Sabtu, 25 November 2017

Novembermu

November.
Bukan jumlah angka yang bertambah pada dirimu,
Atau goresan raut usia yang menghinggapi ragamu,
Bukan pula hitungan tanggal yang diulang hingga tersebut lahirmu,
Tapi bertambah matang dan mendewasa pada nilai lakumu..

Selamat ulang tahun untukmu.
Ku hadiahkan seikat puisi
Jangan kau buang atau tak kau acuhkan
Ia dirangkai dalam jam yang terbilang
Dituliskan dengan fikir berharap punya makna

Ia tak seperti hadiah lain yang dibungkus indah,
yang harus kau jaga namun tetap akan musnah. 
Ia tak seperti deretan pesan yang memenuhi layar ponselmu,
yang harus kau baca, hingga pada akhirnya terhapus waktu.

Kau tak perlu menjaga puisi ini agar tak hilang,
Aku juga tak berharap kau terima dengan senang.
Cukup kau jaga dan terka maknanya,
Hingga bila nanti tiada ia akan abadi bersama tanya. 

Jika ini masih tak cukup bagimu,
Ku bawakan kau lantunan doa penuh harap,
Yang ku yakini pasti didengar olehNya meski tak ku ucap,
ia akan ijabah, abdi bersama waktu.
Kemudian, ia akan tumbuh seiring jejak hidupmu,
ia akan menemani langkah kemanapun mimpi membawamu.

Selamat ulang tahun untukmu.
Semoga kau tak membuang hadiahku,
Karena ini ku beli dengan waktuku.

Selamat ulang tahun untumu.
Semoga ini tak juga cukup untukmu,
Karena ingin terus ku ucapkan lagi entah sampai ku tak tahu.

Kamis, 23 November 2017

Jeda (Jogja - Kupang)


Kadang kita memerlukan jeda untuk beranjak pada perjalanan selanjutnya. Seperti halnya ketika kita menulis kita memerlukan spasi untuk menggabungkan kata perkata hingga menjadi sebuah paragraf cerita. Sejujurnya, perjalananku INAVIS ke Kupang kemarin aku anggap sebagai spasi atas rutinitasku di Jogja. Dan tentu saja, karena ini sebuah jeda aku membawa kata sebelumnya yang masih menggantung dan memerlukan kata selanjutnya untuk melengkapinya menjadi sebuah cerita. Kata yang ku bawa dalam perjalananku ke Kupang adalah tanya, ragu, khawatir, dan pasrah.

Tanya, ada banyak tanyaku tentang diriku sendiri. Bagaimana kehidupanku di masa depan nanti? Apakah aku akan tetap berjalan sesuai dengan mimpiku? Ragu, pada mimpiku yang tak kunjung nampak meskipun seujung kuku. Masih kah harus aku lanjutkan, atau kah jalani saja yang ada sekarang. Khawatir, kelak ketika aku sudah memasuki dunia kerja atau dunia yang mereka sebut dunia sesungguhnya, aku tetap pada diriku yang terus ingin berbgi dan menebar kemanfaatan kemanapun aku pergi, sedang di sisi lain bagaimana akan berbagi sedangkan tuntutan diri sendiri dan lingkungan yang minta dipenuhi. Ah, aku tak mau menjadi manusia yang hanya berfikir untuk diri sendiri. Dan aku pasrah, hingga aku kadang tak tahu ini pasrah dan berserah atas kehendakNya atau malah menyerah? 

Di perjalanan ini aku memang tak menemukan jawaban, tapi aku di pertemukan dengan mereka yang akan melengkapi kisahku selanjutnya. Bahkan aku malah menemukan petanyaan kembali dan kegalauan. Aku teringat bagaimana seorang temanku bercerita tentang dirinya lalu mengutip kata dari salah satu buku yang pernah dia baca.
"Kita dapat mewujudkan mimpi kita kapanpun, tapi kita punya tenaga yang lebih hingga sampai usia kita 30 tahun." Ya! kita selalu punya kesempatan, selalu! Temanku ini, bahkan sedang mengeja mimpi yang sempat ia tunda. Ia sudah bekerja di kementrian keuangan, lulusan STAN. Padahal mimpinya menjadi diplomat. Lalu mengapa dia memilih STAN? karena ia ingin mewujudkan mimpi orang tuanya terlebih dahulu. Dan kini ia tak berhenti untuk mengejar mimpinya, dia ambil kuliah lagi Hubungan International, padahal jika dilihat seolah ia hanya perlu menikmati hidup dan mengembangkan karirnya. Lihat, dengan waktu sibuknya dia tetap dapat bergabung bersama kami menjadi relawan ditanah timor.

Begitu pula dengan salah seorang temanku yang lain, ia mendapati jiwa dan mimpinya menjadi guru dan mengabdi. Meski berkuliah dibidang bimbingan konseling namun ia harus bekerja sebagai staf HRD di sebuah perusahaan yang meski dirasa masih satu jalur dengan studinya, tapi tetap saja ia tak nyaman dengan yang ia kerjakan sekarang. Bisa dikatakan ia juga mengambil jeda dari kehidupannya. Dia bilang, "Setelah ini kita harus lebih bersemangat dan bersyukur lagi fafa. Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan? Seperti saat ini, kita diberi nikmat yang belum tentu semua orang bisa merasakannya."

Perjalanan memang bukan tentang foto yang indah yang akan kau unggah, bukan tempat mana yang akan kau jelajahi, atau siapa yang akan kau temui. Tapi tentang pembelajaran, tentang kembali bersama diri yang baru. Bersama diri dengan pemahaman baru, kegalauan baru, dan tentu semangat yang baru. Aku memang tak menemukan jawaban atas pertanyaan, dan kekhawtiranku. Tapi aku menemukan jawaban atas perjalanan dan kehidupan teman-temanku yang bisa ku jadikan contoh untuk memacu diri lebih baik lagi. Dan aku tahu, aku tak harus seperti mereka karena kita punya jalan dan liku yang berbeda.

Allah, terimakasih atas segala kesempatan hingga aku bisa belajar. Terimakasih Engkau hadirkan mereka yang datang dan pergi dalam hidup ini. Dan jadikan aku sebaik-baik manusia dimuka bumi ini, manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.. :) 


Jumat, 17 November 2017

Pada Pagi



Pada pagi yang kutitipkan pengharapan
Setelah berkawan pada malam pekat penuh resah
Masih dalam gaduh tanya
Tetap dalam denging ragu

Apakah pagi esok kan menyapaku?
Akankah mentari cukup hangat memelukku?
Inikah hariku?
Inikah waktuku?
Langkah atau diamkah temanku?
Banyak tanya dalam pekat malam itu...

Kini, padamu pagi aku lantunkan tanya itu kembali
Namun aku tak sendiri, ada sebongkah doa yang ku kantongi..
Ada langkah tertahan ragu yang ku paksa untuk tetap maju
Aku tau ku tak sendiri, meski ku masih merasa bahwa itu semu
Hingga ku tak ingin tetaap mengutuk sepi, tak ingin tetap dalam gelap
Aku ingin berlari, tak apa bila berat, tak apa bila payah dan pengap

Padamu pagi yang memberi pasti pada malam
Tetaplah datang dengan atau tanpa pengharapan
Tetaplah benderang dengan atau tanpa kehangatan
Karena padamu, ia yang resah pada malam,
Masih punya cahaya untuk bertahan...

Sabtu, 21 Oktober 2017

Kapan Nikah?


Judulnya serem ya? Buat kamu yang jomblo, single, jojoba, singlelillah entah apalagi sebutannya.. Katanya, menjawab ini lebih susah daripada menjawab soal ujian. Hal lumrah sih di Indonesia ketika pertanyaan-pertanyaan seperti itu dilontarkan pada kita yang berada pada usia 20an. Ah, hidup emang banyak pertanyaan, dan sebenernya setiap pertanyaan yang datang ke diri kita nggak semuanya harus kita jawab dan kita juga belum tenntu menemukan jawabannya, bukan?

2Minggu lalu setelah selesai pengajian tinggallah aku dan seorang temenku, dia mengawali percakapan kami dengan "Emang kamu nggak pengen nikah fa? Kok aku ngelihat kamu santai banget padahal kamu udah 23 tahun?" Aku bengong, sejujurnya kami berdua memang tidak begitu deket, dan tidak menangka dia akan menanyakan hal beginian. Akhirnya kita ngobrol sebentar, ternyata dia memang sudah sering dintanya hal demikian dan minta orang tuanya untuk segera menikah, bahkan sudah dikenalkan dengan seorang yang menurut orang tuanya baik dan memang temanku ini bukan penganut madzhab pacaran. Sehingga dia mulai gelisah dan mulai jengah dengan pertanyaan-pertanyaan tesebut yang berbau pernikahan. Social Pressure seperti inilah yang membuat seorang tergesa-gesa menikah, bukan bersegera menikah. Emang siapa sih yang mewajibkan wanita usia 25 tahun harus sudah menikah? Padahal setiap orang mempunyai keadaan dan waktunya masing-masing.

Menurutku, besegera dan teburu-buru itu beda, sangat berbeda. Jika bersegera ada kata siap disana, ada persiapan yang sudah diusahakan sebelumnya, maka dari itu ia ingin segera meraih apa yang telah di usahakan. Berbeda dengan terburu-buru, terburu-buru terjadi karena ada faktor ekstenal yang menjadikannya melakukan itu. Kamu terburu-buru ke kampus karena kamu terlambat bangun, misalnya.
Begitu pula dengan segera menikah, pada dasarnya bersegera itu bukan berpatokan pada lambat dan cepatnya waktu menuju pernikahan, tetapi lebih pada bagaimana kamu mempersiapkan pernikahan itu sendiri, karena menikah adalah perjalanan yang sebisa mungkin harus dijaga dan dipertahankan hingga kamu mati, Mempersiapkan ddan membangun peradaban baru kedepannya. So, kita butuh ilmu dan bekal yang matang untuk menuju pada jenjang tersebut. namun seringkali kita malah disibukkan dengan pertanyaan "siapa" bukan "bagaimana".

Kita disibukkan, dengan "siapa" yang akan menikah dengan kita, sehingga tanpa sadar yang kita persiapkan adalah bagaimana dia yang kita sukai juga menyukai kita, menggalau memikirkan dia yang kita harapkan menjadi pasangan kita, khawatir apakah nantinya kita akan bersamanya atau tidak. Kita sering lupa dengan "bagaimana" persiapan dan cara kita menujunya, apakah sudah benar atau belum, sudahkah sesuai dengan cara-cara yang Allah ridhoi atau tidak? Bukankah penikahan itu baik dan menyempurnakan separuh agama kita, kedepannya pun kita menginginkan sebuah kebaikan disana? Maka sudah seharus dimulai dengan sesuatu yang baik juga.   

Jodoh itu nggak akan kemana kalau kata pepatah, garam dilaut asam digunung aja bisa ketemu di sayur asem. Jadi kamu yang bisa berfikir, berusaha, berjalan kesana kemari dan tertawa (nyanyi lagu akad >,<) masa tidak dipertemukan jodohnya? Lagi-lagi yang perlu kita fikirkan adalah "bagaimana". Persiapkan mulai dari sekarang, karena hal-hal tebaik silih berganti menghampiri kita, namun ketika kita belum siap maka akan terlewat begitu saja, karena hal baik tidak akan menunggu kita siap atau belum siap. Maka dari itu, jika kita mempesiapkan diri dari sekarang ketika yang baik itu datang kita bersegera bukan terburu-buru karenanya. Jika kamu ingin yang baik maka jadilah yang baik! Seperti kata Sapardi Djoko Damono.

Sajak kecil tentang cinta

Mencintai angin harus menjadi siut...
Mencintai air harus menjadi ricik...
Mencintai gunung harus menjadi terjal...
Mencintai api harus menjadi jilat...
Mencintai cakrawala harus menebas jarak...

MencintaiMu harus menjadi aku”

Selasa, 17 Oktober 2017

Kamu Pikir, Kamu Keren?

Bagi kamu mahasiswa pasti pernah mendengar istilah mahasiswa Kupu-Kupu (Kuliah Pulang, Kuliah Pulang) atau Mahasiswa Kura-Kura (Kuliah Rapat-Kuliah Rapat). Dan mahasiswa kura-kura inilah yang sering disebut aktivis kampus dengan seabrek aktivitasnya. Dulu, ketika awal-awal memasuki dunia perkuliahan banyak sekali seminar-seminar tentang motivasi diri, meningkat potensi diri, dll. Hingga timbulah mindset bahwa mahasiswa harus berorganisasi  yang hanya kuliah pulang tidak mengikuti organisasi atau mahasiswa yang bekutat hanya dengan kulaih atau study oriented bukan mahasiswa ideal. Dulu, ketika aku masih semester awal-awal aku juga berfikir demikian.

Namun seiring berjalannya waktu, bertemu banyak orang, mendengarkan kisah mereka. aku mulai menyadari bahwa setiap kita punya peran. Bisa jadi, kita yang mengaku sebagai seorang aktivis kampus konsribusi kita tidak lebih besar dibanding mereka yang terlihat kuliah-pulang atau yang bekuat pada buku-buku dan junal perkuliahan. Bisa jadi, mereka yang harus bergegas pulang ke rumah, membantu atau merawat orang tuanya, mereka yang aktif menghidupkan pemuda dan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, atau mereka yang seselesainya kuliah mereka harus bekerja demi manjutkan kuliahnya. Dan mereka yang terlihat hanya berkutat dengan buku dan studynya bisa jadi mereka lah yang ilmunya lebih bermanfaat untuk masyarakat, dengan penelitian dan keilmuan mereka. Jangan-jangan malah kita yang seolah ibuk mengurusi oganisasi hanya untuk mencari nilai, atau bahkan eksistensi diri? Jangan-jangan skripsi kita yang katanya aktivis kampus hanya sebatas prasyarat untuk meraih gelar dan memakai toga?
Maka, bersyukurlah kamu yang Allah berikan kesempatan untuk mencicipi nikmatnya beroganisasi karena tak semua orang mau dan memiliki kesempatan itu. Namun, jangan merasa kamu lebih baik dan lebih tau. Bisa jadi, kesibukan yang kita elu-elukan itu hanya semu...
Jadi, kamu pikir kamu keren?
Setiap dari kita mempunyai peran masing-masing pada kehidupan kita, bagaimanapun keadaannya itulah hal terbaik yang Allah berikan kepada kita, tak perlu membandingkan diri dengan siapapun, tak perlu megukur diri dengan pencapaian yang orang lain raih, tak perlu tunjukan dan buktikan apapun kepada siapapun. Cukup lakukan yang terbaik, lakukan dengan sungguh-sungguh sepenuh hati, beri manfaat kepada diri dan sekelilingmu meski tak ada yang peduli, meski tak diketahui. Bukankah ada Ia yang Maha mengetahui?
Jadi, kamu pikir kamu keren? Katakan Ya! kamu keren dengan caramu sendiri... 

Jumat, 06 Oktober 2017

Menjual Rindu

Ku paksakan masuk dengan gusar
Aku tau ini sudah penuh sesak dan aku akan memikulmu berat,
Percuma jika aku lari dari jejak-jejak kita
karena ku akan temui mu dimana-mana,
Di lorong-lorong dimana kakiku terseok berpijak,
diriuh percakapan pembeli yang menikmati panas kopinya..
Bahkan diremang lampu warung yang mulai buka di ujung senja..


Aku juga ingin seperti pedagang,
Aku ingin menjual rinduku dengan tuntas...
Rindu yang tak tau apakah kau juga mau membelinya meski ku beri cuma-cuma..
Tawaran itu tak berlaku bila itu bukan kamu, karena ini memang untukmu...
Tak bisakah kau tuntaskan basa-basi tawar menawarmu itu?
Aku tak mau membawanya semakin berat dan berganti beku...
Hingga kau akhirnya setuju untuk membaginya dengaku..
Namun sayangnya, meski senja dan malam bersatu kita tak kunjung saling bertemu..

Siapa Aku Untukmu?


Banyak cerita yang ingin ku slesaikan dengamu,
Merajukmu berbagi kepingan puzzle padaku,
Hingga muncul tanya, "untuk apa?"

Untuk apa, jika pada akhirnya yang akan ku temui hanya bisu?
Untuk apa, jika aku hanya akan menjadi pilihan terakhirmu?
Hingga aku tau, "siapa aku untukmu?"

-23.17

Sabtu, 23 September 2017

Quarter Life Crisis

Memasuki usia seperempat abad, banyak hal yang sepertinya sepele tapi bisa jadi renugan panjang. Hingga banyak hal yang mulai di khawatirkan, mulai banyak hal yang jadi bahan pertimbangan. Pada akhinya mulai ragu untuk melangkah, merasa stuck. padahal sebenernya nggak juga. Achievement yang di capai juga ada dan target yang ingin diraih juga beberapa sudah terpenuhi. Namun entah bagaimana rasanya ada yang kurang, kosong. Malah jatuhnya merasa nggak punya pilihan hidup selain yang di ditentukan oleh lingkungan, males kalau ditanya rencana masa depan.
Idul Adha kemarin setelah ikut ENJ, ada kesempatan buat pulang ke rumah. Akhinya dirumah yang begitu nyamannya munculah fikiran-fikiran itu kembali. Hingga akhirnya aku curhat sama temen yang emang dia sering jadi kuping buat dengerin sampah-sampahku, jawabin pertanyaan-pertanyaan ku yang nggak mutu.

Dan, jawaban dia atas segala curhatan dan kegalauanku cuma simple.
"Minta petunjuk sama yang di atas"
Pengen jitak dia rasanya! Sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama. Dari kegalauan ini, akhirnya iseng googling, dan ternyata itu adalah hal normal yang di rasakan oleh manusia yang sedang dan akan mencapai usia 25 tahun. Yup! Fase itu dikenal dengan fase krisis seperempat abad. (Silahkan googling sendiri ya kalau mau tau tentang quarter life crisis ini).

Memang simple sekali jawaban temanku tadi, tapi ada benarnya juga. Dari sekian rentetan kejadian yang aku alami, dan menginstrospeksi diri. Aku mungkin terlalu melihat orang lain, membandingkan pencapaian oang lain dan diriku sendiri, sehingga selalu merasa kurang terhadap diriku. Padahal, orang lain mungkin juga merasakan  apa yang aku alami, tapi mungkin lebih pandai untuk mengatur bagaimana menyikaapinya. Ah, bukankah sangat wajar jika kita mengkhawatikan sebuah ketidak pastian?
Jadi, seperti kata temanku tadi... Minta petunjuk sama yang diatas (Allah). Pada siapa lagi kita meminta jawaban atas segala ketidak pastian kalau bukan kepada Ia yang mengatur seluruh kehidupan kita? Ya minta dulu sama Allah, dekati Allah. Perbaiki hubungan kita denganNya, mulai lagi memperbaiki sholat kita, tilawah kita, dan terus mengisstiqomahkan ibadah sunnah yang sudah kita jalankan.
selanjutnya? Fokus saja pada apa yang ingin kita raih, lakukan apa yang bisa kita lakukan saat ini.
Tentu saja ini bukan jawaban final atas fase ini, kita harus terus belajar dan belajar, karena ini hanyalah sebuah fase, jika kita mampu bijaksana dalam melewatinya tentu kita akan semakin siap menghadapi fase selanjutnya bukan?


-10.32pm  

Minggu, 03 September 2017

Ekspedisi Nusantara Jaya : Kangean bikin Kangen

16 Agustus-26 Agustus 2017. Saya berkesempatan dan terpilih menjadi salah satu delegasi kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta unuk menjadi peserta kegiatan Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 yang diadakan oleh Kemenko Bidang Maritim Republik Indonesia di pulau kangen. Berawal keinginan saya untuk menjadi bagian barisan pemuda yang ingin berkonstribusi dalam kemajuan dan pembangunan negeri saya mengikuti seleksi acara ini.
Ekspedisi ini, mengeksplore dan turut berkonstribusi untuk majukan  pulau-pulau 3T di Indonesia melalui pogam-pogram yang dirrancang oleh peserta ENJ. Perjalanan kami menggunakan kapal Sabuk Nusantara 27 selama 2 malam 3 hari, saya yang sebelumnya belum pernah mengendarai kapal, perjalanan ini menempa pribadi saya. Ketika itu gelombang laut begitu besar, sehingga banyak dari rombongan kami yang sakit, temasuk saya yang mual karena ini pengalaman pertama saya. Namun disinilah diri kami ditempa untuk saling peduli dan membantu satu sama lain meski kondisi diri juga memerlukan bantuan. Kami juga berkesempatan untuk berkunjung di pulau sapeken meski hanya sebentar, kami mendapatkan keluarga baru disana.

Perjalanan yang terasa lama dan melelahkan terbayar sudah, ketika kami kesokan harinya pada 17 Agustus 2017 merasakan khidmadnya mengikuti upacara bendera dan merayakan hari kemerdekan Republik Indonesia disalah satu pulau tertinggal Indonesia. Bersama jajaan pemerintah daerah, guu dan siswa SD, SMP, dan SMA. Bertemu dengan masyarakat yang minim menggunakan bahasa Indonesia, namun kami seolah melebur dan disatukan dengan lagu Indonesia Raya.

Kami disana melakukan program pada sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan. Saya berada pada divisi pendidikan sesuai bidang yang saya geluti saat ini. Kami dari tim pendidikan berbagi kepada anak-anak tentang penanaman rasa cinta tanah air melalui pengenalan Indonesia, Penanaman nilai-nilai moral dan kebiasaan baik untuk menjaga Lingkungan. Memberikan sosialisasi perguruan tinggi kepada siswa Sekolah Mengengah Atas. Juga pengelolaan rumah baca dan menumbuhkan minat baca pada warga.


Awalnya, saya berfikir saya ingin bekonstribusi dan berbagi namun saya lah yang banyak belajar dan mendapatkan lebih dari yang saya bagi. Saya tidak meyangka bagaimana dogeng yang saya ceritakan kepada anak-anak bisa begitu diingat oleh mereka dan diceritakan kepada orang tua mereka juga. Lagu-lagu sederhana yang kami ajarkan jadi dilantunkan di sekolah dan memudahkan mereka belajar, menurut guru kelas mereka. Informasi perguruan tinggi yang selama ini kami anggap biasa saja, ternyata menjadi infomasi yang berarti bagi mereka.  Bahkan dari pelafalan kata Endonesia menjadi Indonesia. Saya belajar banyak dari masyarakat yang awalnya, saya rasa tidak ramah karena menggunakan bahasa daerah yang tidak saya pahami dengan nada yang keras, ternyata begitu ramah, selalu menolong kami, dan menjadi keluarga kami dan tetap berkirim kabar hingga saat ini. 
Dari sini saya bahwa keramahan, persaudaraan dan rasa bhineka tunggal ika masih tetap ada di masyarakat Indonesia meski terkadang seolah mulai tergerus oleh zaman. Terkagum dengan Indahnya alam dan kekayaan bumi Indonesia. Tentu tak lupa, saya bersyukur dipertemukan dengan team yang hebat, yang disana saya banyak belajar dengan anda tawa dan berbagai masalah yang datang kita tetap bertahan dan lalui. Bertemu dengan masyarakat dan keluarga baru yang membuat saya yakin bahwa dimanapun bumi Indonesia yang kau pijaki dan siapapun yang kamu temuai adalah keluargamu. ENJ! Bersama Membangun Negeri! 

Minggu, 13 Agustus 2017

ENJ 1: Menyapa Pulau Dewata

12 Agustus 2017, setelah menempuh perjalanan selama 14 jam dengan kereta, akhirnya kami sampai distasiun Banyuwangi. Kami sampai pukul 08.45pm!  Belum sampai disitu, kami masih punya tugas untuk membawa seluruh muatan kami berupa barang donasi yang berjumlah 32 kardus, ditambah pelayaran kami ditunda keberangkatannya hingga tanggal 14 Agustus! Namun kelelahan kami terbayar dengan hadirnya anak pramuka yang menyambut kami dengan 250 lampion. Ah, Thanks Allah for little surprise to us.. :')
Alhamdulillah alakulihal... Ya, kita hanya bisa belajar menerima dan mensyukuri setiap kejadian dalam hidup yang terkadang tak terduga.
Ada benarnya, setiap kejadian selalu ada hikmah dibelakangnya tinggal kita mau mengambil dan menjadikan itu sebagai sebuah hikmah atau tidak.  Karena jadwal kapal yang ditunda, kami memiliki waktu luang dan berkesempatan untuk bisa jalan-jalan. Opsi antara Baluran National Park dengan Bali untuk tujuan (mampir) trip kita kali ini, akhirnya pertimbangan alokasi waktu dan biaya, mayoritas memilih bali!
Tidak banyak yang kita lakukan memang selama di Bali. Kami menyebrang dari pelabuhan Ketapang menuju bali dengan menggunakan kapal dan hanya dengan Rp. 6500 kami sudah sampai di Bali!
Karena keterbatasan waktu, kami hanya berkeliling di sekitar daerah gilimanuk.
Meski hanya berkeliling disekitar Taman siwa, kami tak henti takjub ketika kami menaiki kapal kecil berkeliling telek gilimanuk. Panorama air yang tenang, hutan bakau, pulau-pulau kecil disekitarnya,dan sunset. Ah, ini baru bagian kecil dari Bali tapi udah bikin susah move on!
Can't wait for next journey... :D
*n.b. Foto-foto lainnya nyusul. 





Selasa, 25 Juli 2017

Capaian Orang Lain Bukan Berarti Kegagalan Kita

Ansos dari dunia maya dan dunia nyata. Saya pernah melakukan itu. So, apa yang kamu lakuin Fa? Nothing, cause doing nothing is actually doing a thing. hehehe.. Yeah I just lot of thinking, bahasa kerennya merenung. Dan sebenarnya, ketika saya hanya banyak berfikir saja tanpa bertindak itu juga bukan suatu hal seharusnya karena sebagus apapun suatu gagasan tidak akan menjadi bagus jika tidak dilakukan, katanya.
Lalu bagaimana orang seperti saya, bisa menjadi anti sosial? Entahlah mungkin ini beberapa dari sekian sebab yang menurut saya patut dijadikan alasan, dan juga menjadi bahan perenungan saya. 

Instagram. Ada apa dengan account sosial media yang sedang di gandrungi sekarang ini? Bukannya saya menyalahkan instagamnya, bukan! Tapi lebih bagaimana saya menyikapinya. Berawal dari kejengahan saya dengan posting-postingan yang saling adu domba, yang ketika itu ramai membahas paslon, you know what I mean lah.. Jengah sekali, berita yang ada di tagline hanya berkaitan dengan itu-itu saja, penuh cai maki dan saling serang. Saya pernah membaca sebuah artikel yang menyatakan bahwa ketika otak kita hanya di penuhi hal-hal negatif maka lambat laun otak kita juga akan mengarah pada hal yang negatif pula. Jadi, saya tidak mau memenuhi kepala saya hanya dengan masalah-masalah yang saya pun bingung bagaimana menyelesaikannya dan tak punya kapasitas untuk membicarakannya.
Kedua,nyadar nggak sih.. Ketika kita scroll intagram atau media sosial apapun kita tanpa sadar menjadi lupa waktu. Beberapa menit kita atau malah berjam-jam dari waktu kita terbuang sia-sia hanya dengan duduk dan memandang layar handphone kita untuk sekedar memenuhi rasa keingintahuan kita yang belum tentu bermanfaat juga. Rugi! Rugi!
Ketiga, ketika saya melihat update teman-teman yang berisi achievement mereka. I'm feeling down.. Muncul lah pikiran-pikiran. "Waah, mereka udah ini udah itu, kok aku stuck disini aja ya, kok aku masih gagal aja ya, dan sebagainya". Ya! Sesempit itu pikiran saya ketika itu. Hingga akhirnya saya sadar and mulai berikir I have to stop. Oke, let's say kalau sosial media memang akun untuk pamer, dan tanpa sadar sosial media juga udah jadi semacam CV kita yang menggambarkan diri kita, meski tidak sepenuhnya benar adanya. kenapa tidak sepenuhnya benar? Karena media sosial adalah dunia ideal yang diciptakan oleh si empunya. Tidak mungkin kan kita post hal yang tidak terlihat "keren" atau menjatuhkan diri kita sendiri?

Sebenarnya kita hidup untuk membuktikan apa? membuktikan kepada siapa?  Toh tak semua orang peduli, dan pencapaian yang kita dapat, pasti juga ada pencapaian orang lain yang lebih tinggi lagi, begitu seterusnya. Lantas apa yang harus kita sedihkan? Toh tidak semua orang perlu tau siapa kita? Toh setiap orang berbeda, mengapa harus sama? 

Finally, dari sini saya jadi belajar banyak hal. Salah satunya, bahwa pencapaian orang lain bukan berarti kegagalan untuk kita. Bagaimana bisa kita dibandingkan satu sama lain sedang kita punya jalan, cara, dan keadaan masing-masing. Punya saat tepat dan terbaiknya masing-masing. Mana bisa saya dibandingkan dengan anak yang lahir dan tumbuh besar di Amerika tentang penguasaan bahasa inggis, misalnya. Dia sejak balita juga sudah bisa berbahasa inggris, sedang saya kenal bahasa inggris saja baru SD. Mana mungkin akan sepadan dalam waktu yang bersamaan?

Bersyukur atas apapun yang ada pada diri kita saat ini, karena itu lah yang terbaik menurut Tuhan untuk kita. Nikmati saja alur dan likunya sambil terus berusaha sebaik-baiknya, hingga waktu terbaik itu datang kepada kita. Sehingga menunggu waktu terbaik itu tak terbuang sia-sia. Dan tak mungkin ada reaksi bila tanpa aksi, bukan?




~23.20  

Senin, 17 Juli 2017

Sarapan Cerita Asrama

Rasanya pembahasan kapan nikah tak ada habisnya bila dibahas, seperti pagi ini asrama "hidup" setelah halaqoh subuh. Ya, apalagi kalau bukan membahas tentang nikah? bermula dari pembahasan anak-anak binaan kita, pendidikan anak, hingga proses menjemput jodoh. Sering kali, saya lebih sering membahas dan berfikir tentang bagaimana pendidikan anak ketimbang bagaimana dan "siapa" jodoh kita kelak. Padahal semua itu satu paket. hehehe.. Sesuai dengan postingan di instagram yang pernah saya baca, bahwa salah satu hak calon anak-anak kita adalah mencarikan ibu/ayah yang sholih/ah. Ya, tentu saja bagaiamana mungkin seorang kucing akan melahirkan singa?
Saya bukannya tidak memikirkan hal itu, akan tetapi saya meyakini kelak yang akan menemani dan mendampingi saya, Allah sudah mempersiapkannya. Kita hanya perlu berikhtiyar memperbaiki diri dan menjemputnya. Allah berjanji orang yang baik akan mendapatkan yang baik pula. Sedangkan mendidik anak dan membina keluarga tentu membutuhkan ilmu yang tiada habisnya, apalagi jika tujuan kita adalah surga dan ridhoNya.

Kami yang menjadi pembina asrama anak-anak SMA tentu saja kami kadang merasa kewalahan atas tingkah polah mereka. Sedang kami masih belum berkeluarga, pada akhirnya kami la yang belajar dari mereka, belajar dari orang tuanya, belajar dari kejadian-kejadian yang dialami. Ah, kami juga belajar untuk menjadi bijak dan teladan di mata mereka.
Setiap pelaggaran atas peraturan yang ada, kami selalu berikir "Anak ini sebenernya kenapa?" "Apa kita salah dalam membimbignya?". Ternyata jika di runtut tak hanya sampai situ saja. Masalah ada yang berlatabar belakang karena keluarganya, dan menurut kami inilah yang paling banyak kami jumpai.
Pernah kami menemukan anak yang Ia di hadapan kita selalu berkata manis, penurut, namun ternyata dia bermasalah besar di sisi lainnya. Orang tuanya mendidik agar anak-anaknya mendapattkan apapun yang diinginkan. Anak tersebut menceritakan bahwa orang tuanya rela membayar agar anaknya menang dalam suatu kejuaran. Lantas, patut kah kita menyalahkan orang tua dan anaknya? Mungkin bisa, tapi untuk apa? Toh itu sudah berlalu.
Pendidikan merupakan segala hal yang terjadi pada kehidupan kita. Siapapun adalah guru. Jadi, kesalahan yang dilakukan anak-anak kita bisa jadi buah atas tindakan kita juga. Dan banyak kisah lain yang lebih membuat kami tercengang tak percaya.

Teman saya bilang ketika dia mengikuti kajian parenting, pemateri mengatakan "Jika anak-anak kita nakal, keluarga kita penuh dengan masalah. Coba ingat kembali apa yang telah orang tua lakukan dulu. Jangan-jangan ketika menjemput jodoh ada hal-hal yang tak sesuai dengan aturanNya." Ah ya, bukankah apa yang kita tanam itu yang akan kita petik.




*Ayo semangat calon emak-emak smart nan sholihah, bukan emak-emak yang eting ke kanan belok ke kiri. ><

Minggu, 16 Juli 2017

Nostalgia pada Pertemuan

Aku tak tahu,
Bagaimana memulai tapi sudah menjadi akhir?
Bermuara namun juga menepi
Kau tau, ah ya.. Kau tak tahu.
Setiap lorong yang ku temui adalah kamu
Mengapa meyapamu di sudut bayang itu begitu tabu?

Aku tak tahu,
Jarak antara mimpi ku dan milikmu bertemu
Berharap bahwa itu bukan semu, hingga detik ini.
Lagi-lagi kau tak tahu.
Bahwa setiap kata tanpa tatap muka itu ku rindu
Setiap aksaramu tlah mengajakku kesini, pada bait ini.

Aku tak tahu,
Bagaimana mungkin itu kamu?
Kau tak tahu,
Bahwa itu aku.

Minggu, 04 Juni 2017

Ramadhan 9 : Peran

Hari ini di tengah riuhnya buka bersama komunitas, seperti biasa. Aku menarik diri sejenak mengamati sekitar. Kebiasaanku yang tak hilang.
Betapa bahagianya wajah-wajah itu. Penuh canda tawa dan keceriaan, sorak-sorak canda menggelegar seolah tempat ini milik sendiri, hingga tak terlewat foto sana-sini. 
Ditengah itu semua, kita sering luput pada mereka yang menyajikan makanan, memasaknya di dapur atau yang menjaga kasir. Mereka sibuk meladeni kita sedang kita berengkrama dengan mereka yang kita cinta.

Rasanya jahat juga yaa kita tertawa-tawa mereka bekerja. Tapi itu kan tugas mereka fa? Mereka juga pasti pernah dilayani juga kan. Makan seperti kita? 
Ya memang benar, lihat kita punya peran sendiri-sendiri dalam kehidupan kita. Ada mereka yang mengorbankan waktu berpeluh keringat melayani sedang kita tertawa. Ada pak parkir yang menjaga kendaraan kita sedang kita khusyuk beribadah tarawih. Ada pak supir, pilot, nahkoda yang berbuka ditengah perjalanan,sedang kita asyik menikmati perjalanan yang ada.

Membayangkan jika di dunia ini tak ada orang seperti mereka. Bukan apa-apa kita tak pernah tau bagaimana kehidupan menghimpit mereka sehingga mungkin mereka beribadah tak bisa seleluasa kita.
Dan kita juga tak pantas menghakimi diri kita,bahwa kita lebih baik darinya..
Karena bisa jadi Allah lebih ridho terhadap mereka yang bekerja keras untuk keluarganya, dibanding kita yang berkali-kali menghitung ibadah kita dan mungkin tanpa peduli terhadap mereka.

Setiap manusia punya peran masing-masing dalam kehidupannya. Jika kamu menatap ke atas maka jadikan ia pelecut untuk berusaha lebih baik, dan jangan lupa untuk banyak menatap kebawah, karena yang dibawah menuntunmu untuk bersyukur, berhati-hati dan mengingat kemana kamu akan kembali...

Sabtu, 03 Juni 2017

Ramadhan 8 : L'effort Est ma force


Saya bukan lah orang yang pandai, moto saya hanya khairun naas anfauhumlinnas, sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Berusaha sekeras-kerasnya, berdoa sebanyak-banyaknya dan bertawakal kepada Allah dengan sepenuhnya adalah hal mutlak yang saya coba selalu lakukan. L'effort Est ma force, kerja keras adalah kekuatanku.

Pasti akan selalu ada hal-hal yang memandang sebelah mata atas kerja keras kita. Bahkan ketika yang kamu katakan kerja keras, mungkin akan ada yang nyeletuk “kerja cerdas dong” dan sebagainya. tak perlu dipungkiri juga, bahwa kebanyakan dari kita memang menilai dari hasil yang kita raih. Tak salah memang, hasil mmeupakan bukti sebuah usaha, bukan? Saya jadi ingat kata Aa Gym;
“Berbuat baik saja, akan selalu ada orang yang menganggap buruk. Jadi, untuk apa berbuat buruk yang sudah pasti buruk?”
Terkadang tak semua harus kita dengarkan, kita hanya punya dua tangan yang tak bisa menutup mulut setiap orang, kita punya dua tangan yang bisa kita gunakan untuk menutup telinga kita sendiri. Lagi pula jika kita menyakini bahwa Allah Maha tahu segalanya untuk apa kita khawatirkan penilaian manusia yang hanya tebatas indra?

Lantas bagaimana jika kerja keras yang tlah di upayakan tak kunjung menemui hasil yang di damba, namun caci kian membahana? Ingat Allah tak hanya perintahkan kita untuk ikhtiyar. Tapi masih ada do’a dan tawakal. Kita mudah sekali mengucapkan, ikhiyarr doa tawakal, namun apakah kita benar-benar telah berikhtiyar, berdoa, dan betawakal dengan sessungguh-sungguhnya?
Apakah ikhtiyar yang kita upayakan memang kita niatkan untuk ridhoNya? Apakah ikhtiyar yang kita perjuangkan sesuai dengan apa yang Ia titahkan?
Apakah doa-doa yang kita lantunkan sudah penuh dengan keyakinan bahwa doa kita akan Ia kabulkan? Apakah doa yang kita panjatkan kesunguhan, kesantunan dan penuh pengharapan? Jangan-jangan doa-doa itu hanya rutinitas pelengkap yang kau minta dengan sekenanya? Meminta agar harus tekabul, padahal engkau siapa, hanya peminta?!
Apakah tawakal kita hanya bertahan dibibir saja, namun ketika yang ada tak sesuai yang kau pinta kau begitu kecewa? Malah marah dan ingin menyerah? Atau ketika pinta yang kau ingini tiba, kau berpuas diri, terlena dan terhenti? padahal Allah memintamu jika kau tlah selesai satu urusan bergegaslah untuk urusan yang lain. (Ash-Sahrh:7)

Semoga keja keras yang menjadi kekuatan kita adalah kerja keras yang kita perjuangkan untuk meraih keridhoanNya, yang hasilnya bisa kita tuai juga di firdausNya. Bukan kerja keras yang  begitu nyata di mata manusia namun bagai debu yang berhamburan ketika kelak Ia menghisab amal-amal kita. Dan Katakanlah: “Bekerja-lah kamu , maka Allah dan rasul-nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaan-mu itu dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata lalu diberitakan-Nya kepada-kamu apa yang telah kamu kerjakan.” ( QS. At Taubah , 9 : 105 )

#SelfReminder

Jumat, 02 Juni 2017

Ramadhan 7: Ozon

Bagaimana bisa kita bertemu jika bukan kebetulan takdir apa yang Ia rencana?
Bagaimana kita memberi arti pada setiap masa yang kita jalani bersama?
Bagaimana aku bisa berfikir akan berakhir bahkan kita tak pernah memulainya?

Antara ketidak mampuan dan takutku, jangankan untuk memulai, membayangkan pun aku tak berani..
Jangan kau tanya apa yang ku usahakan untuk itu, lewat lirih doa pun aku malu. Tapi dengan apa lagi jika bukan itu? 
Tak mungkin matahari bumi bersatu jika bukan karena kehendakNya atau kiamat mulai menanda..

Sadar sesadar sadarnya bahwa logika tak mampu memanipulasi rasa. 
Namun siapa bisa memilih kepada siapa untuk siapa. 
Dan untuk kesekian kalinya jatuh dilubang yang sama, dan berharap jatuh sejatuh-jatuhnya. 
Siapa kira siapa sangka dan siapa menduka?

Kamis, 01 Juni 2017

Ramadhan 6 : Islam itu Kita

Ramadhan kali ini, Allah memberikan saya kesempatan untuk bertemu dan belajar dengan seorang ibu yang luar biasa, mempunyai tekad yang kuat dan semangat belajar yang tinggi meski usianya sudah memasuki kepala empat. Hari ini kamai bertemu untuk mengaji, setelah selesai kami bercerita panjang lebar. Beliau bertanya kepada saya. 
"Mbak sekarang kan banyak yaa orang yang jilbabnya besar-besar dan bercadar tapi maaf, kok jorok ya.. Bajunya kedodoran, gak disetrika, bukan cuma itu suaminya juga, rumahnya bau dan berantakan. Gimana itu mbak?"
Mendapat pertanyaan dari beliau saya hanya mengulum senyum, karena bukan kali ini saja ada orang yang berkata demikian, dan saya pun menyaksikannya sendiri. Sedih memang, padahal bersuci dalam Islam adalah hal yang yaang berkaitan erat dengan sholat, ibadah wajib yang dilaksanakan seorang mukmin 5X dalam satu hari. Islam telah mengajarkan segala aspek dalam kehidupan kita, bahkan masuk kamar mandi pun islam mengaturnya dengan berdoa, masuk kamar mandi menggunakan kaki kiri terlebih dahulu dan sebagainya. Lalu apakah kita dapat merepresentasikan ajaran Islam yang indah ini?

Bagi seorang mukmin, siapapun dia apapun profesinya ia adalah seorang pendakwah. Ia membawa Islam pada dirinya. Seperti ketika kita ketika sekolah dulu misanya, kita mengikuti sebuah lomba kita curang dalam mengiktinya maka oang yang ikut dalam perlombaan itu pasti berkata "Ah, sekolah A curang" Padahal tidak semuanya curang kan? Begitu pula, kita seorang muslim, mau tidak mau hal itu pasti terjadi, karena kita bagian dari Islam itu sendiri. Dimata orang lain, Islam itu ya kita.

Lalu, bagaimana dakwah kita akan sampai jika kita yang menyampaikan pun tak sedap dipandang mata. Ini bukan berarti kita harus berpakaian mahal dan bergaya kekinian!   Penampilan memang bukan segalanya, dan menampilan tak selalu menunjukkan esensi sesungguhnya. Tapi, dengan memperhatikan penampilan kita berati juga kita menghagai diri kita.

Ajining diri soko lathi, ajining sariro soko busana.
Harga diri seseorang ditentukan oleh tutur katanya, penampilan seseorang diukur dari pakaiannya.

Rabu, 31 Mei 2017

Ramadhan 5 : Akhir Semu

Keren itu, kamu tahu peranmu dan bertanggung jawab atas pilihanmu!
Peranmu sebagai Hamba, anak, orang tua, penuntun ilmu, dan warga Negara.
Bertanggung jawab dengan apapun resiko dari setiap pilihanmu.

Bukan hanya untuk mencari eksistensi, 
Bukan untuk mengunggulkan diri, 
Tapi kamu benar-benar tau ada peran dan tanggung jawabmu disana.

Ah, terus busungkan dadamu. Tinggikan suaramu. 
Maka, pada akhirnya yang akan kau temui hanya semu.. 

Selasa, 30 Mei 2017

Ramadhan 4 : Debat Kusir

Saya mengingat ketika awal saya masuk dunia perkuliahan, banyak sekali hal-hal baru yang datang, bukan hanya teman dan lingkungan baru, tapi juga keilmuan. Banyak juga hal-hal yang saya anggap tak sesuai dengan pandangan dan pemahaman saya. Ketika itu pula, gaung bahwa kamu mahasiwa maka kamu harus berikir kritis begitu digencarkan oleh kakak-kakak panitia Ospek ketika itu. 

Saya merasa banyak hal yang tak saya ketahui, dan bertentangan dengan yang saya ketahui saat itu. Maka tak heran ketika itu saya banyak bertanya, diskusi dan berdebat. Lagi-lagi kami diingatkan bahwa "Mahasiswa harus kritis" seolah setiap apapun yang disodorkan kepada kita harus ada hal yang harus kita kritisi, harus dan patut kita pertanyakan. Sehingga tiap kali ada teman kita yang berbicara selalu harus ada hal yang dipertanyakan, hingga saling adu argumen, mencari pendapat dan pemikiran lain yang lebih kuat untuk membenarkan argumen kita, membaca pemikiran tokoh lalu kita kritisi lagi. Sehingga, mulai muncullah rasa I'm Mr/s know it all, bahkan ketika itu ada yang berbisik "Ahh,nih orang nggak tau apa-apa nih. Masa begitu", "Pemikiran seperti itu kolot, seharusnya begini...." Dan suatu ketika sangking panasnya perdebatan seorang teman saya berkata. "Harusnya, kalau anda intelek anda pasti tahu..." Ah, Seru sekali ketika itu.

Disisi lain saya berfikir, kenapa seolah ketika kita mampu menggaungkan argumen kita dan diamini oang lain, kitalah yang benar? 
Sebenarnya kita berdebat untuk apa?
Apakah hanya untuk saling beradu argumen? Buat apa, toh ini bukan kompetisi debat?
Bukankah seharusnya ketika kita menemukan suatu gap atau masalah, kita seharusnya mencari solussi dan kebenaran, bukan malah di perdebatkan?

Hingga saya tanpa sengaja membaca kembali hadist tentang perdebatan,

"Aku memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Aku memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam bentuk candaan. Aku memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang bagus akhlaknya.” (HR. Abu Daud, no. 4800. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Saat ini, lagi-lagi saya seperti diingatkan kembali dengan kejadian waktu itu, lagi-lagi karena sosial media yang begitu riuh dengan pedebatan, dari perdebatan di komen sampai balas caption status dan lain sebagainya. Bermula dari seorang yang mengungguh hal yang di anggap tak sesuai dengan nilai dan norma yang ada. Terjadilah komen dan kritik pedas, hingga saling menanggapi dan berbalas komentar antara kubu pro dan kontra, padahal yang dikomentari belum tentu menjawab dan membaca komentar-komentar mereka. Mungkin dari kita ketika berkomentar berniat mengingatkan bahwa itu hal yang salah, tak sesuai nilai-nilai agama. Jika memang berniat mengingatkan, jadi yang perlu  digaris bawahi adalah tugas kita hanya mengingatkan, dan menyampaikan kebenaran. cukup!

Seringkali ketika kita menyampaikan dan mengingatkan kita malah merasa paling benar, paling baik, harus segera ditaati. Berapa kali sih kita mengingatkan orang yang kita komentari tersebut? Padahal rosulullah butuh bertahun-tahun untuk mengajak manusia menyembah hanya kepada  Allah. Lalu bagaimana dengan kita yang hanya sekali mengingatkan tapi inginnya langsung di taati? Itu saja jika bahasa yang kita gunakan baik belum tentu diterima, bagaimana jika bahasa yang kita gunakan malah sebaliknya? Bahkan malah menyempatkan waktu untuk menanggapi komentar lain yang kontra dengan pendapat kita sampai ikut mencaci pula! Jika begitu apa bedanya?

Allah dan Rosulullah tlah mengingatkan kita dengan jaminan rumah di surga, jika kita menghindari perdebatan yang sia-sia, perdebatan yang tak bertujuan menasehati dan mencari kebenaran, hanya debat kusir yang tak ada ujungna! Apa lagi di dunia maya yang tidak jela wujud dan identitasya. Jika kita ingin mengingatkan pada kebenaran dan meperbaiki kesalahan, ingatlah apa niat kita semula. Sampaikan dengan bahasa terbaik yang kita punya. Bukankah rosul mengajarkan kita juga untuk berkata baik atau diam?
Semoga Allah senantiasa mengampuni kita semua.
Well, kata imam syafi'i ini patut dijadikan sebuah perenungan.

"Berkatalah sekehendakmu untuk menghina
kehormatanku, toh diamku dari orang hina
adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku
tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas
bagi Singa meladeni anjing" -Imam Syafi'i-




Minggu, 28 Mei 2017

Ramadhan 3 : Realistis atau Pesimis?



Di usia yang mulai memasuki seperempat abad ini, banyak hal yang saya fikikan. Entah bagaimana saya mulai bosan dengan hal-hal yang dulu begitu menarik bagi saya, tak seperti dulu yang begitu bersemangat untuk mewujudkan gagasan dan ide baru.

Setiap dari kita pasti mempunyai keinginan dan impian. Namun seiring berjalannya waktu, berbagai hal yang kita alami, keinginan itu seolah menjadi hal yang 'patut kita fikirkan ulang', tidak sepeerti dulu ketika kita kecil dengan lantang dan semangatnya meneriakkan "Aku ingin menjadi presiden!". Dan, sekarang entah kita menjadi realistis atau malah pesimis?

Gagasan-gagasan besar yang dulu ingin kita realisasikan kini seolah memudar, dengan tidak adanya uang, minimnya pengalaman, atau tuntutan masyarakat sekitar. Hingga kita mulai berikir, sudahlah lakukan saja seperti seharusnya, lakukan saja seperti kata mereka toh ini bukan hal yang keliru. Ya, kita mulai merealistikan keadaan. Atau kita malah pesimis karena ketidakmampuan dan tidak adanya kesempatan yang datang? Mungkin sebenarnya keinginan dan mimpi itu masih ada, tapi kita tak tahu harus dari mana memulainya, hingga kita merasa berfikir sangat terlambat bila memulainya sekarang, atau takut akan menjadi sebuah langkah yang salah karena begitu berbalik dengan keadaan kita yang sekarang.

Saya teringat ketika saya bertemu dengan teman saya yang baru pulang dari Jepang menghadiri acara kepemimpinan di Jepang. Dia bercerita kepada kami tentang pengalamannya dan motivasinya. Yang paling saya ingat adalah ketika dia berkata bahwa dia tidak suka mengikuti acara training motivasi atau membaca buku motivasi. Menurutnya, hal tersebut malah membuat kita takut melangkah, ketika kita ingin melangah kita malah disibukkan dengan step-step yang kita dapat dari motivator. Pertama kamu hurus buat planning, tetapkan tujuan, ke dua... ketiga.. dan seterusnya. Padahal, yang seharusnya kita lakukan, yaa sudah lakukan! Just do it! itu menurutnya.

Saya setuju dengan "Yang seharusnya kita lakukan, ya sudah lakukan!" Ini sekaligus menjadi sebuah jawaban atas pertanyaan "Apa yang harus saya lakukan? Apa yang harus saya mulai?" Karena Gagasan akan tetap menjadi sebuah gagasan bila kita tidak memulai. Namun saya tidak sepenuhnya setuju jika kita tak perlu terlalu banyak mendengarkan motivasi. Mengapa? sebenarnya kita selalu butuh diingatkan dan dimotivasi agar semangat itu terjaga, agar impian yang kita iginkan tak terlupa, entah bagaimanapun keadaannya. Tinggal bagaiamana kita mengaplikasikan setiap motivasi yang kita dapat. Lihat, bahkan meskipun teman saya tak suka mengikuti training motivasi, sebenarnya teman saya yang sedang berbicara pun dia sedang memotivasi kami untuk bisa berbuat sepertinya juga, memaca buku setiap hari, kurangi waktu tidur dan lain sebagainya. Semua hal yang teman saya katakan dan lakukan tidak ada yang salah. Keinginan-keinginan kita mulai memudar karena ita mulai berikir realistis sehingga merasa pesimis,  juga bukan hal yang salah. Yang salah adalah kita tak melakukan apapun hari ini! Ya, karena ketika kita diam tak ada perubahan, padahal yang kita lakukan sekarang berhubungan dengan masa yang akan datang.

Lakukan saja apa yang bisa kita lakukan saat ini, tak apa bila mimpi kita memudar tapi jangan hilang. Bila memudar dekati ia kembali, coba ingat apa alasan mengapa kita menginginkannya? Apa yang membuat kita begitu menginginkannya? Selangkah demi selangkah. Tak ada langkah yang tak sampai pada tujuannya yang ada, langkah itu kita hentikan sebelum tujuan atau terhentikan oleh kematian. Jika pun langkah itu tak sampai entah karena kita hentikan atau terhentikan, ketahuilah kita sudah membuat banyak langkah yang bisa diikuti oleh orag lain yang ingin berada di jalan mimpi yang sama. Ketahuilah bahwa ketika kita melangkah kita juga menemukan hal-hal lain yang tak kita dapat sebelumya. Melangkah jangan takut salah, kesalahan adalah kita tak melakukan apapun hari ini.

Ramadhan 2 : Sok Tahu!



Terkadang saya menarik diri dari riuhnya arus diluar sana. Berhenti sejenak, mengamati, lantas saya merangkainya kemudian berharap dari setiap rangkaian yang ada, bisa menjadi sebuah pemahaman yang baik untuk diri saya dan sekeliling saya. Sejujurnya, saya adalah tipikal yang mudah tertarik akan semua hal, bertanya apapun yang tidak saya tahu, takut tapi ingin mencoba. Saya menyadari betul, sikap mudah tertarik bisa menjadi dua hal yang memberikan manfaat dan madharat. Menepi sejenak dan tidak mengikuti arus bukan berarti saya tak memilih atau lari, karena saya menyadari akan lemahnya ilmu dan pengetahuan yang saya miliki, saya berusaha memahami setiap hal dengan baik. Maka, tak segan bila ada seseorang yang bertanya dan saya menjawab tidak tahu. 

Yang kamu lihat tak semua yang kamu tahu. Jadi, jangan sok tahu!
Ya, tak semua yang kita lihat dapat menjelaskan segalanya. Ada banyak hal di dunia ini yang tak bisa dijelaskan hanya lewan penglihatan kita. Oleh Sebab itu Tuhan tidak hanya menciptakan mata sebagai indra kita. Seringkali kita menilai buruk seseoang hanya dari apa yang kita lihat, memang salah satu cara kita untuk menilai yakni dari apa yang kita lihat, akan tetapi itu bukan penilaian mutlak, kita masih bisa melihat sisi lainnya. Dalam Islam sendiri Allah melarang kita untuk berprasangka buruk. 

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak berprasangka; Sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan keaiban orang, dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang mengumpat sebahagian yang lain. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.” (Surah Al-Hujurat, 49; Ayat 12)
Lalu bagaimana, kita melihat pasti akan menjadi sebuah kesan pertama bukan? Dan itu juga menjadi sebuah penilaian? Hal tersebut tak bisa kita pungkiri, karena kita memiliki kecondongan-kecondongan, dan hal terebut juga sebuah pilihan. Ketika kita mulai berfikir tentang hal buruk namun tanpa ada bukti, kita tetap dapat memilih untuk berprasangka baik. Jika pun kita menemukan bukti atas "hal buruk" yang kita prasangkakan tak sepatutnya juga kita mengolok-olok ataupun mencaci. Tugas kita hanya mengingatkan pada kebaikan. Apakah dengan mencaci hal terebut akan segera berubah? Dan apakah kita yang mengolok-olok lebih baik dari yang kita olok-olok?
Ada sebuah kisah yang diabadikan dalam sebuah hadits, yang seharusnya kisah ini menjadi sebuah pembelajaran dan koreksi diri. Kisah seoang wanita pezina yang diampuni dosanya karena memberi minum eekor anjing yang kehausan.

Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Muslim no. 2245).


Kita tidak pernah tahu dari amal apa yang bisa membawa kita pada keridhoan Allah. Bisa jadi, ibadah yang selama ini kita laksanakan tak lebih baik dari orang yang kita nilai buruk. Tugas kita hanya terus berusaha meraih keridhoanNya, mengajak pada yang ma'ru dan mencegah pada yang mungkar.
Yang kamu lihat tak semua yang kamu tahu. Maka, jadikanlah khusnudzon dan akhlakul karrimah sebagai pelindung dari hal yang membuat kita merasa tinggi. :)

Sumber : https://rumaysho.com/7395-kisah-wanita-pezina-yang-memberi-minum-pada-anjing.html



  

Sabtu, 27 Mei 2017

Ramadhan bersama Rumah Zakat


Alhamdulillah salah satu doa kita di ramadhan tahun lalu di ijabah oleh Allah SWT, untuk dapat bertemu ramadhan tahun ini. Ah, usia siapa yang tahu? Pagi ini pun kabar lelayu di umumkan lewat speaker masjid seusai sholat subuh. Hari pertama ramadhan, dimana semua orang merasakan euforia dangan penuh pengharapan dan kebahagiaan, disisi lain ada keluarga yang bersedih karena kehilangan. Apapun itu, kita sebagaimana manuia hanya bisa berikhtiar dan bertawakal atas segala ketentuan yang Allah gariskan. Meyakini apapun yang Allah berikan adalah terbaik.

Tahun ini genap ramadhan tahun ke empat saya di jogja. Menyambut ramadhan seharunya tak hanya dengan bahagia, namun dengan syukur dan keimanan yang kian bertambah. ramadhan kali ini saya bergabung menjadi relawan di rumah zakat regionl Jogja. Robbi... saya baru ikut agenda pertama JumatMenabung (Menebar Nasi Bungkus) saya sudah mendapatkan ilmu dan cerita dari relawan lain yang sudah menjadi relawan sebelumnya. Menjadi seorang relawan bukanlah hal pertama kali bagi saya sendiri, saya pernah beberapa kali terlibat dalam kegiatan sosial lainnya, tapi bagi saya setiap tempat spesial, ada ilmu baru yang tak bisa kita dapatkan ditempat lainnya.

Jumat kemarin kami menebar 30 nasi bungkus, pukul 05.00 kami berkumpul SD Juara yang menjadi SD binaan Rumah Zakat, Menebar nassi bungkus juga bukanlah hal pertama bagi saya, karena sesekali saya membagikan nasi bungkus diasrama yang ditinggal pemiliknya karena pulang, puasa atau karena alasan yang lainnya. Kami di bagi tim untuk menebar nasi bungkus untuk para pemulung, loper koran dan tukang becak gayuh bukan becak motor. Di sinilah kisah bermula, kita bertemu realita kehidupan dan lagi-lagi mengingatkan kita untuk terus bersyukur. Bahwa apapun yang kita miliki saat ini adalah yang terbaik untuk kita. Kami bertemu seorang ibu yang terkena stroke masih berjualana koran di lampu merah dengan menggunakan kursi rodanya, namun dengan senyum hangatnya masih berbincang dengan kami, seolah dirinya dan keadaannya baik-baik saja. ya Allah....
Lalu, kami menjumpai bapak-bapak tua dengan rompi parkir yang sudah begitu lusuh sudah pudar warnanya dan kotor, duduk didepan sebuah toko yang belum buka. Setelah kami temui ternyata bapak tersebut tangan kirinya bengkok akibat stroke,ketika saya bertanya nama beliau, beliau tersenyum dan bersegera dengan tangan kanannya merogoh saku dan menyodorkan dompet kepada saya, bergetar hati saya menyaksikan itu,Robbi... bapak tersebut tak bisa berbicara juga! Dan ketika dompet itu dibuka bukan KTP asli yang kami temukan, namun hanya selembar foto copy KTP yang sudah lusuh bertulis Edy disana. Robbi... ampuni kami yang telah kufur pada nikmatMu.

Reska, teman relawan yang menjadi koordinator agenda ini juga bercerita, bagaimana perjuangan bapak-bapak yang menjadi tukang becak gayuh. Mereka tak mendapatkan penumpang 2-3 hari adalah hal yang biasa, terkadang mereka tak pulang ke rumah karena malu dengan anak istrinya. mereka memilih tidur dibecaknya atau mencari emperan toko, masjid atau apapun untuk mereka tidur. Padahal tukang becak keberadaannya diakui pemerintah, mereka punya plat dan izin dari pemerintah, namun pemerintah masih kurang memperhatikan akan kesejah teraan mereka ditengah munculnya becak motor, ojek online dan lain sebagainya. Bahkan reska yang sudah sering membagi nasi bungkus berkeinginan membuat aplikasi untuk pak becak ini. Ah, hebat mimpimu reska! :')

Membayangkan jika mereka adalah orang tua saya, hati saya pilu. Bukan! bukan karena pekerjaan mereka, karena bagi saya pekerjaan apapun sama saja dan itu mulia. Setiap orang punya alasan dan keadaannya masing-masing. Yang membuat saya terenyuh karena perjuangan mereka untuk dirinya dan keluarganya. 
Lantas bagaimana dengan kita yang Allah karuniakan kesehatan, kesempatan untuk mengenyam pendidikan, merasakan kesempatan-kesempatan yang lebih biak dibanding mereka? Apakah kita masih bersyukur? Apakah kita masih mengeluh? Dan apakah kita juga telah berbagi kebahagiaan yang kita miliki dengan mereka?

“Perumpamaan orang yang menginfakan hartanya di jalan Allah, adalah seumpama biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai berisi seratus biji. Dan Allah melipatgandakan (balasan) bagi siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas karuniaNYA lagi Maha Terpuji.” 
(QS. Ali Imran: 261)

Karena Berbagi tak akan rugi. 
Ramadhan Kareem.



Minggu, 07 Mei 2017

Untung kamu cantik!


Pernah nemu Meme di media sosial dengan gambar seorang laki-laki berbadan tegap kulit putih, hidung mancung, memakai pakaian rombeng-rombeng dengan tulisan "Orang ganteng (cantik) mah bebas". Cerita ke-2 beberapa minggu yang lalu aku berada disalah satu tempat pelayanan publik dan aku nggak sengaja ngelakuin kesalahan. Yup! Aku panik. Alhamdulillah aku ditolongin sama beberapa bapak-bapak dan mas-mas disana. Ketika itu masnya nyeletuk, "Duh... mbak makanya hati-hati, untung aja kamu cantik!" Heran! Laah? Apa nyambungnya kesalahan yang aku buat dengan cantik?! Aku disini gak akan bahas tentang cantik atau tidak cantik, tapi tentang bagaimana sikap danpersepsi kita terhadap cantik/ganteng itu sendiri. Dari kalimat mas-mas tadi seolah masnya tadi mau bilang, karena kamu cantik jadi ada yang nolong, karena kamu cantik jadi nggak apa-apa kamu ngelakuin kesalahan ini, atau karena kamu cantik, yaa setidaknya kamu punya 'kelebihan lah' meski kamu ngelakuin kesalahan. Maybe kalian bakal bilang, "Lebay! Ah, kamu aja yang sensi fa..." Jadi gini, akui saja kita seringkali lebih mementingkan kulit daripada isi, bukan? Padahal hakikat berada pada isi, pada esensi bukan eksistensi.

Cantik. Menurut KBBI cantik1/can·tik/ a 1 elok; molek (tentang wajah, muka perempuan); 2 indah dalam bentuk dan buatannya: meja ini -- sekali;
-- molek 1 sangat rupawan (tentang orang perempuan); 2 cantik (bagus) sekali (antara bentuk, rupa, dan lainnya tampak serasi). Lihat, kita hanya mampu mendefinisikan cantik hanya dengan cirinya saja, eksistensinya saja bukan esensinya. Cantik itu yang memiliki tubuh yang semampai, langsing, kulit putih, bibir yang merah, hidung mancung dan lain sebagainya. Lalu jika seseorang yang tidak masuk dalam kriteria itu dan dianggap tidak cantik, Jika begitu salahkan Tuhan yang menciptakan dong?! Ah, bodoh dan naif sekali jika kita berfikir cantik hanya sebatas itu, padahal definisi dan teori itu tentatif!

Kita sering membuat sekat-sekat atas apa yang kita fikirkan sendiri. Padahal esensi dari cantik itu lebih agung daripada itu semua. Kadang pengertian memberikan batasan-batasan dan paksaan-paksaan yang mengaburkan, bahkan menghilangkan substansi-substansi yang paling penting. kitalah yang sering terjebak dengan nilai-nilai semu. Membeli cream kecantikan yang begitu mahal, diet ketat bagaikan momok tapi hharus dijalankan agar tubuh ideal bak artis hollywood dan bollywood, rela oprasi untuk hidung yang mancung mempesona. Bahkan masyarakat kita sendiripun lagi-lagi yang paling dinilai adalah fisik, kulit! lihat saja bagaimana jika kita betemu yang dijadikan basa-basi adalah fisik "eh, kok kamu gendutan yaa sekarang", "Eh kok kamu banyak jerawatnya.."Iya kalau orang diajak bicara memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan tidak peduli dengan semua omong kosong itu, bagaimana jika dia seorang yang sensitif dan tidak mempunyai kepercayaan diri kronis?! Mungkin dari sini kita bisa merubahnya, dari hal kecil. Sebelum kita merubah mindset, kita bisa merubah kebiasaan kita untuk tidak berbasa-basi dengan fisik. Bukankah lebih baik jika kita berkata, "Apa kabar? Besok kita ke gym bareng yuk" daripada bilang "Kamu kok gendutan yaa". Lebih solutif dan ramah untuk didengar. Bagaimana perasaanmu jika kamu dikatakan tidak cantik? Mau mengutuk Tuhan yang meniptakan? Itu kejahatan kita. Kita telah menciptakan batasan-batasan yang diskriminatif!

Jadi maksud kamu fa, kita ga perlu pake make up? Gak perlu diet dan olah raga biar body oke? Bukan! Bukan seperti itu. Cintai diri kamu sendiri, tak perlu ikuti apapun persepsi dan kesadaran yang keliru. Persepsi bahwa cantik adalah yang seperti artis korea atau super model dunia. Atau cantik itu mengikuti tren yang ada, padahal tanpa sadar kapitalis menuggangi dibelakangnya. Silahkan bermake up tapi jadikan itu sebagai salah satu wujud dari menjaga dan menghargai karunia yang Allah berikan kepada kita. Bukankah makan secukupnya dan olah raga yang tertur juga baik untuk kesehatan tubuh kita?

Setiap wanita diseluruh dunia ini cantik dan memiliki kecantikannya sendiri-sendiri. Hanya saja, terkadang dialah yang tidak memahami dan menyadari kecantikannya. Atau mungkin tidak ada perempuan cantik didunia ini? Sebab cantik begitu relatif. Yang ku tahu, cantik itu berada jiwa, hati, pikiran dan tubuh itu sendiri.

Rabu, 03 Mei 2017

Apa kabar?

Aku berkisah kepada seorang teman yang bertanya tenang kabar, tentang dia, dan kamu yang dulu menjadi sebuah perbincangan.
Ah yaa, apa kabar kamu disana? Rasanya menyapamu seperti ini menyiratkan seolah tulisan ini sebuah roman picisan yang belum menemukan akhir dan membutuhkan sebuah jawaban.
kamu tahu, apa yang aku ceritakan jika temanku bertanya tentangmu?
Jawabku bukan kamu, sungguh tak akan habis bila itu tentangmu. 

Aku berkisah tentang jarak. Tentang kemana seharusnya kaki-kaki kita dilangkahkan, tentang bagaimana seharusnya kisah kita dituliskan.
Aku juga berkisah tentang tanya dan harus kita pula yang menjawabnya. Pertanyaan itu aku mulai dengan jawabanmu kala aku memanggilmu. "Apa?", itu jawabmu dan itu juga menjadi pertanyaanku.
Apa ini seharunya?
Apa ini saatnya?
Apa ini benar adanya?
Maafkan aku yang tak mau terkunggung dalam tanya.
Maafkan aku yang memilih pergi melihat dunia, membuka mati, hati dan rasa...
Akan ku temukan jawaban itu, bersama kaki yang terus melangkah, bersama bahagia dan lara.
Dan cerita ini, ku akhiri bukan dengan bagaimana, kapan, dan mengapa, tapi cukup dengan apa.
Apa kabarmu disana? Meski tanpa suara. Cukup.

Semesta bicara tanpa bersuara
Semesta kadang buta aksara
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugrah

Semeta bergulir tak kenal aral
Seperti langkah-langkah menuju kaki langit
Seperti genangan akankah bertahan 
Atau perlahhan menjadi lautan

Seperti hadirmu dikala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari

-Hujan di Mimpi. Banda Neira

Minggu, 30 April 2017

Kapan??

Semalem baca digrup alumni SMA ku dulu, ada salah satu teman yang memposting gambar undangan pernikahan, bukan undangan nikahan dia tapi punya adek kelas yang jauh dibawah kita. Hingga akhirnya diujung postingan itu terkutip kata yang menyiratkan kata "aku kapan yaa?".

Nikah, tema ini emang gak pernah habis buaat diobrolin di usia-usia 20an kayak aku sekarang. Entah hanya sebuah candaan, hanya basa-basi untuk memulai obrolan, hingga serius menjadi sebuah pembahasan.
Aku yakin setiap orang punya masanya dan momentnya sendiri-sendiri. Gak harus yang tua nikah duluan atau sebaliknya karena yang aku yakini jodoh, rejeki, dan mati sudah Ia tuliskan sejak manusia belum lahir di dunia. Entah kapan dan bagaimana kita tak pernah tau ia akan datang, tugas kita hanya mengikhtiyarkan. 

Tak ada yang salah memang jika orang lain mulai bertanya "kapan nikah?" atau "Calonnya mana nih?" dan lain sebagainya, karena di society kita yang memanganggp bahwa kita sudah selayaknya menikah. Padahal gak ada kan yang bilang kalau kamu cewek usia 25 tahun harus udah nikah!  Buat kamu yang sering ditanyain tentang ini sama mereka keep clam sob, sampai kamu tua pun akan selalu ada pertanyaan pertanyaan yang akan mereka pertanyakan. Kamu udah nikah bakal ditanya kapan punya anak? udah punya anak akan ditanya kapan punya rumah? udah punya rumah akan ditanya kapan punya mobil, gitu aja terus sampai kamu meninggal. Bahkan ketika meninggalpun kamu akan ditanyai malaikat juga kan?

Tapi apapun itu, kitalah yang paling mengerti keadaan dan kondisi yang kita alami saat ini sekarang, dan kita sendiri jugalah yang bisa mengatur bagaimana kita menerima setiap pertanyaan yang datang. Akankah kita menjadi rendah hati atau berlapang hati, kita sendiri yang bisa mengendalikan. Mungkin kamu punya prioritas sendiri yang harus kamu utamakan atau ada kesulitan yang harus kamu selesaikan. lagipula siapa sih yang tidak pengen nikah? menemukan pasangan hidup yang akan menemani sampai tua nanti.

Jadi menurutku, kita gak perlu memaksakan dan mendengarkan setiap penilaian orang. Cukup persiapkan diri kamu aja untuk apapun yang ingin kita raih dan hadapi nanti. Dan untuk kalian yang sering bertanya kapan, pahamilah bahwa mereka yang kau tanyai pasti punya alasan, jika ingin bertanya pastikan kamu punya solusi dan bertanya dengan sebaik-baiknya sikap dan pertanyaan...

Hallo May!

Welcome May!
Mari kita mulai may ini dengan suatu yang baik, karena jika kita menginginkan hasil yang baik di akhirnya kita mulai dengan suatu yang baik pada awanya...
Apa rencanamu di bulan mei ini?
Mari kita persiapkan sebaik-baiknya... 
Apa capaian yang ingin kamu raih?
Mari kita jaga semangat kita untuk meraihnya...
Adakah problem yang belum terelesaikan? 
Mari kita selesaikan sedikit demi sedikit dengan hati yang lebih terbuka.... 
Adakah penyesalan yang masih tertinggal?
Mari kita perbaiki yang bisa kita perbaiki, tak ada kata terlambat untuk memulai lagi...

Welcome May!
Kami tak menyambutmu, kami hanya ingin mengingatkan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi...
Bahwa waku yang ada begitu teramat berharga, bahwa banyak kesemptan yang tak boleh terlewat sia-sia..
Tak melupakan april lalu, hanya belajar menerima dan memperbaiki  apapun yang telah kita goreskan...
Mengingatkan kembali bahwa meski masa lalu tlah terjadi, namun kita masih memiliki hari ini...