tilamuta yang masih berusia 5tahun karena kebaran rumah dan ibu tirinya meninggal.
Zaman menyusuri kehidupan Sri Ningsih di Surakarta, Madrasah yang menjadi tempat belajar Sri Ningsih dan adiknya untuk belajar setelah meninggalkan pulau Bungin. Di Madrasah Kiai Ma’sum inilah Sri menemukan sebuah persahabatan dan penghianatan. Nur’aini dan Sulastri adalah sahabat baik Sri Ningsih ketika berada di Madrasah. Namun, persahabatan itu berakhir karena sebuah dengki yang menjangkiti Sulastri dan suaminya terhadap Nur’aini dan keluarga kiai Ma’sum.
Lastri dan suaminya keluar dari madrasah dan menjadi anggota Partai Komunis Indonesia yang saat itu tengah memberontak. Terjadilah pertumpahan darah akibat pembantaian yang dilakukan oleh Lastri dan kelompoknya terhadap keluarga Madrasah. Seluruh santri dihabisi, kiai ma’sum, istri, anak dan cucunya di bakar di sebuah pabrik gula. Hanya Nur’aini dan suaminyalah yang selamat atas kejadian tersebut, begitu pula Sri Ningsih yang diculik Lastri sebelum pembantaian untuk menyelamatkan Sri ningsih. Ketika di pengadilan juga lah Sri Ningsih menjadi saksi dan menyatakan kebenaran atas kekejaman Lastri dan kelompoknya. Akhirnya, Lastri diadili dan diasingkan. Lalu bagaimana dengan adik Sri? Tilamuta ditemukan disawah tempat ia sering bekerja, dengan kondisi tak dikenali lagi, daging tercabik-cabik bahkan ada potongan tubuh yang tak utuh karena dimakan anjing. Untuk melupakan kesedihannya Sri meninggalkan Solo menuju Jakarta.
Bagimana zaman meneslesaikan kasus ini sedang Sri Ningsih tak mempunyai keluarga satu pun dan memilih tinggal di panti di sebuah pinggiran kota Paris? Selanjutnya, untuk memecahkan kasus ini Zaman harus menyusuri kisah Sri ningsih dari Jakarta, London, dan Paris, kota-kota yang menjadi saksi bagaimana kegigihan Sri Ningsih dalam bekerja untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, kisah cinta Sri Ningsih dan Hakan Karim seorang berkebangsaan Turki, dan alasan-alasan Sri Ningsih meninggalkan negara yang ia cintai.
Novel-novel Tere Liye selalu membuat saya kagum dengan plot yang dituliskan. Meski plotnya “kacau” dalam artian menggunakan plot maju mundur semakin membuat pembaca ketagihan untuk terus bersabar membacanya dan tak ingin terlewatkan satu hal pun. Meskipun dalam penokohannya terlihat begitu sempurna bagi sesosok manusia, Sri Ningsih yang tak pernah memiliki sakit hati, tak pernah marah, selalu berfikir positif, dan memaafkan apapun yang terjadi dalam hidupnya.
  Selain berkisah tentang Sri Ningsih di masa lalu juga menceritakan bagaiamana kisah Zaman saat ini, Bang Tere Liye berhasil meramu dua kisah Sri dan Zaman menjadi seperti ada keterikatan ‘takdir’ yang menyatukan kisah mereka. Saya adalah penggemar Tere Liye sejak lama, namun dalam novel ini saya tetap menemukan kejutan-kejutan dan tercengang atas alur yang disajikan dalam setiap babnya. Seperti dalam novel Tere Liye yang lain, Novel ini mengajarkan tentang pemahaman yang lebih baik, pemaknaan hidup, dan nasehat-nasehat lama dengan narasi tanpa menggurui.



Gambar : Google.

Kamis, 19 April 2018

Titik



Seindah apapun kata yang kau rangkai menjadi bulir kalimat, butuh titik untuk memgakhirinya.

Pernah kita terjebak pada rangkaian cerita yang sama.
Meletakkan koma merangkai kata demi kata, meski lebih banyak tanya.

Aku tlah tenggelam pada pusaran frasa, dan semakin takut kehilangan bukan hanya pada 'kita' tapi pada seluruh rangkaian tanda baca yang membersamainya.

Hingga pada kalimat ini, izinkan aku bertanya padamu..
Apakah Ini hanya resah yang turut larut pada puisiku yang hambar karena tak tersentuh selainmu?

Apakah ini hanya imajinasi semu yang kau, aku, mereka pun memilikinya tuk mencipta bahagia?

Tahukah kau bahwa spasi yang menjadi jarak juga menjadi temu untuk sebuah makna baru?

Tahukah kau bahwa pada setiap tetesan hujan dan remang lampu jalanan kota ini tlah terhiasi pengharapan mereka yang tergerus sepi dalam keriuhan?

Tak bisa ku abaikan tanyaku, seperti aku  tak bisa abaikan setiap rindu yang tak bisa menunggu dan masih ku cari pada sudut matamu.

Aku butuh jawabmu bukan untuk melengkapi puisiku tapi tuk menjadi titik pada tanyaku.
Maka, ku tanya sesuatu yang entah kapan kan terulang mungkin sesekali membuatmu kepayang.

Bolehkah Aku letakkan titikku padamu, sebelum segalanya terlanjur menjadi tanda tanya kembali?



Yogyakarta,
19 April 2018

Minggu, 08 April 2018

Catatan Perjalanan Menuju Rumah FLP Jogja


 

Selama ini menulis bagiku adalah sebuah katarsis. Jadi, aku tidak peduli tulisanku dibaca atau tidak oleh orang lain,seperti blogku ini. Hingga aku mendaftar FLP Jogja, di sini aku seperti kembali diingatkan bahwa menulis bukan hanya tentang ‘aku’ saja, tapi harus ada kebermanfaatan disana dan untuk menjadi sebuah manfaat kamu harus berani untuk berbagi.

Salah satu alur oprec FLP Jogja yakni reading dan writing class yang harus diikuti oleh seluruh peserta yang lolos seleksi bekas dan wawancara. RnW ini diadakan selama 4x di hari minggu selama bulan maret. Hari pertama ketika mengikuti RnW aku seperti diingatkan kembali, bahwa menulis bukan hanya untuk menjadi populer, dapat uang dsb, semua itu adalah konsekuensi yang harus ditanggung karena kamu menulis, dan dalam menulis juga harus ada 'pesan kebaikan' yang harus disampaikan kepada pembaca. 

Selanjutnya, Kami juga dibagi menjadi kelompok-kelompok dan diberikan tugas individu dan tugas kelompok. Lagi-lagi aku belajar banyak hal, aku bertemu dengan orang-orang hebat dalam kelompokku. Rasanya kelompokku lengkap dan beragam sekali, karena dalam kelompokku ada peserta FLP termuda dan tertua, Anggi yang masih duduk dibangku SMA dan juga ada pak Sonny yang sudah mulai pensiun dan ingin fokus menulis. Meski begitu jangan ragukan semangat mereka. Ah, jujur aku minder dan iri atas semangat mereka. Dalam kelompokku ada putri yang jauh-jauh datang dari solo ke jogja untuk mengikuti FLP. MashaAllah! Dan ada teman-teman lain yang begitu luar biasa.

Setiap kelompok mempunyai satu pembimbing. Mas Alim mahasiswa UGM 2014 adalah pembimbing kami. Meski mas alim masih muda, namun ia mengarahkan kami tentang proses penulisan fiksi yang menjadi projek kami dengan sabar dan telaten. Lagi-lagi aku minder, padahal aku lebih tua darinya tapi rasanya tak lebih dewasa dan tak ada apa-apanya.

Pada RnW class ini aku bertemu dengan penulis-penulis hebat seperti pak Ganjar Widhiyoga, Ph.D, mbak Safrina, mbak istiana, mbak rias, mbak uti, hingga sesi terakhir ditutup dengan mbak Afiah Afra sebagai narasumber. Seperti menemukan oasis ditengah gurun gersang, aku semakin haus dan haus untuk menimba ilmu dan semakin menambah semangatku untuk menulis lagi.

Pada penutupan RnW class kami mempresentasikan hasil tugas kelompok kami, dan setelah selesainya RnW maka kami tinggal menunggu pengumuman peserta yang lolos menjadi anggota FLP angkatan 18. Entah bagaimana aku merasa bahwa jika aku tidak lolos seksi pun aku tidak akan kecewa - pikirku kala itu, karena aku dipertemukan dengan orang-orang hebat,dan mendapatkan banyak pembelajaran. Aku benar-benar menikmati seluruh proses ini.   


Alhamdulillah, Allah masih membei kesempatan lagi untuk belajar bersama FLP. Setelah lolos menjadi anggota kami harus mengikuti PDKT + Empatik #1. Sesi ini lebih keren lagi!! Aku semakin mengenal teman-teman angkatanku di FLP 18 dan kali ini kami semakin menguliti tentang kepenulisan, salah satunya  bagaimana menemukan ide dari hal-hal yang tak terduga dan dekat dengan kita, jadi tidak ada alasan lagi bagi kami untuk tidak menulis!

Pada sesi PDKT dan Empatik 1 Ini tugas kami adalah nulis, nulis, nulis, nulis, nuliisss terus, dari diminta menuliskan kata dalam bebarapa menit, perasaan kami diaduk-aduk dari harus menulis hal sedih lalu pindah ke hal lucu, bahkan kami harus menulis dalam keadaan apapun! Panitia mengganggu kami ketika kami menulis, ruangan disulap menjadi seperti pasar oleh panitia. Panitia ada yang membawa kemoceng, ada yang jual tahu bulat, sampai stand up comedy (Sudah dapat dipastikan aku tidak bisa menahan tawa! Kwkwkw) Walau bagaimana pun kami harus tetap menulis. Ah, seru sekali! Hingga akhirya ada sesi haflah untuk penutupan. Jangan dikira meski kami disuguhi berbagai materi dan diminta ‘menulis’ kami hanya serius saja. DDalam prosesnya banyak tawa canda kami, selain acaranya yang memang seru ternyata teman-temanku di FLP angkatan 18 kocak-kocak dan berfikir out of the box sehingga keluarga baruku di FLP semakin berwarna. 

Bismillah, ku langkahkan kaki untuk turut dalam barisan para pejuang besenjatakan pena yang akan terus berjuang tak peduli bila penduduk bumi tak tahu perjuangan kami, yang terpenting penduduk langit tau. Seperti kata Mbak Afifah Afra, “Menjadi penulis adalah ‘kutukan’ yang di takdirkan Allah SWT sehingga kita wajib mensyukurinya dan mengimplementsikannya sebagai salah satu tugas mulia manusia sebagai khalifah di Bumi, dan bukan kah Allah turunkan ayat tetang Iqra! dan ayat Nuun walqolami wamaayasturuun?”  


n.b. Foto menyusul ya... Harus istirahat nih, besok Otw perjalanan ke lombok. Bye! Wassalam . 

Kamis, 05 April 2018

Untuk Bapak


Aku ingin kembali pada masa ketika duniaku hanya bapak dan ibu,
Memboceng motor tua bapak untuk turut serta sholat jumat di masjid,
Merenggek manja meminta es krim yang dibelikan bapak tiap sore,
Digendong punggung yang padanya aku aman tak kenal takut.

Aku tak ingin khawatir pada uban yang mulai tumbuh di rambut bapak,
Dan tak ingin mempercayai bahwa tubuh bapak mulai disapa kriput,
Benci bila sakit mendatangi dan menjadikan bapak semakin tak banyak bicara,
Aku kesal, mengapa pijatanku dipunggung bapak tak mampu meredakan lelahnya juga?

Aku rindu ketika pagi masih menggigil dipeluk sunyi,
Suara bapak membangunkanku kala adzan subuh riuh menyapa bumi,
Ayat alquran yang bapak baca untuk menyambut mentari diufuk,
dan kepulan teh hangat kesukaan bapak yang menemani obrolan kami.

Aku iri pada kabut, ia selalu mendengakan lantunan ayat-ayat yang bapak bacakan tiap pagi,
Sedang aku terbangun bukan karena suara bapak tapi atas mimpi yang ku rangkai sendiri,
Aku iri pada kabut, ia menemani bapak dari pergi ke surau hingga datang matahari,
Kini Aku bermil-mil jauh tak disamping bapak dan masih bergumul membangun mimpi.

Selamat ulang tahun bapak, hari yang mungkin tak selalu bapak ingat.
Bapak, syukur tak terhingga pada Allah jadikan kami anakmu.
Bapak, bangga kami karena menjadi bagian darah dagingmu.
Bapak, doa dan cinta kami melangit untukmu dan ibu, selalu.

Rabu, 04 April 2018

Berdakwah dengan Tinta

Photo taken by panitia PDKT FLP

Dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu hal yang wajar jika manusia ingin saling menebarkan sebuah kebaikan. Kita mendapati toko yang berjualan roti dengan rasa yang enak dan harga yang murah, kita tentu akan mempromosikan dan mengajak orang lain agar membeli roti di toko tersebut. Meski penjual roti tak memberikan imbalan apapun kita akan tetap dengan suka rela melakukannya. Bagaimana dengan dakwah? Jika kita merasakan manisnya iman, kemudahan dalam beribadah dan merasakan nikmatnya berkumpul dengan orang-orang sholih tak tergerakkah hati kita untuk berbagi dan mendakwahkannya juga?
Kata dakwah yang berasal dari bahasa arab memiliki arti mengajak atau memanggil. Sedang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dakwah diartikan  penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama. Dakwah, kita menyeru mengajak orang lain pada kebaikan, agar senantiasa mengamalkan syariat Islam berdasar Alquran dan As Sunnah.
Bagi seorang mukmin, segala yang sesuatu yang ia kerjakan dapat bernilai pahala dan dakwah. Apapun itu, asalkan membawa nilai-nilai kebaikan dan di niatkan untuk mencari ridhoNya itu adalah dakwah. Laku, bicara, bahkan pakaian yang kita kenakanpun dapat bernilai dakwah. Aku, Kamu, dan dakwah kepenulisan, dalam hal ini saling memberikan keterkaitan satu sama lain dalam hal ini, aku dan kamu dalam dakwah dapat menjadi subjek dan objek. Objek dakwah, adalah dimana posisi kita sebagai tempat menerima dakwah, sedangkan subjek dakwah adalah posisi dimana kita berperan sebagai penyampai risalah, penyeru dakwah. Dua hal ini tak dapat dipisakan satu dengan yang lain, karena ketika seorang hanya terus menyampaikan dakwah tanpa menerima dakwah dan ilmu dari tempat lain maka pada akhirnya akan sampai pada titik jenuh, kosong, dan dakwah yang disampaikan hanya itu-itu saja, terus berulang.
Begitu hal nya dengan menulis, menulis tanpa adanya asupan ilmu dari buku yang di baca, kajian yang di dengarkan, maka yang di tulis hanyalah lembaran yang di ulang-ulang. Menulis juga sebuah jalan dakwah, jalan untuk menyuarakan kebaikan-kebaikan menambah ketaatan dan keimanan diri kita sendiri atau pembaca kepada Allah SWT. Islam dibangun atas tintanya para ulama dan darahnya para syuhada. Dengan tulisan-tulisan lah Islam menemui kejayaannya. Bagaimana Alquran pada masa Ustman dihimpun, disatukan menjadi satu kitab, ditulis Zaid bin Haritsah dari hufadz-hufadz terbaik masa itu, hingga alquran terjaga hingga saat ini. Lalu dimana posisi kita saat ini di jalan dakwah? Bahwa meski ada dan tiadanya kita dijalan dakwah ini Islam juga akan tetap berjaya.
 Tulisan adalah cara dakwah yang tak akan pernah mati. Seperti kata Pramodya Ananta Tour: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Kita juga tahu bagaimana ulama-ulama terdahulu meski jasad mereka telah tiada namun karya-karya mereka abadi hingga kini. Dengan tulisan kita dapat berbicara sebanyak yang kita mau, tanpa terbatas waktu, kita dapat menyampaikan apapun meski lisan tak mampu mengungkapkan. Dengan tulisan kita dapat menyampaikan keindahan dalam bentuk lain berupa tulisan. Dan dengan tulisan kita tidak hanya dapat mengerakkan sattu orang tapi juga peradaban. Satu kata mengandung kebaikan yang diikuti oleh orang lain akan menjadi jariyah kita tidak hanya saat di dunia, namun kelak di SurgaNya.
Dalam mengemban risala dakwah, kita tak bisa jika hanya sendiri, tidak hanya aku, tetapi juga kamu. Diperlukan jamaah, kelompok-kelompok yang akan saling menasehati pada kebaikan, memberikan semangat ketika semangat dakwah mulai luntur. Sampailah saya disini bertemu dengan komunitas kepenulisan ini, Forum Lingkar Pena yang saya sudah mengenal sejak lama. Setelah dulu saya sempat bergabung semasa MA di Solo. Akhirnya saya menemukan kembali FLP di Jogja. Melalui FLP saya belajar banyak hal, mengenal penulis-penulis handal, dari Helvy Tiana Rosa, Pipit Senja, Asma Nadia, dan hal yang membuat FLP berbeda dari lainnya yakni komitmennya dalam dakwah, bahwa dalam setiap tulisan dengan gaya tulisan yang beragam ada nilai-nilai yang Islam yang disampaikan. Dari sinilah saya ingin belajar dan menimba ilmu menjadikan tulisan saya bukan hanya sekedar tulisan kosong tak syarat makna, namun tulisan-tulisan yang mampu mengingatkan diri sendiri dan orang lain untuk senantiasa taat kepadaNya. 

Sabtu, 31 Maret 2018

Maret: Novel KEMI

Judul               : KEMI (Cinta Kebebasan Yang Tersesat)
Penulis             : Adian Husaini
Tebal               : 316 hlm
Ukuraran         : 18,3 cm
Penerbit           : Gema Insani
Tahun              : Cetakan I, 2010

Sebuah Novel yang ditulis oleh Adian Husaini seorang intelektual muslim yang bergelut dibidang pemikiran Islam. Tujuan dari novel ini jelas, mengajak pembaca khususnya kaum muslimin untuk menolak dan memahami bahaya fenomena dekadensi akidah yang sekarang sedang menjadi ancaman besar bagi Islam. Tujuan dari novel ini jelas, mengajak pembaca khususnya kaum muslimin untuk menolak dan memahami bahaya fenomena dekadensi akidah yang sekarang sedang menjadi ancaman besar bagi Islam.

Virus liberalisme yang telah menjangkiti masyarakat tanpa sadar, faham yang di sebar luaskan oleh mereka yang mengaku bahwa mereka seorang muslim dan kaum intelektual muslim, namun tanpa sadar faham ini telah merusak akidah Islam karena tidak sesuai dengan nilai-nilai dan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Faham yang menelurkan kerusakan psikis, sosial, moral, ekonomi dan lain-lain, dengan adanya keinginan manusia untuk lepas dari keterikatan suatu agama, sholat yang hanya dianggap kegiatan ritual bukan dianggap bagian dan esensi dari agama Islam, sehingga sholat ritual tidak lebih penting daripada sholat sosial. Sedangkan Pluralisme agama mengajak manusia untuk melihat agama dari sisi abu-abu bukan melihat agama melalui sudaut pandang agamanya masing-masing, menyatakan bahwa semua agama sama yakni sama-sama menuju Tuhan namun dengan ibadah dan penyebutan tuhan yang berbeda-beda.

Novel ini dimulai dengan kisah dua orang santri cerdas kebanggaan pesantren Minhajul Abidin di Madiun, Jawa timur yang ingin menuntut ilmu diluar peantren yakni Kemi dan Rahmat. Kyai Rois pimpinan pesantren tersebut belum mengizinkan mereka untuk keluar dan meminta mereka berdua menunda keinginannya beberapa tahun lagi untuk mendalami ilmu agama lagi di pesantren dulu. Kemi, berkeinginan besar untuk tetap keluar pesantren dan melanjutkan kuliah di Jakarta sehingga Kiyai Rois tidak dapat mencegah keinginan Kemi, meski ada tanda tanya besar atas kepergian Kemi yang begitu mendadak dan terkesan terburu-buru. Sedangkan Raahmat tetap berada di pesantren sesuai dengan permitaan Kyai Rois.

Kepergian Kemi membuat Rahmat terheran-heran dengan sikap yang diambil oleh sahabatnya, karena sebelumnya Kemi sangat membanggakan system pendidikan pesantren bahkan Kemi mengkritik sistem pendidikan formal di perguruan tinggi yang tidak memadukan antara aspek keilmuan dan aspek akhlak pada mahasiswanya. Keheranan Rahmat mulai terjawab ketika Kemi dijemput oleh Farsan seorang alumnus pesantren Minhajul Abidin yang telah dikenal sebagai seorang aktivis liberal. Ternyata, hal ini juga sudah diketahui oleh Kiyai Rois.

Akivitas Kemi di Kampus Damai Sentosa sebuah Institut Lintas Agama yang berlokasi di kawasan Depok Jawa Barat, tanpa sadar telah merubah pola fikir dan kebiasaan Kemi yang jauh dari nilai-nilai Islam. Kecerdasan dan semangat menuntut ilmu yang Kemi miliki membawanya pada corak pemikiran baru, Kemi terus mendalami ide-ide pluralisme, multikulturalisme, kesetaraan gender, hermeneutika Alquran. Melakukan proyek berbagai seminar-seminar diberbagai pesantren dan insitusi pendidikan di Indonesia yang mendapatkan kucuran banyak dana dari asing yang mendukung program-program tersebut.

          Setelah satu tahun kepergian Kemi dari pesantren, Rahmat bertolak ke Jakarta untuk mengantarkan adiknya melanjutkan sekolah disana. Sehingga Rahmat betemu kembali dengan Kemi, bermula dari pertemuan itulah terjadi pebincangan yang alott antara Rahmat dan Kemi tentang pemikiran Islam, sudah barang tentu pemikiran Kemi sangat bertolak belakang dengan pemikiran Rahmat. Logika-logika liberalisme yang dilontarkan Kemi di bantah habis-habisan oleh Rahmat yang juga sudah belajar tentang pemikiran liberal dan kelemahan-kelemahannya. Rahmat membantah dai hal sederhana, bahwa Islam tidak dapat dipadukan dengan kata liberal, akan terjadi beda pemaknaan seperti kata Orang yang di sambungkan dengan utan maka bukan Orang atau manusia lagi, begitu pula dengan Islam liberal. Percakapan-percakapan ini membawa Rahmat untuk menyetujui tantangan Kemi untuk bergabung dengan kelompoknya, bahwa Rahmat tidak akan berubah dan akan menyadarkan Kemi kejalan yang benar dan membawa Kemi kembali ke pesantren.

            Akhirnya Rahmat dengan izin dan bimbingan Kyai Rois bergabung dengan Kemi di Institut Damai Sentosa. Disanalah Rahmat bertemu dengan Siti seorang gadis cantik, cerdas dan aktivis gender. Dari Sitilah Rahmat tahu seperti apa sebenarnya aktivitas yang dilakukan Kemi dan kelompoknya. Siti merasa bahwa sudah saatnya dia meminta bantuan kepada Rahmat untuk menolong Kemi keluar dari kelompoknya sebab ia sadar bahwa ia dan Kemi sudah menjadi korban tergoda impian kebebasan.

Di Institut Damai Sentosa pula, Rahmat bertemu dengan rektor Prof. Abdul Malikan yang aktif menyebarkan ide-ide pluralisme agama, namun diawal perkuliahan argumen dan logikanya dikuliti habis oleh Rahmat di depan para mahasiswa karena sebenanya faham pluralisme sangat lemah dan juga di tolak oleh berbagai pemuka agama. Rahmat juga bertemu dengan Kiyai Dulpikir yang dianggap Kiyai yang  tercerahkan dan sangat pluralis di sebuah seminar, hingga pada akhirnya Kyai Dulpikir pun agumen dan logikanya dibantah habis oleh Rahmat. Kesan yang ditinggalkan Rahmat begiu mendalam sehingga Kyai Dulpikir mulai menyadari kesalahannya,  sampai pada akhirnya Kyai Dulpikir terjatuh dari kursinya di ruang diskusi. Dia tidak sadarkan diri sampai akhirnya meninggal dunia. Di akhir hayatnya Kyai Dulpikir merasa menyesal atas semua perbuatannya dan dia pun sempat mengucapkan istighfar.

Novel yang ditulis dengan unik tentang pemikiran Islam yang dihadapi oleh umat Islam saat ini. Unik karena meskipun tulisan bergenre fiksi ini setiap paragrafnya syarat makna dan pembahasan tentang pemikiran Islam. Pembahasan-pembahasan yang bisa dikatakan “berat” berupa faham Liberalisme, pluralisme, multikulturalisme, kesetaraan gender namun mampu ditulis dan dapat dijelaskan dengan apik melalui percakapan antar tokoh. Namun, dalam novel ini sangat kentara sekali bahwa Adian Husaini adalah seorang yang terbiasa menulis non fiksi, dari segi penceritaan latar sangat sedikit digambarkan, novel ini terfokus bagaimana penyampaian faham-faham  liberalisme dan bagaimana kelemahan-kelemahannya melalui alur cerita yang di sajikan.